Rabu, 29 April 2009


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM I

ACARA

PENGENCERAN LARUTAN


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

PENDAHULUAN


 

1.1 Tujuan Pengenceran

    Menurunkan pH atau kadar larutan untuk mencapai pH tertentu sesuai dengan yang diinginkan.


 

1.2 Dasar teori

Melalui proses pengenceran, kepekatan larutan akan berkurang sesuai dengan volume akuades yang ditambahkan. Setelah pengenceran, kepekatan larutan menjadi lebih kecil dibandingkan volume sebelumnya. Dengan kata lain, pengenceran dimaksudkan untuk mengubah kepekatan suatu larutan, dari larutan yang pekat menjadi larutan yang kurang pekat. Pengerceran menggunakan rumus :


 

    V1 . N1 = V2 . N2


 

V1    =    Volume Awal

V2    =    Volume Akhir

N1    =    Normalitas Awal

N2    =    Normalitas Akhir


 


 

1.3 Alat Dan Bahan

1. Alat    

  • Labu Takar
  • Gelas Becker
  • Pipet Gondok
  • Pipet Tetes
  • Pipet Takar
  • Corong


     

2. Bahan

  • HCl 0,5 N
  • KMnO4 0,1 N
  • NaOH 0,1 N
  • H2SO4 3 M
  • Aquades


 

1.4 Prosedur Kerja

    

  1. Setelah menghitung volume larutan yang akan diambil, ambil larutan yang akan diencerkan dengan menggunakan pipet ukur atau pipet gondok (untuk medapatkan larutan dengan tingkat ketelitian tinggi sebaiknya gunakan pipet gondok)
  2. Setelah itu masukkan larutan tadi dalam labu takar sesuai dengan volume yang diperlukan (100) ml, untuk larutan yang bersifat eksotermis masukkan terlebih dahulu aquades ±10 ml untuk mencegah larutan terciprat keluar.
  3. Kemudian tambahkan aquades hingga mencapai garis pada labu yang berbentuk cincin.
  4. Gojog larutan yang telah dicampurkan tersebut hingga benar-benar tercampur dengan sempurna (homogen).
  5. Lakukan langkah yang sama seperti di atas untuk setiap larutan.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II
Praktikum


 

  1. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


 

No 

Nama Larutan 

Konsentrasi Sebelum Pengenceran 

Volume yang Diperlukan 

Konsentrasi Setelah Pengenceran 

Volume Akhir 

1 

HCl

0,5 N 

2 mL 

0,01 N 

100 mL 

2 

KMnO4

0,1 N 

10 mL 

0,01 N

100 mL 

3 

NaOH

0,1 N 

10 mL 

0,01 N

100 mL 

4 

H2SO4

3 N

33,3 mL 

1 N

100 mL 


 

    

    Data Sampel :

  1. HCl 0,5 N diencerkan menjadi 0,01 N sebanyak 100 ml
  2. KMnO4 0,1 N diencerkan menjadi 0,01 N sebanyak 100 ml
  3. NaOH 0,1 N diencerkan menjadi 0,01 N sebanyak 100 ml
  4. H2SO4 3M diencerkan menjadi 1M sebanyak 100 ml

        

    2.2 Perhitungan


     

    1. Dik : N1 = 0,5 N, N2 = 0,01 N, V2 = 100 ml

        Dit : V1...?

        Jawab :

            V1 . N1 = V2 . N2

            V1 . 0,5 = 100 . 0,01    

            V1 = 2 ml


     


     

    2. Dik : N1 = 0,1 N, N2 = 0,01 N, V2 = 100 ml

        Dit : V1...?

        Jawab :

        V1 . N1 = V2 . N2

            V1 . 0,1 = 100 . 0,01    

             V1 = 10 ml

    3. Dik : N1 = 0,1 N, N2 = 0,01 N, V2 = 100 ml

        Dit : V1...?


     

        Jawab :

        V1 . N1 = V2 . N2

            V1 . 0,1 = 100 . 0,01    

             V1 = 10 ml

    4. Dik : N1 = 3 M, N2 = 1 M, V2 = 100 ml

        Dit : V1...?    

        Jawab :

        V1 . N1 = V2 . N2

            V1 . 3 = 100 . 1    

            V1 = 33,33 ml


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    BAB III
    Penutup


     


     

    3.1 Kesimpulan


     

    1. Volume yang diperlukan untuk membuat HCl 0,01 N yang diencerkan senbanyak 100 ml dengan normalitas 0,5 N adalah 2 mL
    2. Volume yang diperlukan untuk membuat KmnO4 0,01 N yang diencerkan senbanyak 100 ml dengan normalitas 0,1 N adalah 10 mL
    3. Volume yang diperlukan untuk membuat NaOH 0,01 N yang diencerkan senbanyak 100 ml dengan normalitas 0,1 N adalah 10 mL
    4. Volume yang diperlukan untuk membuat H2SO4 1 N yang diencerkan senbanyak 100 ml dengan normalitas 3 N adalah 10 mL


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    PRAKTIKUM II

    ACARA

    PENGENALAN INDIKATOR


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    BAB I

    Pendahuluan


     

    1.1 Tujuan

    1. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan titrasi asam basa.
    2. Untuk mengukur volume titran yang diperlukan agar bereaksi secara tepat dengan larutan titrat.
    3. Menentukan normalitas larutan titrat.
    4. Mengenal perubahan warna indikator pH yang digunakan.
    5. Mengamati perubahan yang terjadi pada titik akhir titrasi.

    1.2 Dasar Teori

            Titrasi adalah cara analisis yang memungkinkan kita untuk megukur jumlah yang pasti dari suatu larutan dengan mereaksikan dengan suatu larutan yang konsentrasinya diketahui. Analisis semacam ini menggunakan pengukuran volume larutan pereaksi disebut analisis volumemetri. Pada titrasi salah satu larutan dimasukkan kedalam buret atau disebut dengan titran, sedangkan larutan lainnya dimasukkan dalam labu erlenmeyer yang disebut dengan titrat. Larutan titran dicampurkan dengan titrat sampai seluruh reaksi selesai yang dinyatakan dengan perubahan warna indikator pH, yang merupakan suatu zat yang pada umumnya ditambahkan kedalam larutan titrat dan mengalami semacam perubahan warna. Perubahan warna menandakan bahwa reaksi telah selesai dan merupakan titik akhir titrasi, kemudian volume titran yang telah digunakan dicatat.

        Salah satu reaksi yang sering digunakan dalam titrasi adalah reaksi netralisasi asam basa. Biasanya, sebagi larutan asam diletakkan dalam labu erlenmeyer. Indikator pH yang digunakan merupakan suatu zat yang mempunyai warna yang berlainan dalam keadaan asam ataupun basa. Misalnya, lakmus yang berwarna merah dalam keadaan asam dan dalam keadaan basa akan beerwarna biru. Indikator lain yang sering digunakan adalah fenolftalein, yang dalam suasana asam tidak berwarna dan berwarna merah muda dalam keadaaan basa.


     


     

    1.3 Alat Dan Bahan

    Alat :

  • Labu takar
  • Labu Erlenmeyer ukuran 250
  • Gelas becker
  • Buret
  • Corong
  • Pipet tetes
  • Pipet gondok ukuran 10 ml
  • Propipet
  • Kertas saring
  • Kompor listrik
  • Gelas arloji
  • Botol semprot
  • Kain lap
  • Timbangan analisis
  • Termometer
  • Statif dan klem


 

Bahan :

  • Larutan HCl 0,1 N
  • Larutan NaOH 0,1 N
  • Larutan Na2CO4
  • Indikator MO (Metil Orange)
  • Indikator PP (fenolftalein)
  • Larutan NaOH (titrat)
  • Larutan asam asetat (CH3COOH)
  • Larutan KMnO4
  • 630 mg asam oksalat (H2C2O4)
  • Larutan H2SO4
  • Aquades


 

1.4 Prosedur Kerja


 

Acara I : Titrasi Antara Na2CO3
...N dengan HCL 0,1 N - Indikator MO

  1. Masukkan10 ml larutan Na2CO3 ke dalam erlenmeyer sebagai larutan titrat.
  2. Tambahkan indikator MO 2-3 tetes ke dalam tabung elenmeyer
  3. Amati perubahan warna larutan yang terjadi setelah diberi indikator MO
  4. Masukkan larutan HCl 0,1N dalam buret sebagai larutan titran. Usahakan larutan diisi dengan ukuran yang tepat sehingga akan memudahkan proses pencatatan volume yang digunakan dalam proses titrasi.
  5. Lakukan titrasi larutan dengan meneteskan titran ke dalam titrat. Teteskan larutan titran secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya pencampuran titran yang terlalu berlebihan karena akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam perhitungan volume titran yang diggunakan dalam proses titrasi.
  6. Tepat setelah terjadinya perubahan warna segera hentikan proses titrasi karena perubahan warna mengindikasikan bahwa proses titrasi telah selesai.
  7. Catat volume titran yang telah digunakan.
  8. Amati perubahan warna yang terjadi setelah proses titrasi selesai.
  9. Ulangi lagi proses titrasi tersebut dengan anggota kelompok yang lain.
    1. Hitung rata-rata volume titran yang digunakan antara percobaan pertama dengan kedua.


 

Acara II : Titrasi antara NaOH ...N dengan HCl 0,1N - Indikator PP

  1. Masukkan10 ml larutan NaOH ke dalam erlenmeyer sebagai larutan titrat.
  2. Tambahkan indikator PP 2-3 tetes ke dalam tabung elenmeyer
  3. Amati perubahan warna larutan yang terjadi setelah diberi indikator PP
  4. Masukkan larutan HCl 0,1N dalam buret sebagai larutan titran. Usahakan larutan diisi dengan ukuran yang tepat sehingga akan memudahkan proses pencatatan volume yang digunakan dalam proses titrasi.
  5. Lakukan titrasi larutan dengan meneteskan titran ke dalam titrat. Teteskan larutan titran secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya pencampuran titran yang terlalu berlebihan karena akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam perhitungan volume titran yang digunakan dalam proses titrasi.
  6. Tepat setelah terjadinya perubahan warna segera hentikan proses titrasi karena perubahan warna mengindikasikan bahwa proses titrasi telah selesai.
  7. Catat volume titran yang telah digunakan.
  8. Amati perubahan warna yang terjadi setelah proses titrasi selesai.
  9. Ulangi lagi proses titrasi tersebut dengan anggota kelompok yang lain.
  10. Hitung rata-rata volume titran yang digunakan antara percobaan pertama dengan kedua.


 

Acara III : Titrasi CH3COOH ...N dengan NaOH 0,1N - Indikator PP

  1. Masukkan10 ml larutan CH3COOH ke dalam erlenmeyer sebagai larutan titrat.
  2. Tambahkan indikator PP 2-3 tetes ke dalam tabung elenmeyer
  3. Amati perubahan warna larutan yang terjadi setelah diberi indikator PP
  4. Masukkan larutan NaOH 0,1N dalam buret sebagai larutan titran. Usahakan larutan diisi dengan ukuran yang tepat sehingga akan memudahkan proses pencatatan volume yang digunakan dalam proses titrasi.
  5. Lakukan titrasi larutan dengan meneteskan titran ke dalam titrat. Teteskan larutan titran secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya pencampuran titran yang terlalu berlebihan karena akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam perhitungan volume titran yang digunakan dalam proses titrasi.
  6. Tepat setelah terjadinya perubahan warna segera hentikan proses titrasi karena perubahan warna mengindikasikan bahwa proses titrasi telah selesai.
  7. Catat volume titran yang telah digunakan.
  8. Amati perubahan warna yang terjadi setelah proses titrasi selesai.
  9. Ulangi lagi proses titrasi tersebut dengan anggota kelompok yang lain.
  10. Hitung rata-rata volume titran yang digunakan antara percobaan pertama dengan kedua.


 


 


 

Acara IV : Titrasi Asam Oksalat(C2H2O4) dan
H2SO4 dengan KMnO4


 

  1. Timbang asam oksalat sebanyak 630 mg
  2. Membuat larutan dengan mencampurkan asam oksalat tersebut menggunakan aquades sebanyak 100 ml.
  3. Masukkan larutan tersebut kedalam labu takar ukuran 100 ml.
  4. Ambil 10 ml larutan tersebut dan masukkan ke dalam labu erlenmeyer sebagai larutan titrat.
  5. Tambahkan 10 ml larutan H2SO4 ke dalam larutan asam oksalat tersebut dan panaskan pada kompor listrik hingg mencapai suhu 70 oC.
  6. Masukkan larutan KMnO4 ke dalam buret sebagai titran. Usahakan larutan diisi dengan ukuran yang tepat sehingga akan memudahkan proses pencatatan volume yang digunakan dalam proses titrasi.
  7. Lakukan titrasi larutan dengan meneteskan titran ke dalam titrat. Teteskan larutan titran secara perlahan-lahan untuk mencegah terjadinya pencampuran titran yang terlalu berlebihan karena akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam perhitungan volume titran yang digunakan dalam proses titrasi.
  8. Tepat setelah terjadinya perubahan warna segera hentikan proses titrasi karena perubahan warna mengindikasikan bahwa proses titrasi telah selesai.
  9. Catat volume titran yang telah digunakan.
  10. Amati perubahan warna yang terjadi setelah proses titrasi selesai.
  11. Ulangi lagi proses titrasi tersebut dengan anggota kelompok yang lain.
  12. Hitung rata-rata volume titran yang digunakan antara percobaan pertama dengan kedua.


     


 


 


 


 


 


 

BAB II

Praktikum

2.1 Data dan Hasil Pengamatan

No. 

Acara 

Titrat 

Titran 

Volume 

Indikator

Pengamatan Warna Larutan 

Titran 

Awal 

Akhir 

1. 

Na2CO3

HCL 

1. 4,5 ml 

MO 

Oranye 

Merah muda 

  

  

  

  

2. 4,5 ml 

  

  

  

  

  

  

  

x = 9/2 ml

  

  

  

  

  

  

  

= 4,5 ml

  

  

  

2.  

II 

NaOH 

HCL 

1. 8,6 ml 

PP 

Ungu 

Kemerahan kemudian bening

  

  

  

  

2. 8,5 ml

  

  

  

  

  

  

  

x = 17,1/2 ml 

  

  

  

  

  

  

  

= 8,55 ml 

  

  

  

III 

CH3COOH

NaOH 

1. 7,9 ml 

PP 

Bening 

Keunguan 

  

  

  

  

2. 7,8 ml 

  

  

  

  

  

  

  

x = 15,7/2 ml 

  

  

  

  

  

  

  

= 7,85 

  

  

  

4. 

IV 

C2H2O4+H2SO4

KMnO4

1. 12,3 ml 

  

Bening  

Merah muda

  

  

  

  

2. 12,2 ml 

  

  

  

  

  

  

  

x = 24,5/2 ml 

  

  

  

  

  

  

  

= 12,25 ml 

  

  

  


 


 


 


 


 


 

2.2 Perhitungan :

Diketahui :

N1 = konsentrasi titrat

V1 = volume titrat

N2 = konsentrasi titran

V2 = volume titran


 

Rumus Perhitungan : N1
. V1 = N2
. V2

Acara I : Titrasi Antara Na2CO3
...N dengan HCL 0,1 N - Indikator MO

V1 = 10 ml, V2= 4,5 ml, N2 = 0,1 N

N1 =………?

V1 . N1 = V2 . N2

10 . N1 = 4,5 . 0,1

N1 = 0,045 N

Jadi konsentrasi larutan Na2CO3 adalah 0,045 N

Acara II : Titrasi antara NaOH ...N dengan HCl 0,1N - Indikator PP

V1 = 10 ml, V2 = 8,55 ml, N2 = 0,1 N

N1 =………?

V1 . N1 = V2 . N2

10 . N1 = 8,55 . 0,1

N1 = 0,0855 N

Jadi konsentrasi larutan NaOH adalah 0,0855 N


 

Acara III : Titrasi CH3COOH ...N dengan NaOH 0,1N - Indikator PP

V1 = 10 ml, V2= 7,85 ml, N2 = 0,1 N

N1 =………?

V1 . N1 = V2 . N2

10 . N1 = 7,85 . 0,1

N1 = 0,0785 N

Jadi konsentrasi larutan CH3COOH adalah 0,0785 N


 

Acara IV : Titrasi Asam Oksalat(C2H2O4 ) dan
H2SO4 dengan KMnO4


 

mC2H2O4    = 630 mg

Faktor pengenceran (fp)    = 100/10

    = 10

Berat setara (Bst)    = 63

V C2H2O4    = 12,25 ml

N KMnO4    = 0,081 N

Jadi konsentrasi larutan KMnO4 adalah 0,081 N


 

2.2 Pembahasan

    Berakhirnya reaksi titrasi ditandai dengan pergantian atau perubahan warna indikator. Untuk titrasi asam kuat dengan garam, larutan dengan indikator MO akan berubah warna, yaitu dari oranye menjadi merah muda. Sedangkan untuk larutan asam dengan basa yang menggunakan indikator PP, larutan yang awalnya berwarna ungu, setelah akhir titrasi akan berubah menjadi kemerahan dan berikutnya menjadi tidak berwarna atau bening. Konsentrasi atau normalitas larutan titrat dapat dicari dengan menggunakan perhitungan sebagai berikut :

    N1
. V1 = N2
. V2

        Dimana N1 merupakan konsentrasi titrat V1 volume titrat dan N2 merupakan konsentrasi titran, V2 merupakan volume titran.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

Penutup


 

  1. Kesimpulan


 

  1. Konsentrasi larutan Na2CO2 larutan adalah 0,045 N. Perubahan warna yang terjadi pada titrasi menggunakan titran HCL dan indikator MO adalah berwarna merah muda
  2. Konsentrasi larutan NaOH larutan adalah 0,0855 N. Perubahan warna yang terjadi pada titrasi menggunakan titran HCL dan indikator PP adalah berwarna merah sindur
  3. Konsentrasi larutan CH3COOH larutan adalah 0,0785 N. Perubahan warna yang terjadi pada titrasi menggunakan titran HCL dan indikator PP adalah berwarna keunguan.
  4. Konsentrasi larutan KMnO4 larutan adalah 0,081 N. . Perubahan warna yang terjadi pada titrasi menggunakan titran HCL dan indikator PP adalah berwarna merah muda.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM III

ACARA

ALKALIMETRI


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I
Pendahuluan


 


 

1.1 TUJUAN

  1. Menentukan normalitas larutan NaOH
  2. Menentukan kadar asam asetat (CH3COOH) dalam larutan asam asetat
  3. untuk mengetahui cara-cara atau langkah-langkah yang benar dalam menentukan normalitas suatu larutan maupun menentukan kadar zat terlarut yang melalui titrasi asam-basa


 

1.2 DASAR TEORI

    Asidimetri dan alkalimetri adalah analisa kuantitatif volumetri berdasarkan reaksi netralisasi. Keduanya dibedakan pada larutan standarnya. Pada asidimetri, dipakai asam sebagai larutan standarnya. Analisa tersebut dilakukan dengan cara titrasi. Pada titrasi basa terdapat asam bebas, sebagai hasil akhir diperoleh suatu garam.

    NaOH(aq) + CH3COOH(aq )      NaCH3COO(aq) + H2O

    Pada titrasi asam asetat dengan NaOH sebagai laruta standar akan dihasilkan garam yang berasl dari asam lemah dan basa kuat, yaitu natrium asetat, yang akan terhidrolisa dalam larutan sebagai berikut :

    CH3COOH(aq) + H2O      CH3COOH + NaOH

Dapat dilihat bahwa hidrolisa adalah suatu reaksi setimbang.

    Lain halnya pada titrasia asam kuat dengan basa kuat atau sebaliknya, keduanya merupakan elektrolit kuat. Di sini akan dihasilkan garam yang tak terhidrolisa, taitu garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat. Pada titrasi asam asetat dengan NaOH, sebagian asam dan basanya tertinggal di dalam larutan.

    Pada titik ekuivalen, banyaknya asan asetat dan NaOH bebas dan sama, tetapi asam asetat termasuk elektrolit lemah yang terionisasi sedikit, sehingga labih banyak tertinggal sebagai molekul CH3COOH atau sangat sedikit ion H+ yang dibebaskan. Basa bebasnya, yaitu NaOH, merupakan elektrolit kuat yang hampir terionisasi sempurna, sehingga akan didapatkan sejumlah besar ion hidroksil (OH-) dalam larutan. Jadi, jelas bahwa titrasi akan berakhir pada pH lebih besar dari 7. Reaksi ion hidrolisa CH3COONa ialah :

CH3COO- + H2O      CH3COOH + OH-

Dapat dilihat berdasarkan reaksi di atas bahwa larutan bersifat alkalis.

Indikator

    Indikator dalam reaksi netrakisasi adalah indikator yang dipakai pada asidialkalimetri. Indikator ini dapat dinamakan indikator pH, karena warnanya dapat berubah sesuai perubahan pH. Suatu indikator pH memiliki perubahan warna yang khas pada daerah pH tertentu. Titrasi CH3COOH dengan NaOH menggunakan indikator tersebut. Dalam hal ini, jelas harus diketahui pH untuk setiap perubahan reaksi. Selanjutnya dapat dipilih indikator yang sesuai dengan melihat grafik volume pereaksi (ml) vs pH.

    Pada analisa CH3COOH dalam cuka, zat lain hanya merupakan zat pengotor. Analisa dijalankan dengan menitrasi CH3COOH dengan larutan NaOH standar.

    CH3COOH(aq) + NaOH(aq)     CH3COOH(aq) + H2O

Gram ekuivalen dari CH3COOH dapat dihitung :

    Grek CH3COOH = VNaOH x NNaOH

    Di mana NNaOH = normalitas NaOH

    VNaOH = volume NaOH yang dibutuhkan untuk menetralkan semua asam.

    Karena 1 grek CH3COOH = 1 grl, maka :

    Berat CH3COOH (gram) = grek CH3COOH x BM CH3COOH


 

1.3 BAHAN DAN ALAT

Bahan :

  • NaOH padatan
  • Asam oksalat padatan
  • Indikator PP
  • Asam cuka makan
  • Aquades


 

Alat :

  • Buret
  • Statif dan klem
  • Gelas becker
  • Labu takar (labu ukur)
  • Pipet tetes
  • Pipet gondok
  • Labu erlenmeyer
  • Botol semprot
  • Corong
  • Timbangan analisis
  • Gelas arloji
  • Sudip
  • Lap kain


 


 

1.4 PROSEDUR KERJA

Acara I : Penentuan Normalitas NaOH

  • Timbang NaOH sebanyak 1 gr.
    • Larutkan NaOH dalam labu ukur 250 ml sampai volume 250 ml.
    • Masukkan larutan tersebut ke dalam buret sebagai larutan titran.
    • Timbang asam oksalat sebanyak 630 mg.
    • Larutkan dalam labu ukur 100 ml hingga 100 ml.
    • Pipet 25 ml larutan asam oksalat ke dalam erlenmeyer sebagai larutan titrat dan tambahkan indikator PP.
    • Lakukan titrasi asam oksalat asam oksalat dengan NaOH.
    • hentikan titrasi ketika terjadi perubahan warna
    • Catat volume NaOH yang digunakan.


     


     


     

    Acara II : Penetuan kadar asam asetat dalam cuka makan :

  1. Pipet 10 ml cuka dan masukkan dalam labu takar.
  2. Encerkan cuka tersebut dengan air suling (aquades) sampai volume 100 ml.
  3. Pipet cuka yang telah diencerkan sebanyak 25 ml dan masukkan ke dalam erlenmeyer 250 ml sebagai larutan titrat lalu lalu ditambah 2 tetes indikator PP.
  4. Titrasi larutan asam cuka dengan titran NaOH yang telah dibuat.
  5. Hentikan titrasi begitu terjadi perubahan warna.
  6. Catat volume NaOH yang digunakan.
  7. Tentukan kadar asam asetat dalam larutan tersebut dengan persamaann sebagai berikut :

     VNaOH + NNaOH + Bst Asam asetat

Kadar asam asetat =     Volume contoh


 

Keterangan :

  • Volume contoh : Volume cuka yang diambil pertama kali sebelum diencerkan.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

Praktikum


 

2.1 HASIL dan PERHITUNGAN

Data dan Hasil Pengamatan :

No 

Acara 

Larutan Titran 

Larutan Titrat 

Volum Titran (x) 

Pengamatan 

1 

I 

NaOH 

Asam oksalat + PP 2 tetes 

1. 25,5 ml

2.25,3 ml

3.25,6 ml+

76,4 ml : 3 x=25,4 ml

Pada proses titrasi ini terjadi perubahan warna, dari warna bening menjadi warna merah muda.

2 

II 

NaOH 

Asam asetat + PP 2 tetes 

1. 17 ml

2. 17 ml

3. 17,5 ml+

52 ml : 3

x= 17,3 ml

Pada proses titrasi ini terjadi perubahan warna, dari warna bening menjadi merah muda.

2. Hasil Perhitungan

1) Dik    : mg oksalat     = 630,3 mg

     V NaOH     = 25,4 ml

     Bst asam asetat = 63

Dit    : N NaOH……..?

Jwb : N NaOH =

         =

= 0.098 N

        

  • Jadi normalitas NaOH adalah 0,098 N.


 

2) Dik    : V NaOH = 17,3 ml

     Bst asam asetat = 60

     V asam asetat = 10 ml

Dit    : Kadar asam asetat ( CH3COOH)….?

Jwb    :

     =

     =

     = 254 x 10-1 % = 25,4 %


 

  • Jadi cuka makan tersebut mengandung 25,4 % asam asetat.


 

2.2 Pembahasan

        Pada proses standarisasi NaOH menggunakan asam oksalat sebagai titrat. Asam oksalat yang sudah diencerkan diambil 25 ml kemudian ditetesi indikator PP menjadi berwarna bening, kemudian dititrasi dengan larutan basa yaitu NaOH. Pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna dari bening menjadi berwarna merah muda yang menandakan larutan telah bersifat netral atau basa. Volume rata-rata NaOH yang digunakan dalam titrasi ini adalah 25,4%. Besar volume ini digunakan untuk menentukan normalitas NaOH, yang menurut perhitungan adalah sebesar 0,098 N.

        Pada proses penentuan kadar asam cuka, digunakan titrasi yang melibatkan larutan NaOH yang telah distandarisasi sebagai titran, dan asam cuka sampel sebagai titrat, dengan penambahan indikator PP. Pada mulanya larutan titrat berwarna bening, kemudian setelah dititrasi dan mencapai titik akhir, maka terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Volume rata-rata NaOH yang digunakan untuk titrasi adalah 17,3 ml. dari volume tersebut digunakan untuk menentukan kadar asam asetat yang terkandung dalam sampel, yang menurut perhitungan yaitu sebesar 25,4 %.


 

  1. Reaksi-reaksi

Reaksi-reaksi yang terjadi adalah:

2 NaOH + H2C2O4     2 NaCO2 + 2H2O

NaOH + CH3COOH     CH3COOH +H2O


 

    

BAB III
Penutup


 

  1. Kesimpulan
  • Perubahan warna yang terjadi pada titrasi standarisasi larutan NaOH dengan menggunakan titrat asam oksalat adalah dari berwarna bening menjadi berwarna merah muda
  • Normalitas NaOH yang digunakan untuk titrasi adalah sebesar 0,098 N
  • Perubahan warna yang terjadi pada titrasi penentuan kadar Natrium hidrogen Karbonat adalah dari berwarna bening menjadi berwarna merah muda
  • Kadar asam asetat dalam sampel adalah 25,4 %


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM IV

ACARA

ACIDIMETRI


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

Pendahuluan

1.1 TUJUAN

  • Membuat larutan HCl 0,1 N.
  • Menetukan normalitas HCl 0,1 N menggunakan Dinatrium Tetra Borak (Na2B4O7.10H2O).
  • Menetukan normalitas NaHCO3 dalam Bikarbonat.


 

1.2 DASAR TEORI


 

    Asam klorida (HCl) merupakan asam kuat yang berbentuk cair dan biasanya mempunyai kadar 39,1 % dan density 1,2 g/ml. HCl digunakan pada titrasi netralisasi, yaitu suatu proses yang tidak mengakibatkan terjadinya perubahan, baik perubahan valensi maupun terbentuknya endapan dan atau terjadinya suatu senyawa kompleks dari zat-zat yang saling bereaksi.

    Larutan standar HCl biasanya dinyatakan dengan besaran normal, yaitu larutan 1 N (1 N) adalah larutan yang mengandung 1 grek suatu zat tertentu dalam volume 2 liter. Untuk 1 grek HCl adalah banyaknya mol asam tersebut yang dapat melepaskan 1 gram ion H+.

    Pembuata larutan standar dari zat yang berbentuk cair sering disebut cara pengenceran, yaitu dari zat cair yang lebih pekat menjadi lebih cair.cara ini dapat dilakukukan pada cairan yang telah diketahui normalitasnya. Apabila suatu larutan standar dibuat dari zat cair yang telah diketahui normalitasnya, maka untuk menentukan banyaknya volume yang akan diencerkan digunakan rumus :

V1 x N1 = V2 x N2

    Tetapi bila larutan tersebut dubuat daru suatu zat cair yang tidak/belum diketahui normalitasnya, maka untuk menetukan banyaknya volume yang akan diencerkan digunakan rumus :

Vx = N x V x BM

     10 x n x K x L

dengan :    Vx = volume

    n = valensi

    K = kadar

    L = density

    N = normalitas larutan yang akan dibuat

    BM = berat molekul zat cair tersebut

    V = volume zat cair yang akan dibuat

    Boraks digunakan sebagai bahan baku dalam penetapan normalitas HCl karena mudah diperoleh dalam keadaan murni, cukup stabil, dan memiliki berat ekuivalen yang tinggi. Reaksi yang terjadi adalah :

    Na2B4O7 + 7H2O      2NaOH + 4H3BO3

    2NaOH + 2HCl      2NaCl + 2H2O


 

    Na2B4O7 + 2HCl + 5H2O         2NaCl + 4H3BO3

    Hasil akhir titrasi adalah terbentuknya campuran NaCl dengan otoborat (H3BO3) bebas, sehingga pH larutan dapat dihitung, tanpa melihat perubahan volume dalam titrasi, di mana pK asam borat = 9,24, maka pH adalah :

    ½ pKa – ½ log Ca = (9,24/2) + 0,5 = 5,1

Adapun indikator yang paling cocok adalah Metil Merah (MM).

    Penetapan kadar Natrium Bikarbonat (NaHCO3) dapat dilakukan dengan menggunakan larutan standar HCl menurut reaksi :

    NaHCO3 + HCl     NaCl + H2O + CO2


 

1.3 ALAT DAN BAHAN


Alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

  • Erlenmeyer 250 ml
  • Buret + statif
  • Gelas beker
  • Gelas arloji
  • Corong
  • Sudip
  • Labu ukur 250 ml
  • Labu ukur 500 ml
  • Pipet tetes
  • Pipet gondok
  • Timbangan analisis
  • Botol semprot
  • Lap kain


     


    Bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

  1. HCl pekat
  2. Indikator MO
  3. Padatan/serbuk borak
  4. Padatan/serbuk Natrium Bikarbonat
  5. Aquades


     


     

    1.4 PROSEDUR KERJA


     

    A. Pembuatan Larutan HCl 0,1 N dan Penentuan Normalitas HCl Dengan Bahan Baku Boraks

  6. Mengambil HCl pekat sebanyak 4 ml.
    1. Mengencerkan HCl yang telah diambil ke dalam labu ukur 500 ml sampai tanda garis. Lalu gojok (kocok) hingga tercampur merata.
    2. Menimbang boraks sebanyak 1,9 gram kemudian dilarutkan dalam labu ukur 100 ml sampai tanda garis.
    3. Larutan tersebut diambil 25 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer ml. Setelah itu ditambah indikator MO 2-3 tetes.
  7. Menitrasi larutan yang telah diambil dengan HCl.
  8. Catat volume Hcl yang digunakan dan amati perubahan warna yang terjadi.
  9. Menghitung normalitas HCl dengan menggunakan persamaan sebagi berikut :

            N HCl =

            Keterangan :

  • Fp = faktor pengenceran =
  • Bst boraks = berat setara boraks = 190,6


 

B. Penetuan Kadar Natrium Hidrogen Karbonat Dalam Bikarbonat

  • Menimbang 0,5 gram Natrium Bikarbonat dalam gelas arloji.
  • Memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan mengencerkannya dengan aquades sampai tand garis.
  • Pipet 10 ml larutan dan masukkan dalam erlenmeyer 250 ml, tambahkan dengan aquades sebanyak 250 ml. setelah itu ditambah dengan indikator MO (Metil Orange) sebanyak 2-3 tetes.
  • Menitrasi larutan yang baru dibuat dengan HCl 0,1 N.
  • Mencatat volume HCl yang diperlukan dan mengamati perubahan warna yang terjadi.
  • Memanaskan hasil titrasi pada suhu 400 C.
  • Titrasi kembali dengan HCl 0,1 N
  • Mencatat volume yang digunakan untuk mengembalikan warna larutan seperti pada saat sebelum dititrasi.
  • Menghitung kadar dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

    Kadar NaHCO3 =

    Keterangan :

    • Fp = faktor pengenceran
    • Np = normalitas HCl
    • Volume contoh = volume NaHCO3 yang diambil setelah diencerkan

        100 ml.


     


     


     


     


 

BAB II

Praktikum


 

  1. Data dan Hasil Pengamatan

No 

Acara 

Titran 

Titrat 

Indikator

Volume

(x) 

Pengamatan 

1 

I 

HCl 

Na2B4O7

(boraks)

+

MO 

MO 

1. 26,9 ml

2. 25,4 ml

3. 25,7 ml +


 

Rata-rata = 26 ml

Terjadi perubahan warna,dari warna kuning menjadi warna merah 

2 

II 

HCl 

NaHCO3

+

MO 

MO 

1. 15,1 ml

2. 14,8 ml

3. 15,1 ml +


 

Rata-rata = 15 ml

Pada titrasi I terjadi perubahan warna dari warna kuning menjadi merah. Kemudian setelah dipanaskan 400C warna berubah menjadi warna merah keorenan dan setelah titrasi II warna berubah menjadi merah kembali.


 

  1. Hasil Perhitungan :


 

1) Dik    : mg boraks = 1,9 g = 1900 mg

     V HCl     = 26 ml

     Bst boraks = 190,6

Dit    : N HCl……..?

Jwb : N HCl =

         =

= 0,0958 N

        

  • Jadi normalitas HCl adalah 0,0958 N.

2) Dik    : V HCl = 6,14 ml

     Bst NaHCO3 = 84

     N HCl = 0,11 N = 0,11 mg/ml = 0,11 x 10-3 gr/ml

Dit    : Kadar NaHCO3......?

Jwb    : Kadar NaHCO3 =

     =

     =0,9656 x 100 %

     =96,56 %

  • Jadi kadar Natrium Hidrogen Karbonat dalam Bikarbonat 96,56 %.


 

2.3 Pembahasan

Dalam menentukan normalitas suatu larutan faktor penting yang harus diperhatikan adalah volume titran pada saat titrasi dilakukan. Selain itu juga faktor pengenceran, massa titrat, dan berat setara titrat. Hal ini mengacu pada persamaan berikut : Kita cermati percobaan nomor 1, yaitu tentang penentuan normalitas HCl 0,1 N. Di sini yang menjadi titrat adalah larutan boraks dan yang menjadi titran adalah larutan HCl 0,1 N, sehingga pengaplikasian dalam persamaan adalah sebagai berikut :

        N HCl =

        Demikian juga dengan penentuan kadar suatu larutan, faktor penting yang harus ada adalah volume titran juga. Adapun faktor lain yang harus diperhatikan adalah faktor pengenceran, normalitas titran, berat setara titrat dan volume contoh.

Kita cermati percobaan nomor 2,yaitu tentang penentuan kadar Natrium Karbonat dalam Bikarbonat. Di sini yang menjadi titrat adalah larutan Natrium Karbonat dan yang menjadi titran adalah larutan HCl 0,1 N, Sehingga pengaplikasiaan dalamm persamaan adalah sebagai berikut :

Kadar NaHCO3 =


 

  1. Reaksi-reaksi

Reaksi yang terjadi pada percobaan ini adalah:

  • Pada pencarian nilai normalitas

    HCl + Na2B4O7         NaCl + H2B4O7

  • Pada penentuan kadar NaHCO3

    HCl + NaHCO3         NaCl + H2CO3


 


 

BAB III

Penutup


3.1 Kesimpulan

  1. Perubahan warna yang terjadi pada titrasi standarisasi larutan HCl dengan menggunakan titrat Natrium Ditetraborak adalah dari berwarna bening menjadi berwarna merah sindur
  2. Normalitas HCl yang digunakan untuk titrasi adalah sebesar 0,0958 N
  3. Perubahan warna yang terjadi pada titrasi penentuan kadar Natrium hidrogen Karbonat adalah dari berwarna bening menjadi berwarna merah sindur
  4. Kadar NaHCO3 sampel adalah 96,56 %


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM V

ACARA

PERMANGANOMETRI


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

PENDAHULUAN


 

1.1 TUJUAN

  • Menentukan normalitas larutan KMnO4 0,1 N.
  • Menentukan kadar H2O2 dalam Perhidrol.
  • Mengetahui dan memahami prosedur yang benar dalam menentukan normalitas larutan KMnO4 0,1 Ndan kadar H2O2 dalam Perhidrol.


 

1.2 DASAR TEORI

    Titrasi Permanganometri merupakan suatu proses redoks, di mana KMnO4 digunakan sebagai standar. Larutan standar KmnO4 dibuat dengan jalan melarutkan garam tersebut dalam air panas, kemudian larutkan dididihkan beberapa saat. Stelah larutan agak dingin, disaring melalui glass-roll, dan selanjutnya ditempatkan dalam botol berwarna gelap.

    Garam KMnO4 tidak dapat diperoleh dalam keadaan murni karena banyak mengandung oksida-oksidanya (MnO2 dan Mn2O3), sehingga garam ini tidak dapat digunakan sebagai standar primer. Selain itu, garam ini tidak hanya dibuat dengan melarutkan garamnya dalam aquades, karena dengan adanya sedikit zat organik dalam air menyebabkan terjadinya peruraian ion MnO4- menjadi oksidanya seperti yang terlihat pada persamaan reaksi berikut :

    4MnO4- + H2O     4MnO2 + 3O2+ + 4OH-

    Larutan KMnO4 standar dapat digunakan baik dalam suasana asam, maupun dalam suasana netral atau alkalis.

A. Dalam Suasana Asam

    Dalam suasana asam, misalnya dalam H2SO4, berat ekuivalen KMnO4 = 0,2 mol (atau 1 grek KMnO4 = 31,6 g) dan dapat digunakan untuk menentukan secara langsung baik kation maupun anion-anion sebagai berikut :    

  • Kation : Fe2+, Sn2+, H2O2, Mo3+, As3+, Ti3+, dan sebagainya.
  • Hasil oksida : Fe3+, Sn4+, O2-, MoO43-, AsO43-, TiO22+, dan sebagainya.

Selain itu dapat juga digunakan untuk menentukan secara tidak langsung beberapa jenis indikator setelah zat-zat tersebut terlebih dahulu ditambah dengan zat-zat reduktor, misalnya garam-garam Ferro atau Oksalat dalam keadaan berlebihan. Contoh zat-zat oksidator yang dapat ditentukan dengan cara ini adalah :


 

Zat oksidator 

Hasil reduksi 

MnO4-, Cr2O7-, Cl2+, MnO2, Mn3O4, PbO2, Pb2O3

Mn2+, Cr3+, Cl3+, Mn2+, Pb2+

B. Dalam Suasana Netral atau Alkalis

    Dalam suasana netral atau alkalis, berat ekuivalen KMnO4 = 0,33 mol (atau 1 grek KMnO4 = 5,27 g) dan digunakan untuk menentukan garam-garam Mangan (Mn2+), Format (H2CO2) dan Asam Format (HCOO-). Dalam situasi ini akan tereduksi menjadi MnO2 yang mengendap.

    Perlu diperhatikan bahwa dalam proses permanganometri, untuk mengetahui saat tercapainya titik ekuivalen tidak diperlukann penambahan indikator disebabkan larutan KMnO4 yang berwarna ungu telah berfungsi sebagai indikator, sehingga dalam proses titrasi tersebut, larutan yang dititrasi telah mulai berwarna ungu muda, berarti titik ekuivalen telah tercapai.

    Dalam proses titrasi redoks, berat ekuivalen zat dapat ditentukan dengan 3 cara yaitu :

  • Dengan meninjau banyaknya atom Oksigen yang dilepaskan atau diterima oleh zat tersebut.

    Jadi berat ekuivalen suatu zat adalah banyaknya mol zat tersebut yang dapat melepaskan atau menerima 1/2 grol O. sebagai contoh, KMnO4 mempunyai berat ekuivalen 1/5 mol sesuai dengan persamaan reaksi berikut :

        2KMnO4    K2O + 2MnO + 5O

  • dengan meninjau banyaknya perubahan bilangan oksidasi.

    Dengan cara ini, yang dimaksud berat ekuivalen adalah banyaknya mol zat tersebut yang dapat mengalami perubahan satu bilangan oksidasi. Sebagai contoh dalam menentukan berat ekuivalen garam Ferri melalui persamaan reaksi :

        FeSO4.7H2O + O    Fe(SO4)3 = 15H2O

    Pada FeSO4.7H2O, bilangan oksidasi Fe = 2, sedang dalam Fe(SO4)3 bilangan oksidasi Fe = 3, sehingga dalam reaksi oksidasi tersebut terjadi perubahan bilangan oksidasi sebesar 1 satuan, berarti berat ekuivalen FeSO4.7H2O = 1 mol.

  1. Dengan meninjau banyaknya elektron yang dilepaskan atau diterima oleh zat tersebut.

    Jadi, berat ekuivalen suatu zat adalah banyaknya mol zat tersebut yang dapatb melepaskan atau menerima 1 berat elektron. Persamaan reaksi yang ditulis adalah merupakan persamaan reaksi ion. Contohnya, oksidasi ion S2O3- menjadi ion S4O6- adalah sebagai berikut :

    S2O3-     S2O3- + 2e


 

1.3 ALAT DAN BAHAN


 

  • Erlenmeyer 250 ml
  • Buret + statif
  • Gelas beker
  • Gelas arloji
  • Corong
  • Sudip
  • Labu ukur 250 ml
  • Labu ukur 500 ml
  • Pipet tetes
  • Pipet gondok
  • Timbangan analisis
  • Botol semprot
  • Lap kain


 


Bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

  • Larutan H2SO4 pekat 4 N
  • Asam Oksalat padat 0,1 N
  • Larutan KmnO4 0,1 N
  • Aquades
  • Larutan H2O2


 

1.4 PROSEDUR KERJA

A. Penentuan normalitas larutan KMnO4 0,1 N

1. Menimbang dengan teliti kurang lebih 630 mg Asam Oksalat

2. Mengencerkan menjadi 100 ml dengan aquades dalam labu takar 100 ml.

  1. Membuat larutan H2SO4 dengan cara mengisi labu takar 250 ml dengan aquades terlebih dahulu kemudian pipet larutan H2SO4 4 N sebanyak 27,8 ml, masukkan ke dalam labu takar. Encerkan samapi tanda garis pada labu dan campur (gojok) hingga larutan homogen. Tunggu sampai larutan dingin (sesuai dengan suhu kamar).
  2. Memipet larutan Larutan Asam Oksalat yang telah dibuat sebanyak 10 ml dan masukkan dalam erlenmeyer 100 ml, selanjutnya ditambah 10 ml larutan H2SO4 4 N yang telah diencerkan.
  1. Titrasi dengan larutan KMnO4 sampai berwarna merah jambu.
  2. Penetapan dilakukan 3 kali.
  3. Menghitung normalitas dengan persamaan sebagai berikut :

    N KMnO4 =

    Keterangan: Fp = faktor pengenceran

        Vp = volume KMnO4 untuk titrasi

        Bst = berat setara Asam Okasalat = 63


     

B. Penentuan Kadar H2O2 dalam Perhidrol

1. Memipet 10 ml H2O2 pekat menggunakan pipet gondok..

2. Memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan mengencerkannya dengan aquades sampai tand garis.

3. Memipet kembali larutan sebanyak 10 m ldan diencerkan dalam labu ukur 100 ml hingga volume 100 ml.

4. Pipet 25 ml larutan larutan H2SO4 4 N dan masukkan dalam erlenmeyer 250 ml, tambahkan dengan 50 ml aquades. Setelah itu pipet 10 ml larutan H2O2 (yang telah diencerkan 2 kali) dan campurkan. Gojok sampai campuran larutan menjadi homogen.

5. Panaskan hingga suhu 700C.

6. Titrasi dengan larutan KMnO4 0,1 N sampai berwarna ungu muda dan catat volume KMnO4 yang digunakan.

7. Menghitung kadar dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

Kadar H2O2 =

Keterangan :

  • Fp = faktor pengenceran
  • Vp         = volume KMnO4
  • Np = normlitas KMnO4
  • Bst = berat setara H2O2 = 17
  • Volume contoh = volume H2O2 yang diambil setelah diencerkan

        2 kali


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

BAB II

PRAKTIKUM


 

2.1 Hasil Pengamatan dan Perhitungan

1. Penentuan Normalitas KMnO4


 

Ulangan 

Bobot Asam Oksalat (mg)

Perub. Warna

Selama titrasi 

Volume

KMnO4 (ml)

Normalitas KMnO4

1 

630,2

Merah muda

10


 

= 0,1 N

2 

630,2

Merah muda

9,8


 

= 0,102 N

3 

630,2

Merah muda

9,8


 

= 0,102 N

Rata-rata 

=

= 0,1003 N


 

Perhitungan:

N KMnO4==

Dengan : fp = faktor pengenceran

    Vp = volume KMnO4 0,1 yang digunakan

    Bst = berat setara Asam Oksalat (63)

1. N KMnO4     =

    = 0,101 N

2. N KMnO4    =

    = 0,102 N

3. N KMnO4l    =

    = 0,102 N


 

Normalitas Rata-rata 0,1003 N

2. Penentuan kadar H2O2

Ulangan 

Bobot KMnO4 (mg)

Perub. Warna

Selama titrasi 

Volume KMnO4 (ml)

Kadar H2O2

1 

500 

Merah sindur 

19,4


 

= 33,4%

2 

500 

Merah sindur 

19,9


 

= 34,2%

3 

500 

Merah sindur 

19,4


 

= 33,40%

Rata-rata 

=

= 32,9%


 

Perhitungan

Kadar H2O2 =


 

Dengan: fp     = faktor pengenceran

Vp     = volume KMnO4 0,1 yang digunakan

    Np = normalitas KMnO4

    Bst = berat setara H2O2 (17)

1. Kadar H2O2 =

= 33,4%


 

2. Kadar H2O2 =

= 34,2%

3. Kadar H2O2 =

= 33,4%


 

Kadar rata-rata H2O2 adalah 33,67 %


 

2.2 Pembahasan

        Dalam pentitrasian, kalium permanganat tidak perlu lagi di berikan indikator, karena KMnO4 sendiri bersifat autoindikator yaitu KMnO4 bisa sebagai indikator dibuktikan dengan hanya 1 tetes larutannya bisa memberikan warna merah muda.

Kalium permanganat juga bersifat autokatalis.

Kalium permanganat bereaksi optimum pada suhu sekitar 60-70oC. artinya permanganat bereaksi lambat pada suhu kamar, sebaliknya bereaksi cepat pada suhu kira-kira 60-70oC.

Permanganat mengoksidasi lebih kuat dalam suasana basa daripada dalam larutan-larutan asam.

        Permanganat larut dalam regensia asam sulfat. Jika pencampuran larutan tersebut dengan asam sulfat yang sangat pekat, larutan ini bisa meledak dengan spontan pada suhu biasa, dan ledakan lebih besar mungkin terjadi pad pemanasan. Jadi dalam melakukan percobaan ini agar menggunakan asam sulfat yang tidak terlalu pekat atau setidaknya sebelumnya di encerkan terlebih dahulu dengan aquades.

Penambahan regensia Hidrogen Peroksida pda proses penentuan kadar H2O2 kepada KMnO4 yang telah diasamkan dengan asam sulfat mengakibatkan warna menjadi hilang dan dilepaskan oksigen yang murni tetapi basah ( mengandung air).

    2MnO4- + 5H2O2 +
6 H+ 5CO2 + 2Mn2+ + 8H2O

        Dalam penentuan normalitas kalium permanganat 0,1 N diperlukan Asam oksalat sebagai titran. H2C2O4, dengan adanya asam sulfat, menghasilkan gas karbon dioksida:

    2MnO4- + 5(COO)2-2 + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O


 

  1. Reaksi-reaksi

Reaksi-reaksi yang terjadi disini adalah:

1. pada penetapan normalitas:

KmnO4 + H2C2O4

MnO4
- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O (x2)

C2O4
2- 2CO2 + 2e (x5)

2MnO4
- + 10H + + 5C2O4
2- 2Mn2+ + 8H2O + 10 CO2


 


 

2. pada penetapan kadar H2O2

KMnO4 + H2O4

MnO4- + 8H+ +5e Mn2+ +4H2O

H2O2+ 2H+ +2e 2H2O

MnO4- + H2O2 + 10H+ + 7e Mn2+ + 6H2O

Akhir titrasi ditunjukkan perubahan warna jadi ungu muda menurut reaksi:

2KMnO4 + 5H2O + 3H2SO4 2KMnO4 + 3H2SO4 + 3H2O2 + 5O2

BAB III

PENUTUP


 

3.1 Kesimpulan

  • Normalitas KMnO4 sebesar 0,1013 N
  • Perubahan warna yang terjadi pada standarisasi KMnO4 dengan menggunakan titrat asam oksalat menjadi berwarna merah muda keunguan
  • Kadar H2O2 sampel adalah 33,67 %
  • Perubahan warna yang terjadi pada titrasi penentuan kadar H2O2 menggunakan larutan standar KMnO4 adalah berwarna merah muda.


 


 

    
 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM VI

ACARA

IODOMETRI


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

PENDAHULUAN


 

  1. TUJUAN

Tujuan dari praktikum kali ini adalah :

1. mahasiswa dapat membuat larutan Natrium Thio Sulfat(N2S2O3) 0,1 N

2. mahasiswa dapat menetapkan normalitas Natrium Thio Sulfat(N2S2O3) 0,1 N

3. mahasiswa dapat menentukan kadar Cu(II) dalam Cupri Sulfat


 

  1. DASAR TEORI


 

    Yang dimaksud dengan titresi iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium(I2) bebeas dalam larutan, sedang proses iodimetri adalah proses titrasi menggunakan I2 sebagai standar.

    Prinsip titrasi iodometri adalah dengan menambahkan KI berkebih dalam larutan contoh yang mengandung analit/zat oksidator. Iod yang terbentuk dititrasi dengan larutan standar thiosulfat dan dihasilkan ion iodida dan ion tertrationat. Pada sebagian besar titrasi iodometri, bila dalam larutan terdapat kelebihan ion iodide, maka akan terjadi ion Triiodida(I3-). Hal ini disebabkan karena Iodium sangat cepat larut dalam iodida.

    Khusus dalam titrasi iodometri yang dimaksud dengan berat ekivalen suatu zat adalah bannyaknya zat tersebut yang dapat bereaksi atau dapat membebaskan 1 grat I. dalam sebagian besar proses titrasi iodometri yang digunakan sebagai larutan standar adalah larutan I2 dan KI, sehingga yang digunakan sebagai oksidator relatif adalah ion I3-. Proses titrasi iodometrijuga disebut proses titrasi tidak langsung.

    Dalam larutan yang berasifat asam, larutan I2 standar dapat digunakan untuk menetukan beberapa jenis zat reduktor kuat seperti : SnCl2, H2SO3, H2S, dan Na2S2O3. untuk zat-zat reduktor yang lebih lemah seperti : As3+, Sb3+, dan Fe(CN)4+, hanya dapat ditetapkan (teroksidasi sempurna) bila suasana larutan bersifat netral atau hanya sedikit asam.

Cara Menentukan Titik Ekivalen dalam Proses Titrasi Iodo dan Iodimetri

    Larutan I2 dalam laritan KI encer bewarna coklat muda. Bila 1 tetes larutan I2 0,1 N dimasukkan kedalam 100 ml aquades akan memberikan warna kuninng muda, sehingga dapat dikatakan bahwa dalam suatu larutan yang tidak berwarna I2 dapat berfungsi sebagai indicator. Namun demikian, warna terjadi dalam larutan terszebut akan lebih sensitive dengan menggunakan larutan kanji sebagai katalisatornya, karena kanji dengan I2 dalam larutabn KI bereaksi menjadi suatu kompleks Iodium yang berwarna biru.

    Kekurangan kanji sebagai indicator adalah :

  1. kanji tidak larut dalam air dingin
  2. suspensinya dalam air tidak stabil
  3. bila penambahan kanji dilakukan pada awal titrasi dengan I2 akan membentuk kompleks Iod-amilum.jika dalam titrasi menggunakan indicator kanji maka penambahan kanji dilakukan pada saat mendekati ttitik ekivalen.

Karena hal-hal diatas maka, dalam proses titrasi iodo dan iodimetri sebaiknya menggunakan indicator larutan Natrium Amylumglikolat. Indicator ini dengan I2 tidsk akan membentuk kompleks Iod-amilum sehingga dapt ditambahkan pada awal titrasi.

Hal-hal yang haus diperhatikan dalam titrasi iodometri dan iodimetri :

  1. oksigen error, terjadi jika dalam larutan asam, maka oksigen dari udara akan menngoksidasi iodide menjadi iod (kesalahan makin besar dengan meningkatnya asam)
  2. reaksi iodometri dilakukan dalam suasana asam sedikit basa (pH <8)
  3. larutan kanji yang sudah rusa akan memberikan warna violet yang sulit hilang warnanya, sehingga akan mengganggu penitraan.
  4. pemberian kanji terlalu awal akan menyebabakan iod menguraikan amilum dan hasil peruraian menggangu perubahan warna pada titik akhir.
  5. penambahan KI harus berlebih, karena I2 yang dihasilkan sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam KI.
  6. larutan Thiosulfat dalam suasana yang sangat asam dapat menguraikan larutan thiosulfat menjadi belerang, pada suasana basa (pH>9) thio sulfat menjadi ion sulfat.


 

  1. ALAT DAN BAHAN

    ALAT :

  • Buret
  • Statif dan klem
  • Alas titar
  • Gelas beker
  • Sudip
  • Labu takar
  • Corong
  • Neraca analitis
  • Erlenmeyer
  • Pipet gondok
  • Pipet volum
  • Propipet
  • Pipet tetes
  • Gelas arloji


 

BAHAN :

  • Aquades
  • Kalium bikromat (padat)
  • Larutan KI 20 %
  • Larutan HCl 4 N
  • Larutan Na2S2O3 0,1 N
  • Indicator Amilum
  • Cupri sulfat (padat)
  • H2SO4 pekat
  • NaOCl


 


 


 


 

  1. LANGKAH KERJA

Pembuatan Larutan H2SO4 4 N

1. siapkan semua peralatan yang dibutuhkan

  1. bersihkan semua peralatan dengan sabun dan keringkan
  2. pipet H2SO4 pekat sebanyak 27,78 ml
  3. masukkan dalam labu takar 250 ml, yang sebelumnya sudah diisi aquades 2/3 bagian.
  4. tunggu sampai dingin
  5. tambahkan aquades hingga tanda garis
  6. gojag hingga homogen

Pengencaeran NaClO

1. siapkan semua peralatan yang dibutuhkan

2. bersihkan semua peralatan dengan sabun dan keringkan

3.    pipet 5 ml NaClO

4.     masukkan dalam labu takar 100 ml

5.    tambahkan aquades hingga tanda garis

6.    gojag hingga homogen

Standarisasi Larutan Natrium Thio Sulfat (Na2S2O3) 0,1 N

1. siapkan semua peralatan yang dibutuhkan

  1. bersihkan semua peralatan dengan sabun dan keringkan
  2. timbang 0,5002 gr Kalium Bikromat
  3. masukkan dalai gelas beker dan tambahkan aquades
  4. aduk hingga larut
  5. masukkan dalam labu takar 100 ml dan tambahkan aquades hingga tanda garis
  6. gojag hingga homogen
  7. pipet larutan tadi 10 ml
  8. masukkan dalam Erlenmeyer, tambahkan 3 ml larutan KI 20 % dan larutan HCl 4 N sebannyak 7,5 ml
  9. simpan dalam tempat gelap selama 2 menit
  10. titar dengan larutan Na2S2O3 0,1 N hingga berwarna kuning muda
  11. tambahkan amilum hingga berwarna biru tua
  12. titrasi kembali hingga berwarna bening kehijauan
  13. lakukan titrasi 3 kali
  14. catat volume Na2S2O3 yang digunakan

Penetapan Kadar Cu (II) dalam Cupri Sulfat

  1. timbang 2 gr CuSO4.5H2O

    2. masukkan dalam gelas beker dan tambahkan aquades

  2. aduk hingga larut
  3. masukkan dalam labu takar 100 ml dan tambahkan aquades hingga tanda garis
  4. aduk hingga larut
  5. pipet 25ml dengan pipet gondok, encerkan dengan 50 ml aquades tambahkan 10 ml larutan KI 20% dan 20 ml H2SO4 4N
  6. simpan dalam tempat gelap selama 2 menit
  7. titar dengan larutan Na2S2O3 0,1 N hingga berwarna kuning muda
  8. tambahkan amilum hingga berwarna biru tua
  9. titrasi kembali hingga berwarna bening kehijauan
  10. lakukan titrasi 3 kali
  11. catat volume Na2S2O3 yang digunakan

penetapan Kadar Cl dalam NaClO :

  1. pipet 5ml larutan NaClO yang telah diencerkan
  2. masukkan dalam Erlenmeyer, tambahkan 5 ml Na2SO4 4 N, tambahkan 5 ml KI
  3. titrasi dengan larutan Thio sampai berwarna kuning muda
  4. tambahkan amilum hingga berwarna biru tua
  5. titrasi hingga berwarna bening
  6. catat volume Thio yang digunakan
  7. lakukan titrasi tiga kali


 


 


 


 


 


 

BAB II

PRAKTIKUM


 

2.1 DATA HASIL PENGAMATAN


 

NO 

TITRAT 

TITRAN 

VOL. TITRAT

PERUB. WARNA 

AWAL 

AKHIR 

1 

K2Cr2O7 + KI + H2SO4

Na2S2O3

  • 10,7 ml
  • 10,8 ml
  • 10,8 ml

x = 10,77 ml

Coklat tua 

Bening kehijauan 

2 

CuSO4 + KI +H2SO4

Na2S2O3

  1. 10 ml
  2. 10,5 ml
  3. 10,4 ml

x = 10,3 ml

Coklat tua 

Putih susu 

3 

NaClO + KI + H2SO4

Na2S2O3

  1. 4 ml
  2. 4,3 ml
  3. 3,9 ml

x = 4,06ml

Coklat tua 

Bening 


 

2.2 Perhitungan


 

1) Dik : Fp        = 100/10

    = 10

Vp        = 10,77 ml

Bst        = 49

Mg K2Cr2O7    = 0,51 gr

    = 510 mg

Ditanya = N Na2S2O3…..?


 

Dit : N Na2S2O4.......?

Jwb : N Na2S2O4 =


 

=


 

    = 0,096 mg/ml

    = 0,096 x 10-3 g/ml = 0,096 x 10-3 N


 

2) Dik : Fp = 50/10 = 5

     V Na2S2O4 = 10,3 ml

     N Na2S2O4 = 0,096 x 10-3 N    

Bst CuSO4 = 159,5 gr/mol = Mr CuSO4

Dit : Kadar Cu.......?

Jwb : KadarCuSO4 =

Kadar CuSO4 =

     = 7,8 %

Kadar Cu =


 

=

             = 3,1 %

3)    Dik : Fp          =10

     V Na2S2O4 = 4,06 ml

     N Na2S2O4 = 0,096 x 10-3 N    

Bst NaOCl = 74,5

    V contoh = 10 ml    

Dit : Kadar Cl.......?

Jwb : Kadar NaOCl =

Kadar NaOCl =

     = 2,9 %

Kadar Cl =


 

=

        = 1,363 %


 

2.3 Pembahasan        

Pada proses standarisasi N2S2O3 menggunakan Kalium bikromat yang dicampur cdengan larutan KI, pertama-tama berwarna coklat tua, kemudian diitrasi menggunakan Na2S2O3 menjadi berwarna biru tua. Kemudian ditetesi indikator amilum, menjadi berwarna biru tua kehitam-hitaman. Dan selanjutnya dititrasi kembali dengan N2S2O3 hingga berwana biru bening dan apabila ditetesi indikator amilum tidak terjadi perubahan warna pada larutan titrat. Volume N2S203 yang digunakan adalah sebesar 10,77. Dan dari hasil tersebut dapat ditentukan Normalitas N2S2O3, yaitu sebesar 0,096 x 10-3 N.


 

Pada proses penentuan kadar CuSO4 menggunakan larutan CuSO4 yang ditambahi dengan larutan KI, yang kemudian berwarna coklat tua. Kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 hingga berwarna kuning muda. Dan selanjutnya ditetesi indikator amilum menjadi berwarna biru tua, kemudian dititrasi kembali menggunakan Na2S2O3 hingga berwarna bening, dan apabila ditetesi indikator amilum tidak terjadi perubahan warna. Volume Na2S2O3 yang digunakan adalah sebesar 10,3 ml. Dari hasil titrasi tersebut digunakan untuk menentukan kadar CuSO4 yaitu sebesar 7,8 %


 

Pada proses penentuan kadar NaOCl menggunakan larutan NaOCl yang ditambahi dengan larutan KI, yang kemudian berwarna bening kekuningan. Kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 hingga berwarna coklat tua. Dan selanjutnya ditetesi indikator amilum menjadi berwarna biru tua, kemudian dititrasi kembali menggunakan Na2S2O3 hingga berwarna bening, dan apabila ditetesi indikator amilum tidak terjadi perubahan warna. Volume Na2S2O3 yang digunakan adalah sebesar 4,06 ml. Dari hasil titrasi tersebut digunakan untuk menentukan kadar NaOCl yaitu sebesar 1,363 %.


 

  1. Reaksi-reaksi

Pada reaksi standarisasi:

    K2CrO7 + 6KI + 14 H2SO4 8K2SO4 + 2CrSO4 +7H2O + 3I2

Setelah itu I2 direaksikan dengan Na2S2O6

I2 + Na2S2O3 Na2S2O6 + 2NaI

    Pada pengujian CuSO4:

    2 CuSO4 +4 KI         2 CuI2 + I2 + 2K2SO4

    I2 + 2 Na2S2O3 2 NaI + Na2S4O6


 

Pada pengujian NaOCl:

NaOCl + 3KI NaI + KOCl + I2

I2 + 2Na2S2O3 2NaI + Na2S4O6


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

PENUTUP


 


 

  1. KESIMPULAN
    1. Normalitas Na2S2O4 adalah sebesar 0,096 x 10-3 N
    2. KadaCu yang terkandung pada CuSO4 adalah sebesar 3,1 %
    1. Kadar Cl yang terkandung pada bahan pemutih pakaian(NaOCl) adalah sebesar 2,35 %.


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    PRAKTIKUM VII

    ACARA

    ARGENTOMETRI


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Bab I

    Pendahuluan

    1.1 Tujuan :

    Adapun dalam praktikum ini bertujuan untuk :

    1. Untuk mengetahui tata cara titrasi argentometri dengan menggunakan larutan AgNO3 0,01 N.
    2. Menentukan kadar NaCl dalam garam dapur
    3. Membandingkan hasil titrasi dengan metode MOHR dan metode Volhard


     


     

    1.2 DASAR TEORI

    Argentometri adalah suatu proses titrasi menggunakan garam Argentum Nitrat (AgNO3) sebagai larutan standar. Dalam titrasi argentometri, larutan AgNO3 digunakan untuk menentukangaram-garam halogen dan Sianida, karena kedua jenis garam ini dengan ion Ag+ dari garam standar AgNO3 dapat membentuk suatu endapan atau senyawa kompleks. Titrasi ini merupakan proses volumetri berdasarkan pembentukan endapan yang sukar larut, yang biasanya bertujuan untuk menetukan ion-ion halida maupun ion-ion lainnya.

    Metode argentometri disebut juga dengan metode pengendapan karena pada argentometri memerlukan pembentukan senyawa yang relatif tidak larut atau endapan. Metode-metode dalam titrasi argentometri :


     

    1. Metode Mohr: metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator. Pada permulaan titrasi akan terjadi endapan perak klorida dan setelah titik ekuivalen, maka penambahan sedikit perak nitrat akan bereaksi dengan kromat dengan membentuk endapan perak kromat yang berwarna merah.


     

    2. Metode Volhard: Perak dapat ditetapkan secara teliti dalam suasana asam dengan larutan baku kalium atau amonium tiosianat, kelebihan tiosianat dapat ditetapkan secara jelas dengan garam besi (III) nitrat atau besi (III) amonium sulfat sebagai indikator yang membentuk warna merah dari kompleks besi (III) tiosianat dalam lingkungan asam nitrat 0,5 – 1,5 N. Titrasi ini harus dilakukan dalam suasana asam, sebab ion besi (III) akan diendapkan menjadi Fe(OH)3 jika suasananya basa, sehingga titik akhir tidak dapat ditunjukkan.


     

    Untuk Proses Argentometri ini berkaitan langsung dengan titrasi penegendapan dan titrasi pembentukan kompleks. Dikatakan titrasi pengendapan karena nantinya reaksi yang terjadi akan menimbulkan suatu endapan. Banyak sekali reaksi yang yang digunakan dalam analisis yang melibatkan pembentukan endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa kristal atupun juga koloid. Dapat dikeluarkan dari larutan dengan menggunakan penyaringan atau pemusingan. Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan bergantung pada berbagai kondisi misalnya suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya. Umumnya bahwa kelarutan endapan bertambah besar dengan kenaikan suhu. Laju kenaikan kelarutan dengan suhu berbeda-beda, dalam nenerapa hal sangat kecil sekali, dalam hal-hal lainnya sangat besar. Dalam beberapa perubahan kelarutan dengan berubahnya suhu dapat menjadi dasar untuk pemisahan. Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi zat-zat lain, terutama ion-ion, dalam campuran itu. Dalam hal ini ion sekutu dan ion asing.

    Dalam titrasi pembentukan komplek, disebut titrasi itu karena dilakukan titrasi terhadap larutan sianida. Pembentukan kompleks sering terlihat dan dipakai untuk pemisahan atau identifikasi. Salah stu fenomena yang paling umum yang muncul bila ion kompleks terbentuk adalah perubahan warna dalam larutan, misalnya:

    Cu2+ + 4NH3     [ Cu(NH3)4]2+

    Biru    biru tua gelap

    Fe2+ + 6CN-    [Fe(CN)6]4-

    Hijau muda    kuning


     

    Suatu fenomena lain yang penting yang sering terlihat bila kompleks terbentu adalah kenaikan kelarutan; banyak endapan bisa melarut karena pembentukan kompleks.


     

    1.3 ALAT DAN BAHAN


     

    ALAT :

  • Buret
  • Statif dan klem
  • Alas titar
  • Gelas beker
  • Sudip
  • Labu takar
  • Corong
  • Neraca analitis
  • Erlenmeyer
  • Pipet gondok
  • Pipet volum
  • Propipet
  • Pipet tetes
  • Gelas arloji


 

BAHAN :

  • Aquades
  • KCNS 0,1 N
  • K2CrO4
  • NaCl
  • FAS
  • HNO3


 


 


 

1.4 PROSEDUR KERJA

  • Analisa kadar Cl dalam garam dapur (metode Mohr)
  1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, tetapi sebelumnya dicuci bersi terlebih dahulu
  2. Menimbang kurang lebih 1 gram garam dapur
  3. Mengencerkan menjadi 100 ml dalam labu takar dan larutkan dengan aquades tepatkan sampai tanda.
  4. Memipet 10 ml larutan masukkan dalam erlenmeyer serta tambahkan indikator K2CrO4
  5. Menitrasi dengan larutan AgNO3 0,01 N
  6. Mengamati hingga terjadi endapan merah (diawal proses pengendapan)
  7. Mencatat hasil pengamatan
  8. Melakukan sebanyak 2 kali


 


 

  • Analisa kadar Cl dalam garam dapur (metode Volhard)
  1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, tetapi sebelumnya dicuci bersi terlebih dahulu
  2. Mengambil 5 ml larutan NaCl, 5 ml HNO3 4 N, 12 ml AgNO3 0,05 N, 5 ml aquades, 0,5 ml indikator Feri Allum (FAS)
  3. Mencampurkan semua larutan tersebut dan masukkan dalam erlenmeyer.
  4. Menitrasi dengan larutan KCNS 0,05 N
  5. Mengamati hingga terjadi perubahan warna merah
  6. Mencatat hasil pengamatan.


 


 


 


 


 


 


 

Bab II

Pendahuluan


 

2.1 Hasil Pengamatan


 

No 

Acara 

Titran 

Titrat 

Indikator 

V. Titran 

Pengamatan 

1 

Analisis kadar Cl dalam garam dapur dengan metode Mohr 

AgNO3 0,01 N

NaCl (10ml)

K2CrO4

  1. 11,3ml
  2. 10,9ml

x =

= 11,1 ml 

Pada larutan NaCl berwarna bening, setelah ditetesi indikator K2CrO4 berubah menjadi warna kuning. Kemudian dititrasi dengan AgNo3 warna perlahan berubah kembali menjadi putih keruh. Titrasi dihentikan setelah terdapat endapan berwarna merah bata.

2 

Analisis kadar Cl dalam garam dapur dengan metode Volhard

KCNS 0,1N 

  • 5ml NaCl
  • 5ml HNO3
  • 12,5ml AgNO
  • 5ml Air Suling

FAS 

a. 2,4 ml

b.2,3ml

x = ml

= 2,35 ml 

Pada larutan awal berwarna putih susu dan terdapat endapan keruh jika didiamkan. Kemudian tidak ada perubahan warna pada penambahan indikator. Setelah ditirasi perlahan berubah dan dihentikan setelah ada endapan berwarna merah bata.


 


 


 

2.2. Hasil Perhitungan


 

Acara I : Penetuan kadar NaCl Metode Mohr

Diketahui :

    VAgNO3     = 11,1 ml

    Fp    = 100/10 x 100/10

        = 100

    N    = 0,05 N

    Bst    = 58,5 gr/mol

    Mgcontoh    = 1000,8 mg

Ditanya : kadar... ?

Jawab :

Kadar NaCL    = x 100%

         = x 100%

     = 324,61%

Kadar Cl        =

        =

        = 196,98%

Acara II : Penetuan kadar NaCl Metode Volhard

Diketahui :

    VAgNO3     = 2,35 ml

    Fp    = 100/10 x 100/10

        = 100

    N    = 0,05 N

    Bst    = 58,5 gr/mol

    Mgcontoh    = 1000,2 mg

Ditanya : kadar... ?


 

Jawab :

Kadar NaCL    = x 100%

         = x 100%

     = 68,7%

Kadar Cl        =

        =

        = 41,68%


 


 


 


 


 

2.3 Analisis Hasil Percobaan


 

    a. Titrasi dengan metode MOHR :


 

  • Pada larutan NaCl berwarna bening, yang mengandung ion halogen yaitu ion Cl- setelah ditetesi indikator kalium kromat (K2CrO4) berubah menjadi warna kuning, yang menandakan indikator telah beraksi dengan larutan titrat.
  • Kemudian dititrasi dengan AgNo3 standar dimana pada saat titrasi ion kromat (CrO42-) bereaksi dengan Ag+ sehingga pertama-tama warna perlahan berubah kembali menjadi putih keruh, yang menandakan telah berlangsung reaksi. Titrasi dihentikan setelah terdapat endapan berwarna merah bata. Endapan ini merupakan garam yang terbentuk dari hasil reaksi antara (CrO42-) bereaksi dengan Ag+ yaitu Ag2CrO4

    Persamaan reaksi :

    CrO42- + 2 Ag+     Ag CrO4 (endapan garam merah bata)


 

b. Titrasi dengan metode Volhard:

  • Pada larutan NaCl atau garam halogen yang akan dijadikan titrat ditambahkan larutan AgNO3 standar berlebihan. Untuk menentukan banyaknya kelebihan ion Ag+ tersebut, kedalam larutan ditambahkan sedikit larutan garam Ferri sebagai indikator.
  • Setelah itu larutan dititir dengan larutan KCNS dan NH4CNS standar. Titik puncak atau akhir titrasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna menjadi merah kecoklat-coklatan pada larutan titrat yang disebabkan terbentuknya ion kompleks Fe(CNS)63- . Dengan persamaan reaksi :

Ag+ + CNS-      AgCNS

Fe3+ + 6 CNS-      [Fe(CNS)6]3-

  1. Reaksi-reaksi
  • Reaksi antara NaCl dengan AgNO3 pada titrasi dengan meode Mohr

    NaCl + AgNO3     AgCl + NaNO3

                 (endapan putih)    

AgNO3 + K2CrO4    Ag2CrO4 + KNO3

     ( endapan merah)

  • Reaksi pada metode Volhard

    NaCl + AgNO3     AgCl + NaNO3

        (berlebih)         (endapan putih)    

KCNS + AgNO3     AgCNS + KNO3

Fe(SO4)3 + 6KCNS     Fe(CNS)3 + 3 K2SO4

    (larutan berwarna merah)


 


 


 


 


 


 


 

Bab III

Penutup


 

3.1 Kesimpulan


 

Dari hasil percobaaan dan analisis yang kami lakukan kami menyimpulkan bahwa :

  1. Kadar Cl yang ditentukan dengan metode MOHR adalah sebesar 196,98 %
  2. Kadar Cl yang ditentukan dengan metode Volhard adalah sebesar 41,68 %
  3. Titik akhir titrasi argentometri pada metode MOHR dan Volhard ditandai dengan terbentuknya endapan,
  4. Endapan yang terbentuk pada hasil titrasi merupakan jenis garam-garaman yang tidak bisa larut dalam larutan.
  5. Persamaan reaksi pada titrasi metode:

    a. MOHR

    CrO42- + 2 Ag+     Ag CrO4

    (endapan garam merah bata)


     

    b. Volhard

     Ag+ + CNS-      AgCNS

     Fe3+ + 6 CNS-      [Fe(CNS)6]3-


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM VIII

ACARA

KOMPLEKSOMETRI


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

Pendahuluan


 

1.1 Tujuan percobaan

  • Membuat larutan EDTA
  • Menetapkan Molaritas EDTA
  • Penetapan kesadahan jumlah dalam air


 

1.2 Dasar Teori

Salah satu cara penetapan kadar suatu ion logam berdasarkan terbentuknya suatu senyawa kompleks antar ion logam dengan senyawa pembentuk kompleks ialah dengan kompleksometri. Senyawa pembentuk kompleks sebagai donor elektron sedangkan ion logam yang bertindak sebagai akseptor elektron. Dalam larutan alkali, pembentukan kompleks lebih efisien dan lebih stabil. Namun, jika terlalu alkali, perlu diwaspadai akan terbentuknya endapan logam teroksidasi.

Liganda unidentat adalah liganda (molekul donor elektron) yang ikantannya pada ion logam hanya pada satu tempat saja, jika terdapat pada banyak tempat disebut liganda poli/multiudentat seperti dinatrium EDTA (senyawa yang dengan banyak kation membentuk kompleks dengan perbandingan 1 : 1). Umumnya, indikator yang digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah indikator logam yang mempunyai stabilitas yang lebih kecil dari dinatrium EDTA-logam dan bersifat sebagai liganda yang membentuk kompleks-logam yang warnanya berbeda dengan warnanya sendiri. Titrasi kompleksometri bisa digunakan utuk menetapkan jumlah kesadahn air.

Pada awalnya, kesadahan air didefinisikan sebagai kemampuan air untuk mengendapkan sabun, sehingga keaktifan/ daya bersih sabun menjadi berkurang atau hilang sama sekali.  Sabun adalah zat aktif permukaan yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air, sehingga air sabun dapat berbusa. Air sabun akan membentuk emulsi atau sistem koloid dengan zat pengotor yang melekat dalam benda yang hendak dibersihkan.

Kesadahan terutama  disebabkan oleh  keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) didalam air.  Keberadaannya didalam air mengakibatkan sabun  akan mengendap sebagai garam kalsium dan magnesium, sehingga tidak dapat membentuk emulsi secara efektif. Kation-kation polivalen lainnya juga dapat mengendapkan sabun, tetapi karena kation polivalen umumnya berada dalam bentuk kompleks yang lebih stabil dengan zat organik yang ada, maka peran kesadahannya dapat diabaikan. Oleh karena itu penetapan kesadahan hanya diarahkan pada penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+. Kesadahan total didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+ dan Mg2+  tiap liter sampel air.

Secara sederhana, penentuan tingkat kesadahan air untuk masing masing ion dapat dilakukan dengan tehnik titrimetri-kompleksometri. Kation-kation tersebut dititrasi dengan larutan baku ligan pengompleks Na2EDTA (Natrium Etilen Diamin Tetra-Asetat) pada pH tertentu. Dalam melakukan titrasi, kedalam larutan yang mengandung  ion-ion Ca2+ dan Mg2+ ditambahkan indikator (warna 1) membentuk kompleks dalam larutan buffer pada pH tertentu. Penambahan EDTA akan memecah kompleks kation-indikator tersebut membentuk kation-EDTA (Warna II) yang lebih stabil.  Dengan mengamati perubahan warna, maka  titik akhir titrasi kompleksometri dapat  diamati dan ditentukan.

Untuk jelasnya perhatikan reaksi-reaksi yang terjadi pada proses titrasi kompleksometri di bawah ini:

Pada buffer pH 10. Senyawa kompleks lemah berwarna merah anggur

Titrasi :   Ca2+ + H2Y2-   CaY2- + 2H+ 

                  Ca2+ + MgY2-   CaY2- + Mg2+ 
 

Mg2+ + HIn2-  MgIn- + H+ 

                  MgIn- + H2Y2-  MgY2- + HIn2- + H+ 

      Ca2+ + EBT (indikator) → (Ca.EBT)

      Mg2+ + EBT (indikator) → (Mg.EBT) 

Senyawa kompleks kuat berwarna biru

1.3 Alat dan Bahan

a. Alat


 

  • Gelas Erlenmeyer 250 ml
  • Buah buret
  • Gelas Beaker
  • Gelas ukur
  • Batang pengaduk
  • Botol semprot
  • 1 set statif
  • Corong gelas
  • Labu takar 100ml

b. Bahan

  • Larutan standar EDTA 0.01 M
  • Larutan buffer pH 10
  • Indikator Eriocrom Black T (EBT)
  • Larutan HCl
  • CaCO3
  • Sampel air

1.4 Cara Kerja

a. Standarisasi EDTA

  1. Timbang 100mg CaCO3 dengan kaca arloji, dilarutkan dengan HCl 4N lalu dimasukkan ke dalam labu takar 100ml diencerkan dengan air suling sampai tanda tera, lalu dihomogenkan
  2. Dipipet sebanyak 25 ml larutan tersebut kedalam erlenmeyer, tambahkan 10ml larutan buffer ph 10 dan indikator Erio-T secukupnya kemudian dititar dengan larutan EDTA 0,01 M sampai titik akhir titrasi, (perubahan warna dari merah anggur menjadi biru)
  3. Penetapan dilakukan 2 kali
  1. Hitung molaritas (M) EDTA tersebut dengan rumus sebagai berikut :

M EDTA =


 

b. Penetapan Kesadahan Jumlah air kran

  1. Pipet sebanyak 50ml sampel air kran kedalam erlenmeyer kemudian tambahkan 1 ml larutan buffer ph 10 dan 3-4 tetes indikator Erio-T
  2. Larutan tersebut dititar dengan larutan EDTA 0,01M yang sudah distandarisasi sampai titik akhir titrasi (perubahan warna larutan dari merah anggur menjadi biru)
  3. Hitung kesadahan total yang dinyatakan dalam ppm (ml/lt) Ca dengan rumus sebagai berikut :

ppmCa=


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

Praktikum

2.1 Data Hasil Percobaan


 

Acara 


 

Titrat 


 

Titran 


 

Vol. Titran 


 

Indikator 

Perubahan Warna 

Awal 

Akhir 

I` 

CaCO3 + HCl 4 N + Buffer pH 10

EDTA 

1. 9,2 ml

2. 9,2 ml

x = 9,2 ml

EBT 

Merah anggur

Biru  

II 

Air kran + Buffer pH 10

EDTA 

1. 9,6 ml

2. 9,4 ml

x = 9,5 ml

EBT 

Merah anggur 

Biru  


 

2.2 Perhitungan :


 

Acara I : Standarisasi EDTA 0,01 M dengan CaCO3

Diketahui :

    VEDTA     = 9,2 ml

    Fp    = 100/10

        = 10

    BM    = 100,09 mgr/mol

    MgCaCO3    = 100,2 mg

Ditanya : MEDTA... ?

Jawab :

MEDTA        =

         =

     = 0,0091107 M


 

Acara II : Kesadahan Total Air Kran

Diketahui :

    VEDTA    = 9,5 ml

1 ml EDTA = 1 mg CaCO3     9,5 ml = 9,5 mg CaCO3

    mlcontoh    = 50 ml

Ditanya : mg CaCO3/L... ?

Jawab :

ppm Ca        = x 1000ml/l

        = x 1000 ml/l

        = 69,241 ppm


 

mg CaCO3/L    =

         =

     = 190 mg/L

2.2 Pembahasan

    Standarisasi EDTA dilakukan dengan cara menitar larutan baku primer yang mengandung unsur Ca2+ yaitu misalnya kalsium karbonat dengan EDTA. Terlebih dahulu larutan kalsium karbonat tersebut dilarutkan dengan HCl 4N agar kebasaan dari kalsium karbonat tersebut dapat berkurang. Kemudian ditambahkan buffer yang bertujuan untuk menjadikan ph dari larutan naik menjadi 9-10, dan dititrasi dengan larutan EDTASetelah titrasi mencapai titik akhir, maka terjadi perubahan warna dari menjadi biru bening. Volume EDTA yang digunakan adalah 9,2 ml.Dan menurut perhitungan didapatkan Normalitas EDTA adalah sebesar 0,0091107 M


 

    Setelah proses standarisasi selesai, maka dilanjutkan proses titrasi selanjutnya, yaitu antara larutan sampel dengan EDTA. Pada dasarnya konsep titrasi ini sama dengan sebelumnya, yaitu larutan sampel ditambahkan dengan indikator Eriochrom black T sehingga berwarna merah anggur, kemudian dititrasi dengan larutan EDTA sehingga menjadai berwarna biru. Volume EDTA yang digunakan untuk titrasi adalah 9,5 ml. Dari hasil tersebut maka dapat ditentukan kadar Ca yang terkandung dalam sampel, yaitu sebesar 190 mg/L

  1. Reaksi-reaksi

    Mln- + HY3-     MY2- + HIn2-

    (Merah)                 (Biru)

Ca2+ + H2Y2-   CaY2- + 2H+ 

Ca2+ + MgY2-   CaY2- + Mg2+ 
 

Mg2+ + HIn2-  MgIn- + H+ 

MgIn- + H2Y2-  MgY2- + HIn2- + H+ 

      Ca2+ + EBT (indikator) → (Ca.EBT)

      Mg2+ + EBT (indikator) → (Mg.EBT) 

    Senyawa kompleks kuat berwarna biru


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

Penutup


 

3.1 Kesimpulan

    Dari hasil percobaan dan analisis yang kami lakukan kami mendapatkan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Penetapan jumlah kesadahan air dapat dilakukan dengan titrasi kompleksometri menggunakan larutan EDTA
  2. Air kran mengandung unsur CA2+ dan Mg2+ sehingga bisa digolongkan air sadah
  3. Indikator yang baik digunakan dalam titrasi ini adalah Eriochrom black T, karena memiliki range ph antara 8-10
  4. Normalitas EDTA yang digunakan adalah 0,0091107 M
  5. Kesadahan sampel air yang kami gunakan sebesar 190 mg/L


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM IX

ACARA

GRAVIMETRI


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab I

Pendahuluan


 

1.1 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum yang kami lakukan adalah :

  1. Menyaring dan mencuci endapan untuk penetapan kadar Cr
  2. Menetapkan kadar Cr


 

1.2 Dasar Teori

Prinsip penetapan gravimetri dari sustu unsur ialah bahwa unsur atau zat tersebut diendapkan dengan suatu pereaksi sebagai oksid atau garam dari unsur itu yang tidak dapat larut dan mengendap. Menurut pengertiannya, analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Salah satu metode analisis gravimetri adalah metode pengendapan.

    Metode pengendapan dilakukan sedemikian rupa hingga memudahkan proses pemisahan. Aspek yang penting dan perlu diperhatikan dalam metode pengendapan adalah :

  • endapannya mempunyai kelarutan yang kecil sekali dan dapat dipisahkan sdalam proses filtrasi atau penyaringan.
  • sifat fisik endapan sedemikian rupa sehingga mudah dipisahkan dari kelarutannya dengan filtrasi, dapat dicuci untuk menghilangkan pengotor, ukuran partikelnya cukup besar serta endapan dapat diubah menjadi zat murni dengan komposisis kimia tertentu

    Pada temperatur tertentu, kelarutan zat dalam pelarut tertentu didefinisikan sebagai jumlahnya bila dilarutkan pada pelarut yang diketahui beratnya dan zat tersebut mencapai kesetimbangan dengan pelarut itu. Hal ini tergantung pada ukuran partikel. Larutan lewat jenuh adalah larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih besar dibandingkan dalam keadaan kesetimbangan pada suhu tertentu. Larutan lewat jenuh merupakan keadaan yang tidak stabil dan dapat diubah menjadi keadaan kesetimbangan dengan menambah kristal zat terlarut.

    Umumnya pengendapan dilakukan pada larutan yang panas sebab kelarutan bertambah seiring dengan bertambahnya temperatur. Pengendapan dilakukan dalam larutan encer yang ditambahkan pereaksi perlahan-lahan dengan pengadukan yang teratur, partikel yang terbentuk lebih dahulu berperanan sebagai pusat pengendapan. Untuk memperoleh pusat pengendapan yang besar suatu reagen ditambahkan agar kelarutan endapan bertambah besar.

    Pemisahan endapan dari larutan tidak selalu dihasilkan zat murni. Kontaminasi endapan oleh zat lain yang larut dalam pelarut disebut koprisipitasi. Hal ini berhubungan dengan adsorpsi pada permukaan partikel dan terperangkapnya zat asing selama proses pertumbuhan kristal primernya. Pengotoran dapat juga disebabkan oleh postprestipasi, yaitu pengendapan yang terjadi pada permukaan endapan pertama. Hal ini terjadi pada zaat yaang sedikit larut kemudian membentuk larutan jenuh. Zat ini mempunyai ion yang sejenis dengan endapan primernya, misalnuya pengendapan CaC2O4 dengan adanya Mg, maka akan terbentuk MgC2O4 bersama Ca2O4. lebih lama waktu kontak, maka besar kemungkinan terjadi lebih banyak endapan.

Keadaan optimum untuk pengendapan adalah sebagai berikut :

  • Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer yang bertujuan untuk memperkecil kesalahan akibat koprisipitasi.
  • Pereaksi dicampurkan perlahan-lahan dan teratur dengan pengadukan yang tetap. Ini berguna untuk pertumbuhan kristal yang teratur. Untuk kesempurnaan reaksi, pereaksi yang ditambahkan harus berlebih. Urut-urutan pencampuran harus teratur dan sama.
  • Pengedapan dilakukan pada larutan panas bila endapan yang terbentuk stabil pada temperatur tinggi. Aturan ini tidak selalu benar untuk endapan organik
  • Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang lama dengan menggunakan pemanas uap untuk menghindari terjadinya konsipterasi.
  • Endapan harus dicuci dengan larutan pengecer
  • Untuk menghindari postprespitasi atau koprespitasi sebaiknya dilakukan pengendapan ulang.

    Dalam metode pengendapan, larutan yang telah disaring, kemudian endapannya dicuci. Tujuan pencucian endapan adalah menghilang senyawa-senyawa pengotor yang tekandung pada endapan, agar didapat berat endapan murni yang bebas pengotor.

    Setelah endapan dicuci, kemudian endapan tersebut dibakar, tujuannya agar sisa air yang terkaandung dalam endaapan hilang, dandidapatkaan berat endapan murni yang siap untuk ditimbang.


 

1.3 Alat dan Bahan

    a. Alat

  • Gelas beker
  • Pengaduk gelas
  • Kaca arloji
  • Kompor listrik
  • Neraca analitik
  • Pipet volum
  • Pipet
  • Furnace
  • Kertas saring whatman no. 41


 

    b. Bahan

  • K2CrO4 0,2gr
  • H2SO4 2,5 ml
  • Na2SO3 0,5gr
  • NH4OH 10% berlebih
  • Aquadest
  • HCl 4N
  • BaCl2


 


 


 


 

1.4 Cara Kerja


 

  • Timbang berat kurs porselen
  • Kemudian timbang 0,2gr K2CrO4 kemudian dilarutkanh kedalam aquades
  • Tambahkan H2SO4 4N dan Na2SO3 sebanyak 0,5gr kemudian dihomogenkan
  • Panaskan larutan tersebut hingga berwarna hijau kekuningan
  • Selanjutnya encerkan larutan menjadi 100ml dan panaskan hingga mendidih
  • Larutan yang telah mendidih kemudian didinginkan dan ditetesi dengan amoniak, hingga terbentuk seperti koloid dan berbau amoniak
  • Larutan tersebut disaring dengan kertas whatman no. 41 dan endapannya dicuci dengan aquades panas hingga bebas SO4, caranya dengan uji air hasil penyaringan dengan HCl + BaCl2 beberapa tetes. Apabila terbentuk larutan berwarna putih susu berarti endapan masih mengandung SO4, dan pencucian endapan harus dilakukan lagi.
  • Setelah endapan selesai disaring, kemudian endapan yaang berada dikertas saring dilipat daan dimasukkan kedalam kurs porselen dan dibakar didalam furnace dengan suhu 750 derajat C
  • Setelah selesai pembakaran, kemudian endapan beserta caawan porselennya ditimbang, dan berat yang didapat dikurang dengan berat cawan porselen kosong.
  • Lakukan perhitungan untuk menghitung kadar Cr


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab II

Praktikum


 

  1. Data Hasil Percobaan

    No 

    Tahap 

    Zat yang digunakan 

    Hasil Pengamatan 

    1 

    Pembuatan larutan 

    K2CrO4 + H2SO4 +Na2SO3 + Aquadest

    Larutan yang terbentuk berwarna kuning gelap 

    2 

    Pemanasan 

    Aquadest  

    Larutan menjadi berwarna hijau gelap agak kekuningan dan terlihat agak terbentuk endapan berwarna hijau 

    3 

    Pengendapan 

    Amoniak (NH4OH)

    Larutan berbau amoniak, berwarna kuning kehijauan gelap, dan terbentuk koloid yang makin lama semakin mengendap

    4 

    Penyaringan dan pencucian endapan  

    Aquadest panas

    HCl

    BaCl2

    Endapan tersaring dikertas whatman, dan air hasil penyaringan berwarna kuning, dan semakin lama dicuci endapannya, air larutannya semakin berwarna bening, dan berdasarkan hasil uji bebas SO4 pertama kali pada larutan hasil penyaringan berwarna keruh, dan pada uji pada tahap penyaringan berikutnya yaitu setelah 7 kali pencucian endapan dengan aquades panas, hasil uji SO4 berwarna bening

    5 

    Pembakaran 

    - 

    Endapan hasil penyaringan yang dibakar menjadi berwarna hijau tua, dan kertas saring ikut terbakar. 

        

        

  2. Perhitungan


     

    Dik : Berat endapan Cr = 0,0393gr

    Ar Cr = 52

    Mr Cr2O3 = 152

    Berat sampel (K2CrO4) = 0,2gr

    Dit : Kadar Cr...?

    Jawab : %zat = fgrav x     x 100%


     

            f grav =


     

        
     

         =


     

        %zat = 0,684 x     x 100%


     

        = 13,44%


     

    Jadi kadar Cr dalam Cr2O3 adalah 13,44%


     


     

  3. Pembahasan


    Pada saat penambahan reduktor, larutan K2CrO4 menjadi berwarna kuning agak gelap, yang menandakan krom telah mulai tereduksi tetapi belum tereduksi secara sempurna, karena bisa telihat masih ada terdapat warna kuning dan belum sepenuhnya berwarna hijau. Kemudian larutan K2CrO4 yang telah ditambah H2SO4 dan Na2SO3 dipanaskan diatas kompor, sampai larutan menjadi berwarna hijau pekat dan mengendap. Pemanasan ini bertujuan untuk mempercepat proses reduksi krom menjadi valensi 3.

    Selanjutnya adalah proses dimana larutan K2CrO4 diendapkan dengan menggunakan larutan amoniak yang berfungsi sebagai reagen, larutan tersebut pada saat sitetes amoniak menjadi berbentuk koloid dan lama kelamaan mengendap kedasar.

    Setelah proses pengendapan, kemudian endapan disaring dengan kertas whatman no.41 yang bertujuan untuk memisahkan endapan yang berbentuk padat dan air. Dalam penyaringan ini disertyai dengan proses pencucian endapan yang bertujuan agar membersihkan endapan dari kontaminan zat lain agar nantinya berat endapan yang didapat benar-benar murni. Endapan yang disaring dicuci dengan aquades panas yang bertujuan untuk melunturkan So4 yang mengotori Cr agar tersaring dengan kertas whatman. Endapan bisa dikatakan murni apabilaa air hasi pencucian yang diuju dengan larutan HCl dan BaCl3, hasil reaksinya tidak membentuk laarutan endapan berwarna putih susu, tetapi berwarna bening yang menandakan endapan sudah benar-benar bersih dari SO4

    Pada proses ini endapan yang telah disaring dan dicuci, dibakar didalam furnace yang bersuhu 750 derajat celcius, yang bertujuan untuk mengeringkan zat dari air. Endapan dibakar bersama-sama dengan kertas saring

    Setelah selesai proses pengeringan, dan zat sudah dingin, kemudian zat tersebut ditimbang bersama kurs porselennya, didapatkan berat Cr yaitu 0,0393 . Dan melalui perhitungan kadar Cr didapatkan sebesar 13,44 %.


     

    1. Reaksi-reaksi

    Reaksi yang terjadi:

    K2CrO4 + H2SO4        K2Cr2O7 + K2SO4 + H2O

    K2Cr2O7 + H2SO4        H2Cr2O7 + K2SO4

    H2Cr2O7         2CrO3 + H2O

    2CrO3 + 3Na2SO3        Cr2O3 + 4Na2SO4

    Cr2O3 + 3H2SO4        Cr2(SO4)3 + 3H2O

    Cr2(SO4)3 + 6NH4OH        Cr(OH)3 + 3(NH4)2SO4

    2Cr(OH)3        Cr2O3 + 3H2O


     


     

    Bab III

    Penutup


     

    3.1 Kesimpulan


     

    Dari hasil percobaan dan analisis yang kami lakukan kami mendapatkan kesimpulan :

    1. Analisis gravimetri digunakan untuk menentukan kadar suatu zat atau unsur yang terkandung dalam senyawa tertentu melalui proses pengendapan
    2. Analisis gravimetri dapat dibagi menjadi 5 proses pokok, yaitu
  • pembuatan larutan
  • pemanasan
  • pengendapan
  • penyaringan dan pencucian
  • pembakaran
  1. Kadar Cr yang terkandung dalam 0,2 gr K2CrO3 adalah 13,44%


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Daftar Pustaka


 


 

Hermiyati, Indri. 2008. Petunjuk Praktikum Kimia Analisa. Akademi Teknologi Kulit:Yogyakarta

Vogel, A.I.1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan semikro. PT. Kalman Media Pustaka: Jakarta.

R.A.Day,Jr. 1980. analisa kimia kuantitatif.Erlangga: Jakarta.

http://71mm0.wordpress.com/category/my-kuliah/kimia-analisis

http://estie.files.wordpress.com/2008/03/halaman-isi.pdf.

http://202.152.31.169/kimia/analisis_kimia/titrasi.pdf.

http://202.152.31.169/kimia/analisis_kimia/titrasi.pdf.

http://forum.ico.web.id/files/osn_iii/soal_praktek.doc.

http://www.ums.edu.my/sst/kimia/amali3.doc.


 


 


 


 


 


 


 

Yogyakarta, 28 Juni 2008      Mengetahui,

Praktikan,                     Asisten Pembimbing


 


 


 

(Rusdita Eka Perdana)                 ( Eko Nuraini, Amd )     

No. Mh : 07.TPL.TBKKP.14


 


 

8 komentar:

  1. idrisfirdaus1412@yahoo.com17 September 2011 20.49

    rumus buat nentuin kadar CLnya gmn gan???

    BalasHapus
  2. terima kasih infonya,, sangat bermanfaat..
    SIlahkan kunjungi blog saya.
    Mari blogwalking!!!!!!!!!

    BalasHapus
  3. panjang banget ya?
    btw bisa buat referensi ujian praktik.

    BalasHapus
  4. Aw, this was a very nice post. Finding the time and actual effort
    to create a really good article… but what can I say… I
    hesitate a whole lot and never seem to get anything done.


    my web site: adiphene slimming

    BalasHapus
  5. The acknowledgment really should be instant but successful.
    For those folks who has no interest in tile, you'll want to not just actively communicate with designers, construction teams, but in addition get some understanding on tiles. Your dining space is such a spot exactly where suitable accessories ought to be placed.

    my web blog :: http://www.roomdecorationideas.org/roompictures/preview/4082/designideasforboysbedroomimagesforfreeorg.html

    BalasHapus
  6. It's a pity you don't have a donate button!
    I'd definitely donate to this outstanding blog! I suppose for now i'll settle for bookmarking and adding your
    RSS feed to my Google account. I look forward to brand new updates and will
    talk about this website with my Facebook group. Chat soon!


    Also visit my site :: quantrim tablets

    BalasHapus
  7. I was recommended this web site by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as no one else know such
    detailed about my trouble. You are wonderful!
    Thanks!

    my blog www.crusaderwarcollege.org

    BalasHapus
  8. I was recommended this web site by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as no one else know such detailed about my trouble.
    You are wonderful! Thanks!

    Also visit my webpage www.crusaderwarcollege.org

    BalasHapus