Rabu, 29 April 2009

KATA PENGANTAR


 


 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, karena hanya karena kehendak-Nya lah Laporan Resmi Praktikum Kimia Organik ini dapat direvisi dan terselesaikan tanpa halangan suatu apapun.

Penyusunan laporan ini adalah sebagai syarat untuk memenuhi tugas praktek Kimia Organik yang penulis jalani. Di dalam laporan ini, berisi mengenai laporan hasil praktikum penulis selama satu semester, yang merupakan hasil pengeditan dari laporan-laporan kimia organik sebelumnya.

Akhirnya, besar harapan penulis bahwa Laporan Lengkap Praktikum ini dapat bermanfaat bagi segenap akademisi maupun pihak yang berkepentingan lainnya. Penulis memahami bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, besar harapan penulis menerima saran dan kritik dari para pembaca laporan ini.


 


 


 


 


 


 


 

Yogyakarta, 26 Juli 2008


 


 


 


Penulis


 


 


 

DAFTAR ISI


 


 


 

KATA PENGANTAR    1    

DAFTAR ISI    2

DAFTAR GAMBAR    3

DAFTAR TABEL    4

DAFTAR PERSAMAAN    5

Praktikum I Identifikasi Senyawa Alkohol    6

Praktikum II Identifikasi Senyawa Aldehid dan Keton    26

Praktikum III Identifikasi Senywa Hidrokarbon    40

Praktikum IV Analisis Kadar Protein    58

Praktikum V Analisis Minyak Nabati    75

Praktikum VII Analisis Kadar Pati     92

Praktikum VII Pembuatan Minyak Atsiri    108

DAFTAR PUSTAKA    120


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

DAFTAR GAMBAR


 


 

Gambar 1.1 struktur alkohol Primer    7

Gambar 1.2 struktur alkohol sekunder    8

Gambar 1.3 struktur alkohol tersier    8

Gambar 1.4 penggantian gugus alkohol dengan bromin    10

Gambar 1.5 oksidasi jenis-jenis alkohol    10

Gambar 1.6 persamaan setengah reaksi oksidasi parsial menjadi aldehid    11

Gambar 1.7 persamaan reaksi sederhana reaksi oksiadsi alkohol menjadi aldehid    11

Gambar 1.8 struktur sederhana alkohol primer dan alkohol    12

Gambar 1.9 persamaan reaksi sederhana alkohol sekunder dengan keton    12

Gambar 3.1 reaksi hidrokarbon tak jenuh menjadi hidrokarbon jenuh    42

Gambar 3.2 reaksi alkana dengan brom    44

Gambar 3.3 reaksi alkil halida    45

Gambar 3.4 reaksi dengan kalium permanganat    45

Gambar 3.5 reaksi alkena dengan atom karbon tersubtitusi    46

Gambar 3.6 gugus karbonil dari keton    47

Gambar 3.7 peruraian ikatan pada crc    47

Gambar 3.8 reaksi adisi alkana dan alkuna    55

Gambar 3.9 reaksi subtitusi alkana dan alkuna    55

Gambar 3.10 reaksi alkana dengan asam sulfat    56

Gambar 4.1 penggantian gugus amina    60

Gambar 4.2 bentuk gugus amino    60

Gambar 6.1 struktur glukosa    96

Gambar 6.2 pemecahan rantai karbohidrat    104

Gambar 6.3 struktur monosakarida    104


 


 


 


 

DAFTAR TABEL


 

Tabel 1.1 hasil pengujian densitas alkohol    16

Tabel 1.2 hasil pengujian viskositas    16

Tabel 1.3 hasil pengujian kelarutan alkohol    17

Tabel 1.4 hasil pengujian kadar air secar kualitatif pada alkohol    17

Tabel 1.5 hasil pengujian reaksi esterifikasi alkohol    18

Tabel 1.6 hasil pengujian reaksi oksidasi alkohol    18

Tabel 1.7 hasil pengujian reaksi alkohol dengan brom    19

Tabel 1.8 hasil pengujian reaksi alkohol dan FeCl3    20

Tabel 2.1 hasil pengujian densitas aldehid dan keton    32

Tabel 2.2 hasil pengujian viskositas aldehid dan keton    32

Tabel 2.3 hasil pengujian kelarutan aldehid dan keton    33

Tabel 2.4 hasil pengujian sifat kimia aldehid dan keton    33

Tabel 3.1 hasil pengujian densitas    50

Tabel 3.2 hasil pengujian viskositas    50

Tabel 3.3 hasil pengujian kelarutan    50

Tabel 3.4 hasil pengujian reaksi hidrokarboan dengan brom    51

Tabel 3.5 hasil pengujian reaksi hidrokarbon dengan asam sulfat    52

Tabel 3.6 hasil pengujian reaksi hidrokarbon dengan kalium permanganat    53

Tabel 4.1 hasil pengamatan penentuan kadar protein cakar ayam    65

Tabel 5.1 macam-macam struktur trigliserida jenuh    77

Tabel 5.2 macam-macam struktur trigliserida tak jenuh    78

Tabel 5.3 hasil pengamatan pembuatan asam standar    83

Tabel 5.4 hasil pengamatan penentuan asam lemak total dan asam lemak bebas    83

Tabel 6.1 pembagian monosakarida    94

Tabel 6.2 hasil pengamatan hidrolisis pati    100

Tabel 7.1 hasil pengamatan ekstraksi dan destilasi minyak atsiri    112


 


 

DAFTAR PERSAMAAN


 

Persamaan 1.1 penentuan densitas Alkohol    20

Persamaan 1.2 penentuan viskositas alkohol    20

Persamaan 2.1 penentuan densitas aldehid dan keton    35

Persamaan 2.2 penentuan viskositas aldehid dan keton    36

Persamaan 3.1 penentuan densitas hidrokarbon    48

Persamaan 3.2 penentuan viskositas hidrokarbon    48

Persamaan 4.1 berat protein    62

Persamaan 4.2 penentuan normalitas HCl    66

Persamaan 4.3 penentuan jumlah m grek NH3    66

Persamaan 4.4 penentuan berat "N" total    67

Persamaan 4.5 penentuan Wp    67

Persamaan 4.6 penentuan kadar protein    67

Persamaan 5.1 standarisasi larutan HCl    84

Persamaan 5.2 standarisasi NaOH    85

Persamaan 5.3 penentuan asam lemak bebas    85

Persamaan 5.4 penentuan VHCl    86

Persamaan 5.5 penentuan VHCl Blanko    86

Persamaan 5.6 penentuan asam lemak total    86

Persamaan 6.1 persamaan Arrhenius    97

Persamaan 6.2 berat glukosa murni    102

Persamaan 6.3 berat glukosa hasil hidrolisis    102

Persamaan 6.4 berat glukosa bahan yang dianalisa    103

Persamaan 6.5 kadar pati bahan    103

Persamaan 7.1 kadar minyak atsiri    115


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM I

ACARA

IDENTIFIKASI SENYAWA ALKOHOL


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

Pendahuluan

  1. TUJUAN
    1. Praktikan diharapkan memahami dan mengerti mengenai reaksi dan identifikasi alkohol serta mengetahui sifat-sifat alkohol
    1. Praktikan diharapkan dapat membuktikan dasar teori yang ada sebelumya melalui hasil pengamatan praktikum


     

    1.2 DASAR TEORI

  • Pengertian

Alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain atau dalam kata lain Alkohol adalah senyawa-senyawa dimana satu atau lebih atom hidrogen dalam sebuah alkana digantikan oleh sebuah gugus –OH. Rumus alkohol molekul alkohol adalah CnHn+1OH.

Alkohol memiliki tiga jenis yaitu:

  1. Alkohol Primer

Alkohol primer(1°) adalah atom karbon yang membawa gugus -OH hanya terikat pada satu gugus alkil.

Beberapa contoh alkohol primer ditunjukkan pada gambar 1.1


 

                    Gambar 1.1

                                (www.chem-is-try.org)

Tetapi Ada pengecualian untuk metanol, CH3OH, dimana metanol ini dianggap sebagai sebuah alkohol primer meskipun tidak ada gugus alkil yang terikat pada atom karbon yang membawa gugus -OH.

  1. Alkohol Sekunder

Alkohol sekunder (2°), adalah atom karbon yang mengikat gugus -OH berikatan langsung dengan dua gugus alkil, kedua gugus alkil ini bisa sama atau berbeda.

Beberapa contoh alkohol sekunder ditunjukkan pada gambar 2


 

            Gambar 1.2

                        (www.chem-is-try.org)

  1. Alkohol Tersier

Alkohol tersier (3°), adalah atom karbon yang mengikat gugus -OH berikatan langsung dengan tiga gugus alkil, yang bisa merupakan kombinasi dari alkil yang sama atau berbeda.

Beberapa contoh alkohol sekunder ditunjukkan pada gambar 1.3


 

        Gambar 1.3

                (www.chem-is-try.org)


 


 

  • Sifat-Sifat Alkohol

Titik Didih

Dilihat dari titik didihnya senyawa alkohol memilki titik didih yang terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah atom karbon yang dimilikinya.

Ikatan Hidrogen

Ikatan hidrogen terjadi antara molekul-molekul dimana sebuah atom hidrogen terikat pada salah satu dari unsur yang sangat elektronegatif - fluorin, oksigen atau nitrogen.

Untuk alkohol, terdapat ikatan hidrogen antara atom-atom hidrogen yang sedikit bermuatan positif dengan pasangan elektron bebas pada oksigen dalam molekul-molekul lain.

Kelarutan Alkohol dalam Air

Alkohol-alkohol yang kecil larut sempurna dalam air. Bagaimanapun perbandingan volume yang kita buat, campurannya akan tetap menjadi satu larutan.

Akan tetapi, kelarutan berkurang seiring dengan bertambahnya panjang rantai hidrokarbon dalam alkohol. Apabila atom karbonnya mencapai empat atau lebih, penurunan kelarutannya sangat jelas terlihat, dan campuran kemungkinan tidak menyatu. Contoh butanol yang memilki jumlah atom karbon empat.

C. Reaksi – Reaksi Alkohol

Penggantian gugus -OH dengan bromin

Untuk mengganti gugus -OH pada alkohol dengan bromin, pereaksi yang umumnya digunakan adalah campuran antara natrium atau kalium bromida dengan asam sulfat pekat (bukan asam hidrobromat). Campuran ini menghasilkan hidrogen bromida yang bereaksi dengan alkohol. Campuran dipanaskan untuk memisahkan bromoalkana melalui distilasi.

Persamaan reaksi penggantian gugus alkohol pada bromin dapat dilihat pada gambar 1. 4


 

Gambar 1.4

        (www.chem-is-try.org)

Oksidasi Alkohol

Halaman ini menjelaskan tentang oksidasi alkohol menggunakan larutan natrium atau kalium dikromat(VI) yang besifat asam. Reaksi ini digunakan untuk membuat aldehid, keton dan asam karboksilat, dan sebagai sebuah cara untuk membedakan antara alkohol primer, sekunder dan tersier.

Oksidasi jenis-jenis alkohol (primer, sekunder dan tersier)

Agen pengoksidasi yang digunakan pada reaksi-reaksi ini biasanya adalah sebuah larutan natrium atau kalium dikromat(V)) yang diasamkan dengan asam sulfat encer. Jika oksidasi terjadi, larutan orange yang mengandung ion-ion dikromat(VI) direduksi menjadi sebuah larutan hijau yang mengandung ion-ion kromium(III).

Persamaan setengah-reaksi untuk reaksi dapat dilihat pada gambar 1.5


 


Gambar 1.5

                    (www.chem-is-try.org)

Alkohol primer

Alkohol primer bisa dioksidasi baik menjadi aldehid maupun asam karboksilat tergantung pada kondisi-kondisi reaksi. Untuk pembentukan asam karboksisat, alkohol pertama-tama dioksidasi menjadi sebuah aldehid yang selanjutnya dioksidasi lebih lanjut menjadi asam.


 

Oksidasi parsial menjadi aldehid

Oksidasi alkohol akan menghasilkan aldehid jika digunakan alkohol yang berlebihan, dan aldehid bisa dipisahkan melalui distilasi sesaat setelah terbentuk.

Alkohol yang berlebih berarti bahwa tidak ada agen pengoksidasi yang cukup untuk melakukan tahap oksidasi kedua. Pemisahan aldehid sesegera mungkin setelah terbentuk berarti bahwa tidak tinggal menunggu untuk dioksidasi kembali.

Jika digunakan etanol sebagai sebuah alkohol primer sederhana, maka akan dihasilkan aldehid etanal, CH3CHO.

Persamaan lengkap untuk reaksi ini agak rumit, dan kita perlu memahami tentang persamaan setengah-reaksi untuk menyelesaikannya. Persamaannya dapat dilihat pada gambar 1.6


 

                Gambar 1.6

                        (www.chem-is-try.org)

Dalam kimia organik, versi-versi sederhana dari reaksi ini sering digunakan dengan berfokus pada apa yang terjadi terhadap zat-zat organik yang terbentuk. Untuk melakukan ini, oksigen dari sebuah agen pengoksidasi dinyatakan sebagai [O]. Penulisan ini dapat menghasilkan persamaan reaksi yang lebih sederhana, dapat dilihat pada gambar 1.7


 

Gambar 1.7

        (www.chem-is-try.org)

Penulisan ini juga dapat membantu dalam mengingat apa yang terjadi selama reaksi berlangsung. Kita bisa membuat sebuah struktur sederhana yang menunjukkan hubungan antara alkohol primer dengan aldehid yang terbentuk. Dapat dilihat pada gambar 1.8


 

            Gambar 1.8

                    (www.chem-is-try.org)

Alkohol sekunder

Alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton. Sebagai contoh, jika alkohol sekunder, propan-2-ol, dipanaskan dengan larutan natrium atau kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer, maka akan terbentuk propanon.

Perubahan-perubahan pada kondisi reaksi tidak akan dapat merubah produk yang terbentuk.

Dengan menggunakan persamaan reaksi yang sederhana, yang menunjukkan hubungan antara struktur, dapat ditunjukkan pada gambar 1.9


 

Gambar 1.9

        (www.chem-is-try.org)

Jika anda melihat kembali tahap kedua reaksi alkohol primer, anda akan melihat bahwa ada sebuah atom oksigen yang "disisipkan" antara atom karbon dan atom hidrogen dalam gugus aldehid untuk menghasilkan asam karboksilat. Untuk alkohol sekunder, tidak ada atom hidrogen semacam ini, sehingga reaksi berlangsung lebih cepat.

Alkohol tersier

Alkohol-alkohol tersier tidak dapat dioksidasi oleh natrium atau kalium dikromat(VI). Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi.

Jika anda memperhatikan apa yang terjadi dengan alkohol primer dan sekunder, anda akan melibat bahwa agen pengoksidasi melepaskan hidrogen dari gugus -OH, dan sebuah atom hidrogen dari atom karbon terikat pada gugus -OH. Alkohol tersier tidak memiliki sebuah atom hidrogen yang terikat pada atom karbon tersebut. (www.chem-is-try.org)


 


 


 

1.3 BAHAN DAN ALAT

Bahan

  • Etanol
  • Butanol
  • 1-propanol
  • 2-propanol
  • aquades
  • H2SO4
  • Asam astat
  • CuSO4
  • Kalium dikromat
  • Brom
  • FeCl3

 


 

Alat

  • Tabung reaksi
  • Piknometer
  • Viskometer Ostwald
  • Pipet tetes
  • Penjepit Tabung
  • Stopwatch
  • Erlemeyer 250 dan 125 ml
  • Propipet
  • Pipet tetes
  • Pipet ukur 5 dan 10 ml
  • Gelas beker
  • Corong
  • Labu takar 100 dan 250 ml
  • Neraca Analitis
  • Gelas arloji
  • Sudip + sendok
  • Pipet gondok 25 ml
  • Botol semprot

 


 

1.4 PROSEDUR KERJA

A. Prosedur Kerja umum

  1. Alat-alat yang digunakan untuk praktikum dipersiapkan
  2. Mencuci dan membersihkan peralatan praktikum
  3. Menyiapkan bahan-bahan yang digunakan

B. Prosedur Kerja Penentuan densitas

  1. Menimbang berat piknometer kosong
  2. Mengisi piknometer dengan larutan aquades dan amati massanya (sebagai pebanding)
  3. Mengganti isi piknometer dengan larutan sampel yang diuji amati kembali massanya
  4. Kemudian apabila data sudah terkumpul, untuk mencari densitas sampel, dicari dengan rumus densitas.


 

C. Prosedur kerja penentuan viskositas

  1. Mencuci viskometer dengan air aquades
  2. Mengambil 17 ml aquades dengan menggunakan pipet ukur
  3. Memasukkan kedalam viskometer
  4. Menyedot aquades dengan menggunakan propipet hingga tanda garis
  5. Propipet dilepaskan dan mulai melakukan perhitungan waktu sampai aquades sampai titik garis kedua.
  6. Mencatat waktunya dan lakukan hal yang sama diatas dengan mengganti aquades dengan larutan sampel yang ingin diuji
  7. Membandingkan lama waktu setiap sampel yang diuji


 

D. Uji Kelarutan Alkohol

  1. Kedalalam 4 tabung reaksi masukkan 0,5 ml masing-masing senyawa berikut : etanol, butanol, 1-propanol, dan 2-propanol.
  2. Menambahkan 2ml aquades kedalam, tiap-tiap tabung reaksi, kemudian mengaduk dan mengamati.


     

  1. Menunjukkan Adanya Air
    1. Memasukkan 5 cc sampel larutan dalam tabung reaksi yang bersih dan kering, kemudian masukkan kristal tembaga sulfat yang bebas air. Kristal tembaga sulfat kering ini diperoleh dengan memanaskan serbuk tembaga sulfat dalam frush porslen dari biru menjadi putih
    2. Setelah beberapa saat serbuk tembaga akan berubah warnanya menjadi biru hal ini dikarenakan menyerap air dari sampel tersebut.
  2. Esterifikasi Alkohol
    1. Kedalam tabung reaksi yang telah berisi 1cc ethanol dimasukkan beberapa tetes asam asetat kemudian tambahkan pula assam sulfat pekat 2 cc lalu panaskan dalam water bath selama 1 menit, sambil tabung reaksi ditutup dengan kapas atau gabus.
    2. Setelah pemanasan selesai didinginkan dan diamati .


       

  3. Reaksi dengan besi (III) klorida
    1. Kedalam 3 buah tabung reaksi yang berlainan, melarutkan 1 atau 2 tetes phenol
    2. Menambahkan kedalam 5 ml air kedalam masing-masing tabung tambahkan 1 atau 2 tetes larutan besi (III) klorida,
    3. Mengaduk dan mengamati hasilnya, uji juga senyawa n-butanol dan 2-propanol.
  4. Reaksi dengan brom (Fenol)
    1. Kedalam larutan 0,1 g fenol dalam 3 ml air, ditambahkan air brom tetes demi tetes sambil tabung reaksi digoyangkan sampai warna kuning tidak berubah.
    2. Mengamati hasilnya.


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

PRAKTIKUM


 

  1. HASIL DAN PENGAMATAN


     

    1. Densitas

    Hasil pengamatan uji densitas dapat dilihat pada tabel 1.1

    Tabel 1.1        

    No 

    Nama Larutan 

    M1(grm) 

    M2(grm) 

    V (ml) 

    Densitas (ρ)

    1 

    Ethanol  

    19,18  

    42,35 

    25 

    ρ = 42,35 – 19,18

    25

    = 0,9268 gr/ml 

    2 

    Butanol 

    19,148 

    43,04 

    25 

    ρ = 43,04 – 19,148

    25

    = 0,95568 gr/ml 

    3 

    1-Propanol 

    19,184 

    39,22 

    25 

    ρ = 39,22 – 19,184

    25

    = 0,801 gr/ml 

    4 

    2-Propanol  

    19,15 

    42,22 

    25 

    ρ = 42,22 – 19,15

    25

    = 0,9228 gr/ml 


     

    1. Viktositas

    Hasil pengamatan uji viskositas dapat dilihat pada tabel 1.2

    Tabel 1.2

    No 

    Nama Larutan 

    T Aguades

    Tlarutan

    1 

    Ethanol  

    1 menit 13,68 detik 

    2 menit 58,74 detik 

    2 

    Butanol 

    1 menit 13,68 detik 

    2 menit 59,82 detik 

    3 

    1-Propanol 

    1 menit 13,68 detik 

    3 menit 18,05 detik 

    4 

    2-Propanol  

    1 menit 13,68 detik 

    3 menit 58,51 detik 


     

    1. Kelarutan

    Hasil pengamatan uji kelarutan dapat dilihat pada tabel 1.3

    Tabel 1.3

    No 

    Nama Larutan

    Kelarutan  

    Keterangan  

    1 

    Ethanol  

    Larut  

    Larut Sempurna 

    2 

    Butanol 

    Tidak Larut 

    Butanol dan aquades terpisah, butanol diatas dan air dibawah 

    3 

    1-Propanol 

    Larut  

    Durasi waktu larut agak lama 

    4 

    2-Propanol  

    Larut  

    Durasi waktu larut agak lama 


     

    1. Menunjukkan adanya air secara kualitatif

    Hasil pengamatan uji kelarutan dapat dilihat pada tabel 1.4

    Tabel 1.4

    No 

    Nama Larutan 

    Reagen 

    Hasil Pengamatan 

    Keadaan awal 

    Keadaan akhir 

    1 

    Ethanol  

    Kristal CuSO4

    Putih untuk semua reagen dan bening untuk semua sampel 

    Warna biru namun cairan bening (ada sedikit penyerapan)

    2 

    Butanol 

    Kristal CuSO4

    Warna biru namun cairan berwarna biru keruh (ada banyak penyerapan) 

    3 

    1-Propanol 

    Kristal CuSO4

    Berwarna putih,cairan warna bening (tidak terdapat penyerapan) 

    4 

    2-Propanol  

    Kristal CuSO4

    Berwarna biru namun cairan bening (ada sedikit penyerapan) 


     


     


     


     


     

    1. Esterifikasi Alkohol

    Hasil pengamatan uji esterifikasi alkohol dapat dilihat pada tabel 1.5

    Tabel 1.5

    No 

    Nama Larutan 

    Reagen 

    Hasil Pengamatan 

    Keadaan sblm pemanasan 

    Keadaan stlh pemanasan

    1 

    Ethanol  

    Larutan asam asetat (CH3COOH dan larutan H2SO4 pekat

    Bening untuk semua larutan sebelum pemanasan 

    Cairan bening, memiliki bau yang khas 

    2 

    Butanol 

    Cairan berwarna coklat bening, dan memiliki bau yang khas 

    3 

    1-Propanol 

    Cairan berwarna bening, menghasilkan panas dan hampir tidak ada bau

    4 

    2-Propanol  

    Cairan berwarna bening,memiliki bau yang khas dan menyengat 

    B. UJI REAKSI

    1. Reaksi Oksidasi

    Hasil pengamatan uji reaksi oksidasi alkohol dapat dilihat pada tabel 1.6

    Tabel 1.6

    No

    Nama Larutan 

    Reagen 

    Hasil Pengamatan 

    Keadaan sblm pemanasan 

    Keadaan stlh pemanasan 

    1 

    Ethanol  

    Ditambah 4 tetes asam sulfat pekat dan 2 cc larutan kalium dikromat

    Berwarna coklat 

    Menjadi keruh agak kehijauan 

    2 

    Butanol 

    3 

    1-Propanol 

    4 

    2-Propanol


     


     


     

    1. Reaksi Alkohol dengan Brom

    Hasil pengamatan uji reaksi alkohol dengan brom dapat dilihat pada tabel 1.7

    Tabel 1.7

    No 

    Nama Larutan 

    Reagen 

    Hasil Pengamatan 

    Keadaan sblm pemanasan 

    Keadaan stlh pemanasan 

    1 

    Ethanol  

    Masing-masing diambil 3 ml + air brom tetes demi tetes, tabung reaksi digoyangkan

    Berwarna bening 

    Warna menjadi kuning dan terlarut sempurna 

    2 

    Butanol 

    Berbau menyengat, tidak terlarut sempurna terlihat emulsi-emulsi seperti minyak 

    3 

    1-Propanol 

    Terlarut sempurna dan bau menyengat

    4 

    2-Propanol  

    Pada waktu ditetesi brom warnanya kuning tapi setelah tabung reaksi digoyang-goyang warnanya menjadi putih kembali 


     


     


     


     

    1. Reaksi dengan FeCl3

    Hasil pengamatan uji reaksi alkohol dengan FeCl3
    dapat dilihat pada tabel 1.8

    Tabel 1.8


     

    No 

    Nama Larutan

    Reagen 

    Hasil Pengamatan 

    Keadaan sblm pemanasan 

    Keadaan stlh pemanasan 

    1 

    Ethanol  

    masing-masing diambil 5 ml kemudian ditambahkan satu atau dua tetes FeCl3

    Bening dan menjadi agak kekuningan setelah ditetesi FeCl3

    Tetap kuning seperti warna semula

    2 

    Butanol 

    3 

    1-Propanol 

    4 

    2-Propanol  


     

  2. PERHITUNGAN

    Perhitungan Densitas (r) dapat dihitung menggunakan rumus:

    r = M2 – M1 ...........Persamaan 1.1

    Vpikro


     

    Perhitungan tersebut telah diuraikan pada tabel 1.1


     

    Perhitungan Viskositas (M) dapat dihitung dengan rumus:

    Mx = rx . tx . m
    aquades


    r aquades t aquades     ................Persamaan 1.2


     


     


     


     

    1. Viskositas Etanol


    r larutan Etanol 0,9268


    r aqds      1

    t Etanol 2 menit 58,74 = 178,74 s

    t aquades      1 menit 13,68=73,68 s


    m
    aquades 0,7

    M.ethanol = 0,9268 x 178,74 x 0,7

    1 73,68

    = 0,9268 x 2,425 x 0,7

    = 1,573 cp


     

    1. Viskositas Butanol


    r larutan Butanol 0,95568


    r aqds      1

    t Butanol 2 menit 59,82 = 179,82 s

    t aquades      1 menit 13,68=73,68 s


    m
    aquades     0,7


     

    M.butanol = 0,95568 x 179,82 x 0,7

    1 73,68

    = 0,95568 x 2,44 x 0,7

    = 1,632 cp


     

    1. Viskositas 1-propanol


    r larutan 1-propanol 0,801


    r aqds      1

    t 1-propanol 3 menit 18,05 = 198,05 s

    t aquades      1 menit 13,68=73,68 s


    m
    aquades      0,7


     

    M.1-propanol= 0,801 x 198,05 x 0,7

    1 73,68

    = 0,801 x 2,687 x 0,7

    = 1,5 cp


     

    1. Viskositas 2-propanol


    r larutan 2-propanol 0,9228


    r aqds      1

    t 2-propanol 3 menit 58,51 = 238,51 s

    t aquades      1 menit 13,68=73,68 s


    m
    aquades      0,7


     

    M.2-propanol= 0,9228 x 238,51 x 0,7

    1 73,68

    = 0,9228 x 3,237 x 0,7

    =2,09 cp


     

    2.3 Pembahasan

  • Uji sifat fisis
  • Uji Densitas

Secara teoritis, berat jenis alkohol bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah atom karbon karena hal ini secara otomatis mempengaruhi bertambahnya berat molekul atom. (www.che-is-try.org)

Fenol mempunyai berat jenis paling besar, hal ini dikarenakan Fenol tersusun dari cincin aromatik (benzena) yang mempunyai jumlah atom karbon C lebih banyak dari jenis alkohol lain yang digunakan. Namun, dalam praktikum terdapat sedikit penyimpangan dimana Butanol yang mempunyai 4 atom karbon berat jenisnya (0,8988 gr/ml) lebih kecil jika dibandingkan dengan Etanol (0,9304 gr/ml) yang "hanya" mempunyai 2 atom karbon. Hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan penimbangan atau pada saat pengeringan pikno, dimana pikno seharusnya dimasukkan ke dalam desikator terlebih dahulu untuk menghilangkan sisa air yang masih tertinggal. Hal ini juga dapat disebabkan karena pada pikno terdapat lemak ataupun kotoran akibat dipegang.

  • Uji Kelarutan

Pada uji kelarutan juga terjadi penyimpangan dimana Butanol dapat larut dalam akuades, sedangkan Butanol merupakan anggota pertama dari seri homolog yang tidak larut dalam air karena sifat hidrofob (tidak suka air) yang alamiah dari gugusan n-butil. Alkohol yang mempunyai berat formula lebih tinggi makin sukar larut, begitu pun dengan Fenol yang tidak dapat larut dan terbentuk dua lapisan seperti minyak. Sedangkan untuk Etanol, 1-Propanol dan 2-Propanol dapat terlarut dalam air sehingga gugusan ini disebut hidrofil (suka air).

  • Uji Viskositas

Untuk uji viskositas, pada hasil pengujian terlihat bahwa nviilai viskositas meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah rantai atom karbon, dimana Etanol mempunyai nilai viskositas terkecil dan Fenol terbesar.


 

2. Uji Sifat Kimia

  • Oksidasi Alkohol dan Fenol

Etanol, Butanol, dan 1-Propanol merupakan alkohol primer sehingga perubahan yang terjadi setelah oksidasi sama, yaitu berwarna coklat kehijauan. Hasil oksidasi dapat berupa asam karboksilat. 2-Propanol yang merupakan alkohol sekunder mengalami perubahan yang sedikit berbeda, yaitu warna coklat kekuningan pada hasil akhir. Hasil oksidasi yang terjadi adalah keton. Sedangkan untuk Fenol hasil reaksi yang terjadi merupakan campuran yang kompleks, hal ini dapat dilihat dari perubahan yang terjadi dimana terdapat endapan berwarna hitam pada hasil akhir.

  • Reaksi dengan FeCl3

Pada reaksi ini perubahan yang terjadi pada seluruh larutan sama, yaitu menjadi bening dari larutan yang awalnya terdiri dari dua lapisan dan terdapat gel. Sedangkan secara teoritis larutan bereaksi dan menghasilkan perubahan warna. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi operasional yang tidak memungkinkan bagi kedua larutan bereaksi.


 

  • Reaksi dengan Brom

Kesemua larutan setelah reaksi menunjukkan adanya dua lapisan. Khusus untuk Fenol, terdapat endapan putih yang menunjukkan bahwa kedua larutan bereaksi dan terbentuk endapan Bromophenol.

  • Reaksi Esterifikasi

Terjadinya reaksi esterifikasi ditunjukkan dengan timbulnya bau yang khas dari larutan dan hal ini terjadi pada larutan Etanol, Butanol, 1- Propanol dan 2-Propanol. Sedangkan untuk Fenol tidak timbul bau, sehingga dapat disimpulkan bahwa larutan tercebut tidak mengalami reaksi esterifikasi dengan asam asetat.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

PENUTUP


 

3.1 KESIMPULAN

  1. . Jenis-jenis alkohol dapat dibagi menjadi 3 berdasarkan gugus OH-nya terikat pada atom C yang mengikat satu, dua atau tiga atom karbon lain.
    1. alkohol primer
    2. alkohol sekunder
    3. alkohol tersier


     

  2. . Dalam reaksinya, masing-masing jenis alkohol, baik alkohol primer, sekunder, maupun tersier memiliki reaksi yang berbeda.

3. Pada uji densitas, larutan butanol yang memiliki densitas yang paling besar dan larutan 1- propanol memiliki densitas paling kecil hal tersebut karena dipengaruhi oleh masa jenis larutan tersebut makin kecil masa jenis larutan maka makin kecil juga jumlah densitasnya.

  1. Sedangkan pada uji viskositas larutan 2-propanol memilki waktu paling lama dan yang paling cepat viskositasnya adalah larutan etanol karena durasi waktu turun tergantung pada tingkat kepekatan suatu larutan yang diuji semakin tinggi kepakatannya maka semakin lama viskositasnya
  2. Semakin banyak atom C yang mengikat dalam suatu jenis alkohol, maka kelarutan terhadap air semakin berkurang
  3. Hampir semua jenis alkohol, yang mewakili alkohol primer, sekunder, dan tersier dapat teroksidasi dengan reagen asam sulfat dan kalium dikromat
  4. Alkohol primer, dan sekunder dapat bereaksi dengan bromin,dengan hasil sampingan adalah air, contohnya:


     

  5. Semua jenis alkohol, baik alkohol primer, sekunder maupun tersier tidak dapat bereaksi dengan FeCl3    


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM II

ACARA

IDENTIFIKASI

SENYAWA ALDEHID

DAN

KETON


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

Pendahuluan


 

  1. Tujuan
    1. Praktikan diharapkan memahami dan mengerti mengenai reaksi dan identifikasi aldehid dan keton serta mengetahui sifat-sifat aldehid dan keton.
    2. Praktikan mampu membedakan antara senyawa aldehid maupun keton


 

  1. Dasar Teori

Aldehid dan keton adalah atom karbon yang dihubungkan dengan atom oksigen oleh ikatan ganda (dua gugus karbonil).

Aldehid adalah senyawa organik yang karbon-karbonilnya (karbon yang terikat pada oksigen) selalu berikatan dengan paling sedikit satu hidrogen.
Rumus umum aldehid adalah CnH2nO. Keton adalah senyawa organik yang karbon – karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lain.

Aldehid dan keton dicirikan oleh adanya gugus karbonil, yanag barangkali merupakan gugus fungsi paling penting dalam kimia organik. Aldehid memiliki sedikitnya satu atom hidrogen melekat pada atom karbon karbonil. Gugus sisanya dapat berupa atom hidrogen lain atau gugus organik alifatik atau aromatik. Gugus –CH=O yang merupakan dari ciri aldehida sering disebut gugus formil .Pada keton, atom karbon karbonil terhubung dengan dua atom karbon lain. (www.chem-is-try.org)

Aldehid dapat dioksidasi oleh asam kromat sedangkan keton tidak. Ketika aldehid teroksidasi, akan terjadi perubahan warna dari coklat kemerahan menjadi hijau, karena kromat tereduksi menjadi Cr+3. inilah yang membedakan aldehid dan keton. Aldehid juga dapat teroksidasi oleh reagen Tollens, suatu zat yang mengandung Ag+. Ion perak akan tereduksi menjadi logam perak. Ion logam adalah pengoksidasi yang lemah, aldehid sangat mudah teroksidasi dan hasilnya akan terbentuk logam perak hasil reduksi dari ion Ag+.


 


 


 

Beberapa contoh dari Aldehid dan Keton

a. Formalin

Yaitu aldehid yang paling sederhana, dibuat secara besar-besaran melalui oksidasi metanol. Formalin digunakan sebagai disinfektan dan pengawet dan lain-lain.

b. Asetaldehida

Senyawa ini dibuat melalui oksidasi etilena dengan bantuan katalis paladium-tembaga, setengah dari asetaldehid yang diproduksi dioksidasi menjadi asam asetat.

c. Aseton

Yaitu dengan oksidasi propena, oksidasi isopropil alkohol dan oksidasi isopropil benzena. Aseton merupakan pelarut yang baik untuk banyak zat organik (resin, cat, zat warna dan cat kuku). (Fesseden J. Ralp dan Joan.2001)


 


 

  1. Alat dan Bahan

Alat

  • Tabung reaksi
  • Piknometer
  • Viskometer Ostwald
  • Pipet tetes
  • Penjepit Tabung
  • Stopwatch
  • Erlemeyer 250 dan 125 ml
  • Propipet
  • Pipet tetes
  • Pipet ukur 5 dan 10 ml
  • Gelas beker
  • Corong
  • Labu takar 100 dan 250 ml
  • Neraca Analitis
  • Gelas arloji
  • Sudip + sendok
  • Pipet gondok 25 ml
  • Botol semprot

 


 

Bahan

  •  
  • Asetaldehid
  • Aseton
  • Na2CO3
  • Asam Asetat
  • NaOH
  • Sodium Hypoklorit
  • Magnesium
  • Larutan Tollens(AgNO3 dalam NaOH)
  • Aquades


 

  1. Prosedur Kerja


 

A. Prosedur Kerja umum

1. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan pada setiap proses

2. Mencuci dan bersihkan alat -alat yang akan digunakan tersebut

  1. Menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan
  2. Membuat larutan KI dengan cara:
  • Menimbang 5 gr KI dengan neraca analisis dan larutkan dengan aquades,
  • Menambahkan aquades hingga volumenya menjadi 50ml.
  • Mengocok hingga menjadi homogen
  • Larutan KI siap untuk digunakan
  1. Membuat larutan Natrium Nitropruside
  • Menimbang 5gr Natrium Nitropruside dengan neraca analisis dan larutkan dengan aquades,
  • Menambahkan aquades hingga volumenya menjadi 50 ml
  • Mengocok hingga menjadi homogen
  • Larutan Natrium Nitropruside siap digunakan

B. Prosedur Kerja Penentuan densitas

1. Menimbang berat piknometer kosong

2. Mengisi piknometer dengan larutan aquades dan amati massanya (sebagai pebanding)

3. Mengganti isi piknometer dengan larutan sampel yang diuji amati kembali massanya

  1. Kemudian apabila data sudah terkumpul, untuk mencari densitas sampel, dicari dengan rumus densitas.


 

C. Prosedur kerja penentuan viskositas

1. Mencuci viskometer dengan air aquades

2. Mengambil 17 ml aquades dengan menggunakan pipet ukur

3. Memasukkan kedalam viskometer

4. Menyedot aquades dengan menggunakan propipet hingga tanda garis

  1. Propipet dilepaskan dan mulai melakukan perhitungan waktu sampai aquades sampai titik garis kedua.
  2. Mencatat waktunya dan lakukan hal yang sama diatas dengan mengganti aquades dengan larutan sampel yang ingin diuji
  3. Membandingkan lama waktu setiap sampel yang diuji


 

D. Uji Kelarutan Aldehid-keton

  1. Kedalalam 3 tabung reaksi masukkan 0,5 ml masing-masing senyawa berikut: formaldehid, asetaldehid, dan aseton.
  2. Menambahkan 1 ml aquades kedalam, tiap-tiap tabung reaksi,
  3. Mengaduk dan amati perbedaan pada ketiga larutan tersebut.


     

E. Identifikasi Aldehid dengan Uji Tollens

  1. Menyiapkan reagen Tollens dalam Erlenmeyer
  2. Memasukkan 2 ml larutan perak nitrat 9% yang telah dicampur dengan 2 ml larutan NaOH 10 %.
  3. Terhadap campuran reaksi, tambahkan larutan amoniak 10%, tetes demi tetes sambil digoyang sampai endapan coklat dari perak oksida mulai melarut.
  4. Memasukkan sample aldehid (asetaldehid dan formaldehid) kedalam tabung reaksi yang berbeda dengan dilarutkan memakai eter tetes demi tetes.
  5. Mengamati terhadap perubahan yang terjadi pada kedua sampel tersebut.
  1. Identifikasi Aldehid dengan Reduksi dari larutan Fehling
    1. Memasukkan 2 ml larutan Asetaldehid kedalam tabung reaksi,
    2. Menambahkan Na2CO3 10% sebanyak 2 ml. Kemudian
    3. Menambahkan masing-masing 2 ml Reagan fehling A dan B.
    4. Memanaskan dalam waterbath atau dengan kompor listrik sampai suhu ±600C atau hingga muncul endapan yang berwarna kuning kemerahan.
  2. Identifikasi Aldehid dengan pembentukan resin (Pendamaran)
    1. Memasukkan 2 ml larutan asetaldehid dan formaldehid kedalam tabung reaksi yang berlainan
    2. Menambahkan 2 ml larutan NaOH 10% kedalam masing-masing larutan
    3. Memanaskan beberapa menit sampai terjadi perubahan pada salah satu larutan.
    4. Mengamati perubahan yang terjadi pada kedua larutan tersebut.
  3. Reaksi Iodoform pada aldehid
    1. Memasukkan 5 ml asetaldehid dan 3 ml formaldehid kedalam tabung reaksi yang berbeda
    2. Menambahkan 2 ml larutan KI 10% dan 6 ml larutan sodium hypoklorit (CaCOCl)
    3. Mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada kedua larutan tersebut dalam setiap prosesnya
  4. Reaksi Iodoform Pada Keton
    1. Memasukkan 0,5 ml aseton kedalam tabung reaksi
    2. Menambahkan 3 ml larutan KI 10% dan 10 ml sodium hypoklorit
    3. Mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada larutan aseton
  5. Reaksi Warna Dari Natrium Nitropruside (Keton)
    1. Memasukkan 0,5 ml Aseton kedalam tabung reaksi
    2. Menambahkan 1 ml larutan Natrium Nitropruside
    3. Menambahkan larutan NaOH encer sampai berlebih untuk merperjelas perubahan yang terjadi tambahkan Asam Asetat (CH3COOH) sampai dirasa cukup.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

Praktikum


 

2.1 Hasil Pengamatan

  1. Densitas

Hasil pengamatan uji densitas dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1


 

No 

Nama Larutan 

M1(grm) 

M2(grm) 

V (ml) 

Densitas (p) 

1 

Aquades (Blanko)

14,7232

39,021

25 

r =39,021–14,7232

25

= 1,0079 gr/ml

2 

Asetaldehid

14,7232

40,6518

25 

r = 40,6518 – 14,7232

25

= 1,037 gr/ml

3 

Aseton

14,7232

34,88

25 

r =34,88– 14,7232

25

= 0,806 gr/ml

4

Formaldehid  

14,7232 

42,1413 

25

r = 42,1413-14,7232

25

= 1,096 gr/ml


 


 

  1. Viskositas

Hasil pengamatan uji viskositas dapat dilihat pada tabel 2.2

Tabel 2.2

No 

Nama Larutan 

T Aguades

TLarutan

Viskositas 

1 

Aquades

1 menit 09,83 detik

  

2 

Aseton

45,44 detik

0,367 pc 

3 

Formaldehid

144,62 detik

1,588 pc 

4 

Asetaldehid

507,82 detik

5,2789 pc 


 


 


 


 


 


 

  1. Kelarutan

Hasil pengamatan uji kelarutan dapat dilihat pada tabel 2.3

Tabel 2.3

No 

Nama Larutan 

Reagen

Kelarutan 

Keterangan 

1 

Formaldehid

Aquades

Larut  

Larut Sempurna dan timbul gelembung-gelembung halus 

2 

Asetaldehid

Larut 

Larut sempurna dan warna agak kekuning-kuningan 

3 

Aseton

Larut  

Larut sempurna dan berwarna bening


 


 


 

  1. Tabel Pengamatan Uji Sifat Kimia Aldehid dan Keton

Hasil pengamatan uji sifat kimia aldehid dan keton dapat dilihat pada tabel 2.4

Tabel 2.4

Bahan

Uji sifat kimia

Perub. Warna

Timbul

bau

Lain-

lain

Warna pereaksi

Awal

Akhir

Asetaldehid

a. Uji Tollens


 


 


 


 


 


 


 

Bening kekuning-kuningan  

Coklat keperak-perakan didindingnya dan terdapat endapan warna coklat menggumpal diengahnya

Saat dan Setelah dipanaskan 

- 

Bening  

b. Uji Reduksi Larutan Fehling


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

bening 

3 fase atas: kuning. Tengah : kuning kemerahan (seperti endapan menggumpal). Bawah: biru kehijauan

Saat dipanaskan 

Terbentuk 3 fase dan endapan mngambang ditengah-tengah

Fehling A: biru. Fehling B: Bening

Fehling A+B :biru pekat

c.pembentukan resin


 


 


 


 


 


 


 

 

Bening kekuning- kuningan

3 fase atas: merah tua. Tengah: merah keorenan. Bawah: coklat

Sebelum dan setelah dipanaskan

Timbul panas dan warna terdiri 3 fase

Bening

 

d. reaksi iodoform

Bening

Coklat muda

Pada saat ditambahkan hypoklorit

Terdapat kristal kuning

Bening

Formaldehid 

a. Uji tolens 

Bening 

Coklat keperak-perakan 

Setelah direaksikan 

Tidak menggumpal 

Bening


 


 


 


 

b. pembentukan resin

Bening

Bening

Tidak ada

Tidak ada

Bening


 


 


 


 


 

c. reaksi iodoform

Bening

2 fase : atas coklat kemerahan, bawah : bening

Hampir tidak ada

Membentuk kristal kuning

Bening


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Aseton


 


 


 


 


 


 


 

a. Reaksi iodoform

Coklat tua

Coklat kemerahan

Tidak ada

Membentuk kristal kuning

 

b. Reaksi warna natrium nitoprusid 

Bening 

Bening 

Tidak ada 

Tidak ada

bening


 


 

2.2 Perhitungan

Perhitungan Densitas (r) dapat dihitung menggunakan rumus:

r = M2 – M1 ...........Persamaan 2.1

Vpikro


 

Perhitungan tersebut telah diuraikan pada tabel 2.1


 


 

Perhitungan Viskositas dapat dihitung dengan rumus:

Mx = rx . tx . m
aquades


r aquades t aquades     ................Persamaan 2.2


 

  1. Viskositas Aseton


r larutan Aseton 0,9228


r aqds      1

t Aseton 45,44

t aquades      69,83


m
aquades      0,7


 

M Aseton = 0,806 x 45,44 x 0,7

1 69,83

= 0,806 x 0,651 x 0,7

=0,367 cp


 

  1. Viskositas Formaldehid


r larutan Formaldehid 1,096


r aqds      1

t Formaldehid 144,62 s

t aquades      69,83


m
aquades      0,7


 

M formaldehid = 1,096 x 144,62 x 0,7

1 69,83

= 1,096 x 2,071 x 0,7

=1,588 cp


 

  1. Viskositas Asetaldehid


r larutan Asetaldehid 1,037


r aqds      1

t Asetaldehid 507,82 s

t aquades      69,83


m
aquades      0,7


 

M formaldehid = 1,037x 507,82 x 0,7

1 69,83

= 1,037 x 7,272 x 0,7

=5,2789 cp

  1. Pembahasan

Larutan Aldehid+fehling A dan fehling B dipanaskan Formaldehid akan berwarna Ungu keruh kebiruan (Biru tua), endapan merah bata Glukosa Ungu bening kebiruan (Merah bata), endapan merah bata. Fehling adalah contoh dari oksidator lemah yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi aldehid. Aldehid merupakan reduktor kuat sehingga dapat mereduksi oksidator lemah . Pada percobaan ini aldehid yang digunakan yaitu formaldehida dan glukosa., formaldehida adalah aldehida yang paling sederhana, dan merupakan gas tak berwarna dengan bau menyengat direaksikan dengan larutan fehling (A dan B) warna larutan berubah menjadi ungu keruh kebiruan . Setelah dipanaskan sampai ± 10 menit terdapat endapan merah bata pada formaldehid dengan larutan berwarna biru tua.

Pada praktikum reduksi dari larutan fehling sebelum dipanaskan larutan asetaldehid yang ditambahkan dengan campuran fehling A dan B direaksikan telah membentuk endapan berwarna biru pekat dan larutan tetap jernih.

Sedangkan pada praktikum identifikasi dengan pembentukan resin dengan zat asetaldehid setelah direaksikan dengan NaOH berwarna orange dan timbul endapan berwarna orange pekat dan terjadi kenaikkan suhu hal ini dipengaruhi oleh larutan NaOH yang bersifat elektrolit bereaksi dengan larutan asetaldehid yaitu Senyawa yang dibuat melalui oksidasi etilena dengan bantuan katalis paladium-tembaga, dan setengah dari asetaldehid yang diproduksi dapat dioksidasi menjadi asam asetat. Sedangkan pada zat formaldehid tidak terjadi perubahan warna karena larutan NaOH tidak dapat bereaksi dengan larutan formaldehid yang merupakan senyawa aldehid yang sangat sederhana dan berasal dari oksidasi metanol.


 


 

BAB III

Penutup

  1. Kesimpulan


 

  1. Aldehid dan keton adalah atom karbon yang dihubungkan dengan atom oksigen oleh ikatan ganda (dua gugus karbonil).
  2. Aldehid adalah senyawa organik yang karbon-karbonilnya (karbon yang terikat pada oksigen) selalu berikatan dengan paling sedikit satu hidrogen.
    Rumus umum aldehid adalah CnH2nO. Keton adalah senyawa organik yang karbon – karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lain.
  3. Aldehid dapat dioksidasi oleh asam kromat sedangkan keton tidak. Ketika aldehid teroksidasi, akan terjadi perubahan warna dari coklat kemerahan menjadi hijau, karena kromat tereduksi menjadi Cr+3.
  4. Beberapa contoh dari Aldehid dan Keton

    a. Formalin

    Yaitu aldehid yang paling sederhana, dibuat secara besar-besaran melalui oksidasi metanol. Formalin digunakan sebagai disinfektan dan pengawet dan lain-lain.

    b. Asetaldehida

    Senyawa ini dibuat melalui oksidasi etilena dengan bantuan katalis paladium-tembaga, setengah dari asetaldehid yang diproduksi dioksidasi menjadi asam asetat.

    c. Aseton

    Yaitu dengan oksidasi propena, oksidasi isopropil alkohol dan oksidasi isopropil benzena. Aseton merupakan pelarut yang baik untuk banyak zat organik (resin, cat, zat warna dan cat kuku).

  5. Senyawa aldehid dapat bereaksi secara positif dengan larutan fehling karena menimbulkan perubahan sifat fisis pada larutan tersebut. Sedangkan senyawa keton tidak dapat bereaksi dengan larutan fehling karena tidak menimbulkan perubahan sifat kimia pada larutannya.
  6. Senyawa aldehide yang bisa bereaksi pada uji pembentukan resin adalah asetaldehide, sedangkan formaldehide tidak dapat bereaksi
  7. Aldehide dan keton dapat bereaksi dengan sodium hypoclorit membentuk iodoform
  8. Senyawa aldehid mempunyai massa jenis dan viskositas lebih besar jika dibandingkan dengan senyawa keton.
  9. Senyawa aldehid dan keton sama-sama dapat larut dalam akuades.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM III

ACARA

IDENTIFIKASI SENYAWA HIDROKARBON


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab I

Pendahuluan

  1. Tujuan

Pada akhir percobaan ini mahasiswa dapat menjelaskan mengenai:

  1. Identifikasi sifat-sifat senyawa hidrokarbon.
  2. Jenis-jenis pereaksi untuk membedakan senyawa-senyawa hidrokarbon


 

  1. Dasar Teori

Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa kimia yang terbentuk dari unsur karbon (C) dan hidrogen(H). Senyawa yang terbentuk oleh kedua unsur ini banyak sekali macamnya. (Fesseden J. Ralp dan Joan.2001)

Senyawa hidrokarbon yang paling sederhana terdiri atas 1 atom C dan 4 atom H yang mempunyai rumus CH4. Rumus hidrokarbon kebanyakan sederhana sehingga mudah diidentifikasi. Misalnya dengan membakar senyawa hidrokarbon dihasilkan karbondioksida dan air. Senyawa karbon sering disebut senyawa organik karena senyawa karbon merupakan bagian dari makhluk hidup. Senyawa hidrokarbon dibagi menjadi:

  • Senyawa Hidrokarbon alifatik

    Adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai rantai lurus bercabang dan melingkar. Senyawa alifatik dibagi menjadi 2 yaitu:

    • Senyawa Hidrokarbon Jenuh

      Merupakan senyawa hidrokarbon yang hanya mempunyai ikatan tunggal. Contohnya : alkana

    • Senyawa Hidrokarbon Tak Jenuh

      Merupakan senyawa hidrokarbon yang mempunyai ikatan tak jenuh, ikatan rangkap dua atau ikatan rangkap tiga.

      Contoh : alkena dan alkuna

  • Senyawa Hidrokarbon aromatik

    Adalah senyawa hidrokarbon yang mempunyai cincin atom karbon yang stabil. Contoh : Benzena.

Tiap-tiap atom karbon tersebut dapat mengikat empat atom lain atau maksimum hanya 4 buah atom hidrogen. Jumlah atom hidrogen dapat ditentukan dari jenis hidrokarbonnya

Rumus Kimia

  1. Senyawa Hidrokarbon jenuh yang paling terkenal adalah alkana

    Rumus umum CnH2n+2

    Jika satu atom H hilang, sehingga rumus molekulnya menjadi CnH2n+1, maka gugus baru tersebut disebut sebagai gugus alkil. Pemberian nama untuk senyawa alkana diambil dari kata bilangan Yunani dan ditambah dengan akhiran –ana. Sedangkan untuk empat suku pertama mempunyai nama khusus.

  2. Senyawa hidrokarbon tak jenuh sering disebut alkena

    Rumus umumnya CnH2n

    Penamaannya berakhiran dengan -ena

  3. Senyawa hidrokarbon yang punya ikatan rangkap tiga pada ikatan atom C nya

    Rumus umumnya CnH2n-2

    Penamaannya diberi akhiran -una

Alkena,alkuna dan alkana siklik termasuk hidrokarbon tak jenuh, karena atom hidrogen masih bisa ditambahkan ke dalam struktur senyawa tersebut. Beberapa contoh reaksi pengubahan hidrokarbon tak jenuh menjadi jenuh dapat dilihat pada


 

katalis

H3C CH CH CH3 + H2    H3C CH CH CH3


 


 

H H


 

     Gambar 3.1. Reaksi hidrokarbon tak jenuh menjadi hidrokarbon jenuh.

                            (Syahbani, M.Wahyu.2008)


 


 

SIFAT FISIK

  • Kelarutan

            Senyawa Hidrokarbon memiliki kelarutan yang baik dalam pelarut yang kepolarannya rendah dan tidak larut dalam pelarut yang sangat polar seperti halnya air.

2.     Densitas

Alkana dan siklo alkana merupakan komponen organik yang mempunyaiberat jenis terkecil Alkena dan alkuna mempunyai densitas lebih rendah daripada air.

3. Viskositas

Pada dasarnya viskositas setiap senyawa hidrokarbon satu sama lainnya berbeda.


 

SIFAT KIMIA

Pada umumnya, alkena dan alkuna lebih reaktif daripada alkana karenamerupakan senyawa tak-jenuh (unsaturated).

Reaksi kimia alkana

1. Ikatan C – C dan C – H adalah ikatan yang cukup kuat sehingga alkana

pada umumnya tidak bereaksi dengan banyak reagen kimia.


 

  • Ikatan C – H dari alkana hanya sedikit terpolarkan _ alkana biasanya tidak terpengaruh oleh sebagian besar basa.
  • Molekul alkana tidak punya elektron terbagi (unshared electron) untuk memungkinkan masuknya asam.
  • Parafin


 

2. Reaktivitas alkana


 

- Alkana bereaksi hebat dengan oksigen jika campuran yang sesuai

dinyalakan _ pembakaran.

- Alkana bereaksi dengan klor dan brom ketika dipanaskan, dan cenderung bereaksi ekplosif dengan flor


 

1. . Reaksi dengan brom

Secara umum, brom akan bereaksi secara subsitusi dengan alkana, dan bereaksi

secara adisi dengan alkena dan alkuna pada kondisi operasi yang sesuai.

i) Reaksi alkana dengan Halida

> Brom kurang reaktif terhadap alkana dibandingkan klor, akan tetapi brom

lebih selektif dalam pemilihan tempat yang diserang ketika bereaksi.

> Flor lebih reaktif dibandingkan klor, akan tetapi juga lebih tidak selektif

Berikut ini merupakan gambar reaksi alkana dengan halida


 


Gambar 3.2

                    (Syahbani, M.Wahyu.2008)

Tes untuk memperlihatkan adanya ikatan rangkap antar karbon :

Alkana tidak bereaksi baik dengan brom maupun klor pada suhu kamar

dan tanpa adanya cahaya.


 

2. Reaksi dengan Asam Sulfat Pekat

Dasar teori :

i) Pada senyawa alifatis,

-alkana tidak dapat bereaksi dengan asam sulfat,

-alkena bereaksi secara adisi dan dapat larut ketika bereaksi dengan asam

sulfat,

- alkuna tidak bereaksi atau bereaksi lambat (dengan katalis HgSO4) dan tidak

dapat larut dalam asam sulfat perubahan warna menjadi gelap.


 

ii) Pada senyawa aromatik, reaksi dapat terjadi dengan lambat secara subsitusi.

iii) Pada saat alkena dicampurkan dengan asam sulfat pekat yang dingin, alkena

akan melarut karena bereaksi secara adisi untuk membentuk alkil hidrogensulfat.

iv) Mekanisme reaksinya sama seperti pada penambahan HX (alkyl halide)11).

> Langkah pertama, alkena menerima H+ dari asam sulfat untuk membentuk

carbocation.

> Langkah kedua, karboksi bereaksi dengan ion hidrogen sulfat untuk

membentuk alkil hidrogen sulfat. Reaksi alkil halida ditunjukkan pada gambar 3.3


 


Gambar 3.3


(Syahbani, M.Wahyu.2008)


 

3. Reaksi dengan Kalium Permanganat


 

i) Potassium permanganat atau osmium tetroxide mengoksidasi alkena

menghasilkan 1,2-diols (glycol). Berikut ini merupakan gambar reaksi yang terjadi dalam reaksi kalium permanganat


 


 

Gambar 3.4

                (Syahbani, M.Wahyu.2008)

Warna ungu kalium permanganat tereduksi menjadi endapan mangan

dioksida berwarna cokelat.    

Alkana dan senyawa aromatis tidak dapat bereaksi dengan larutan kalium

permanganat encer.

ii) Osmium tetroxide memberikan hasil yang lebih tinggi.

_ Osmium tetroxide sangat beracun dan mahal, selain itu osmium tetroxide

menggunakan katalis sebagai kooksidan.

iii) Potassium permanganate merupakan agen oksidasi yang sangat kuat

sehingga mudah menyebabkan oksidasi lanjutan dari glycol.

> Pembatasan reaksi hydroxylation biasanya sulit, akan tetapi dapat

diusahakan dengan pendinginan, pengenceran dan larutan dasar

potassium permanganate.

iv) Oxidative cleavage of alkenes

> Alkena dengan atom karbon tersubsitusi tunggal dipecah secara oksidasi

menjadi garam dari asam karboksilat dengan larutan dasar permanganat. Reaksi tersebut ditunjukkan pada gambar 3.5


 

Gambar 3.5

            (Syahbani, M.Wahyu.2008)

1) Hasil antara reaksi ini bisa jadi glycol yang teroksidasi lebih lanjut

menyebabkan pemecahan pada ikatan karbon-karbonnya.

2) Asidifikasi dari campuran, setelah oksidasi selesai, akan dihasilkan 2

mol asam asetat untuk setiap mol 2-butena.

> Grup CH2 dari 1-alkena teroksidasi sempurna menjadi karbon dioksida dan air dengan permanganat panas.

> Ikatan ganda terurai dari atom karbon menjadi gugus karbonil dari keton.

Reaksi tersebut ditunjukkan pada gambar 3.6


 


 


 

Gambar 3.6

            (Syahbani, M.Wahyu.2008)


 

v) Oxidative Cleavage dari alkuna

> Perlakuan alkuna dengan ozon atau larutan potassium permanganate

menyebabkan peruraian pada ikatan CRC. Persamaan reaksi tersebut ditunjukkan pada gambar 3.7


 


Gambar 3.7

(Syahbani, M. Wahyu. 2008)


 

  1. Alat dan Bahan

  •  
  • Tabung reaksi
  • Pipet tetes
  • Gelas beker 250 ml
  • Pipet gondok 25 ml
  • Piknometer
  • Viskometer
  • Lap kain
  • Botol semprot
  • Labu takar 100 ml
  • Gelas arloji
  • Sudip
  • Timbangan analisis
  • Kertas saring

 


 

Bahan-bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut :

  •  
  • Larutan Benzena 1 %
  • Larutan Iso Oktana 1 %
  • Larutan Heksana
  • Aquades
  • Larutan Brom 2 %
  • Larutan Asam Sulfat pekat
  • Larutan KMnO4 5 %
  •  


 


 

  1. Prosedur Kerja

    I. Uji Densitas

    1. Menyiapkan peralatan dan bersihkan terlebih dahulu alat yang akan digunakan.
    2. Menimbang piknometer kosong, catat beratnya sebagai M1.
    3. Memasukkan benzena, isooktana, dan heksana pada pikno berturut-turut dan timbang. Catat beratnya sebagai M2.

      (Setiap akan melakukan pergantian dari senyawa yang satu ke senyawa yang lain, piknometer harus dicuci dengan aquades).

    4. Mencatat volume penuh piknometer (biasanya bervolume 25 ml).
    5. Menghitung density dengan persamaan :

      ..................Persamaan 3.1

    II. Uji viskositas

    1. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan.

    1. Memasukkan 17 ml aquades ke dalam viskosimeter tunggu sampai turun melewati ruangan bola sebelah kiri.
    2. Menyedot aquades dengan propipet sampai berada pada batas atas ruangan bola sebelah kanan. Jangan sampai ada gelembung.
    3. Lepaskan propipet dan hitung waktu penurunan dari batas atas sampai batas bawah rungan bola tersebut dengan stopwatch.
    4. Mengulangi langkah 2 dan 3 untuk Benzena, Iso Oktana dan Heksana secara berturut-turut. Cuci viskosimeter dengan aquades setiap kali kita akan meneliti senyawa yang lain.
    5. Hitung vikositas dengan persamaan berikut :

.....................Persamaan 3.2


III. Uji kelarutan    

1. Mengambil 4 tabung reaksi dan beri label sesuai nama senyawa yang telah teridentifikasi, yaitu Benzena, Iso Oktana dan Heksana.

2. Masukkan 10 tetes zat tersebut pada masing-masing tabung reaksi.

  1. Menguji kelarutan keempat senyawa tersebut dengan menambahkan masing-masing 10 tetes aquades ke dalam tiap tabung reaksi.
  2. Ulangi tahap 2 dan 3.
  3. Amati kelarutannya.

IV. Reaksi dengan brom

  1. Mengambil 4 tabung reaksi dan beri label sesuai dengan senyawa yang telah teridentifikasi, yaitu benzena, Iso Okatana dan Heksana
  2. Memasukkan 10 tetes senyawa tersebut pada masing-masing tabung reaksi.
  3. Menambahkan 15 tetes larutan brom 2 % ke dalam masing-masing tabung reaksi. Goyangkan tabung dan catat waktu (dalam detik) ketika terjadi perubahan warna brom jika ada).

V. Reaksi dengan Asam Sulfat pekat

  1. Mengambil 4 tabung reaksi dan beri label sesuai nama senyawa yang telah teridentifikasi, yaitu Benzena, Iso Oktana dan Heksana.
  2. Memasukkan 10 tetes senyawa tersebut pada masing-masing tabung reaksi dan tempatkan keempat tabung reaksi di dalam air es.
  3. Menambahkan 5 tetes larutan Asam Sulfat peka. Aduk secara hati-hati dengan sudip (pengaduk kaca) dan tabung reaksi masih di dalam air es. Amati apa yang terjadi mengenai pelepasan kalor, perubahan warna dan homogenitas larutan.


 

VI. Reaksi dengan Kalium Permanganat

  1. Ambil 4 tabung reaksi dan beri label sesuai nama senyawa yang telah teridentifikasi, yaitu Benzena, Iso Oktana dan Heksana.
  2. Masukkan 10 tetes tiap senyawa ke dalam masing-masing tabung reaksi.
  3. Memasukkan 10 tetes larutan Kalium Permanganat 5 %, goyangkan tabung, dan catat waktu ketika terjadi perubahan warna Kalium Permanganat


     


 


 

Bab II

Praktikum

  1. Data Hasil Pengamatan


     

    1. Densitas

    Data hasil pengamatan tersebut ditunjukkan pada tabel 3.1

    Tabel 3.1

    No 

    Larutan 

    M awal pikno 

    M akhir pikno 

    V pikno 

    Densitas 

    1

    2

    3

    4 

    Aquades

    Heksana

    Isooktana

    Benzena 

    15,1356 gr

    15,1356 gr

    15,1356 gr

    15,1356 gr 

    40,2933 gr

    40,2933 gr

    32,5066 gr

    40,6066 gr 

    25 ml

    25 ml

    25 ml

    25 ml 

    1,006308 gr/ml

    1,006308 gr/ml

    0,69484 gr/ml

    1,01884 gr/ml 


     

    1. Viskositas

    Data hasil pengamatan tersebut ditunjukkan pada tabel 3.2

    Tabel 3.2

    No 

    Nama Larutan 

    T aquades

    T larutan

    ρ 

    1 

    Heksana 

    68,47 

    61,93 detik 

    0,6418 cp 

    2 

    Isooktana 

    68,47 

    87,89 detik 

    0,6243 cp 

    3 

    Benzena 

    68,47 

    81,40 detik 

    0,8479 cp


     

    1. Uji Kelarutan

    Data hasil pengamatan tersebut ditunjukkan pada tabel 3.3

    Tabel 3.3

    No 

    Sampel 

    Reagent 

    Keterangan 

    1


     

    Heksana


     

    Aquades


     

    Warna awal dan warna akhir sama yaitu bening (tak berwarna). Terlarut dalam air. Hampir tidak ada bau. 

    2


     


     


     

    Isooktana


     


     


     

    Aquades


     


     


     

    Warna awal bening. Setelah direaksikan dgn aquades warna larutan tetap bening. Namun larutan terbagi menjadi 2 fase (artinya sampel tidak larut dalam air). Bau hampir tidak ada. 

    3 

    Benzena 

    Aquades 

    Warna awal dan warna akhir sama yaitu bening (tak berwarna). Terlarut dalam air. Hampir tidak ada bau.


     

    1. Reaksi dengan Brom

    Data hasil pengamatan tersebut ditunjukkan pada tabel 3.4

    Tabel 3.4

    No 

    Larutan 

    Keadaan awal sampel 

    Keadaan setelah reaksi dengan brom 

    Pengamatan 

    1


     


     


     


     


     


     

    Heksana


     

    Berwarna Bening


     


     


     


     


     

    Berwarna Kuning


     


     


     


     


     

    Setelah direaksikan dengan larutan Brom terdapat emulsi yang berarti larutan belum terlarut sempurna. Setelah proses pemanasan dengan suhu 80ºC, larutan berwarna bening kembali yang berarti larutan sudah terlarut sempurna.

    2


     


     


     


     


     


     


     


     

    Isooktana


     

    Berwarna Bening


     


     


     


     


     


     


     

    Berwarna Kuning


     


     


     


     


     


     


     

    Setelah direaksikan terdapat emulsi yang berarti larutan belum terlarut sempurna. Setelah proses pemanasan dengan suhu 80ºC, larutan berwarna bening kembali yang berarti larutan sudah terlarut sempurna. Namun waktu yang diperlukan lebih lama daripada heksana dan benzena.

    Benzena

    Berwarna Bening 

    Berwarna Kuning

    Setelah direaksikan terdapat emulsi yang berarti larutan belum terlarut sempurna. Setelah proses pemanasan dengan suhu 85ºC, larutan berwarna bening kembali yang berarti larutan sudah terlarut sempurna. Namun waktu yang diperlukan lebih lama daripada heksana.


     

    1. Reaksi dengan Asam Sulfat (H2SO4) pekat

    Data hasil pengamatan tersebut ditunjukkan pada tabel 3.5

    Tabel 3.5

    No 

    Sampel 

    Keadaan sampel  

    Keadaan akhir larutan 

    1


     


     


     


     


     

    Heksana


     


     


     


     

    Tak berwarna (Bening)


     


     

    Berwarna bening, suhu tinggi dan larutan homogen sempurna.

    2


     


     

    Isooktana


     


     


     

    Tak berwarna (Bening)

    Berwarna bening, suhu normal dan terbentuk 2 fase (larutan tidak homogen)

    3 

    Benzena 

    Tak berwarna (Bening)

    Berwarna bening, suhu tinggi dan larutan homogen sempurna  


     


     

    1. Reaksi dengan Kalium permanganat 1% dan 5%

    Data hasil pengamatan tersebut ditunjukkan pada tabel 3.6

    Tabel 3.6

    No 

    Sampel 

    Setelah ditetesi KMnO4 1%

    Setelah ditetesi KMnO4 5%

    1


     


     

    Heksana


     


     

    Larut sempurna. Terjadi perubahan warna (larutan tetap berwarna ungu). Berbau normal. 

    Larut sempurna. Terjadi perubahan warna (larutan tetap berwarna ungu). Berbau normal. 

    2


     


     


     


     

    Isooktana


     


     


     


     

    Membentuk 2 fase yaitu berwarna bening diatas dan ungu dibawah. Semakin lama endapan semakin jelas. Berbau normal.

    Membentuk 2 fase yaitu berwarna bening diatas (lebih pekat) dan ungu dibawah. Semakin lama endapan semakin jelas. Berbau normal. 

    3 

    Benzena 

    Larut sempurna. Terjadi perubahan warna dari warna ungu menjadi merah bata. Berbau normal. Tidak ada gelembung udara.

    Larut sempurna. Terjadi perubahan warna dari warna ungu menjadi merah bata. Berbau normal. Terdapat gelembung udara. 


     

  2. Pembahasan
  • Kelarutan terhadap air

    Dalam percobaan yang dilakukan terhadap 3 jenis senyawa hidrokarbon, jenis senyawa yang tidak bisa larut dalam air adalah isooktana,karena polaritasnya yang sangat rendah dan ketidakmampuannya untuk membentuk ikatan hidrogen..

  • Uji densitas

    Dalam percobaan yang dilakukan terhadap 3 jenis senyawa hidrokarbon, jenis senyawa Alkana dan siklo alkana merupakan komponen organik yang mempunyai berat jenis terkecil. Alkena dan alkuna mempunyai densitas lebih rendah daripada air.


     


 

  • Reaksi dengan Brom

    Hidrokarbon dengan ikatan rangkap (hidrokarbon tak jenuh, kecuali sebagian besar sikloalkana) bereaksi dengan Brom. Pada alkena mengalami reaksi adisi terhadap brom. Biasanya halogen dilarutkan dalam pelarut lembarm (inert) seperti tri- atau tetra klorometana. Kemudian larutan ini ditambahkan tetes demi tetes pada alkena. Reaksi ini sangat cepat, meskipun pada suhu kamar ataupun dibawahnya. Adisi bromin ini dapat dijadikan uji kimia untuk melihat ke-takjenuh jenuhan pada senyawa organik. Larutan bromin ditambahkan pada senyawa tak jenuh akan menampakkan hasil bahwa warna bromin sedikit demi sedikit akan menghilang.Hal ini disebabkan karena ikatan rangkap pada alkena menjadi ikatan tunggal dan salah satu brom terikat pada salah satu karbon yang asalnya berikatan rangkap. Alkana dan alkuna mengalami reaksi addisi terhadap brom. Ikatan rangkap alkena menjadi ikatan tunggal dan salah satu atom brom terikat pada salah satu karbon yang asalnya berikatan rangkap. Reaksi ini biasanya terjadi dengan cepat pada temperatur kamar tanpa katalis. Reaksi addisi tersebut dapat dilihat pada gambar 3.8

H3C CH CH CH3 + BR2    H3C CH CH CH3


 


 

Br Br

(Syahbani, M.Wahyu.2008)

Gambar 3.8

Brom juga dapat bereaksi dengan alkana, namun reaksinya membutuhkan panas dan sinar ultraviolet, jenis reaksi ini bukan reaksi addisi namun merupakan reaksi sustitusi, karena satu atom hidrogen pada alkana digantikan oleh satu atom brom dan terbentuk hidrogen bromida sebagai produk samping. Reaksi substitusi dengan brom tersebut dapat dilihat pada gambar 3.9


 


 


 


 


 

H3C CH2 CH2 CH3 + Br2    H3C CH CH CH3 + HBr


 


 

                         Br H

                            (Syahbani, M.Wahyu.2008)

Gambar 3.9


 

Sedangkan pada senyawa aromatik (seperti benzena), larutan bromin tidak dapat bereaksi. Hal ini dapat ditunjukkan dengan tidak menyatunya larutan tersebut dengan benzena dan menghasilkan endapan merah bata seperti agar.


 


 

  • Reaksi dengan asam sulfat pekat

Alkena bereaksi dengan asam sulfat pekat pada temperatur kamar menghasilkan suatu asam alkil sulfonat. Asam alkil sulfonat sangat polar dan larut dalam asam sulfat yang polar dengan sedikit pengadukan. Alkena yang non polar tidak larut di dalam asam sulfat pekat tetapi akan larut ketika bereaksi dengan asam ini jika disertai dengan pengadukan. Reaksi ini jika disertai dengan pengadukan. Reaksi tersebut dapat dilihat pada gambar 3.10


 


 

H3C CH CH CH3 + BR2    H3C CH CH CH3


 


 

                                    Br HSO4

                                (Syahbani, M.Wahyu.2008)

                    Gambar 3.10

Alkana tidak bereaksi dengan H2SO4 pekat. Senyawa hidrokarbon aromatik bereaksi agak lambat dengan asam sulfat pekat (mengalami reaksi substitusi dimana satu atom hidrogen yang terikat pada cincin karbon aromatik digantikan oleh gugus –SO3H).


 


 

  • Reaksi dengan kalium permanganat

Larutan kalium permanganat encer dapat mengoksidasi alkena menghasilkan diol-geminal (diol berarti dua gugus –OH dan geminal berati terletak pada dua atom karbon yang berikatan langsung). Reaksi dengan alkena menghasilkan endapan berwarna ungu tua tetapi tidak larut dalam KMnO4. Karena kalium permanganat larut dalam air, tetapi baik air maupun kalium permanganat larut dalam hidrokarbon, maka reaksi berlangsung pada antarmuka air-hidrokarbon sehingga berlangsung lambat. Sebagai konsekuensinya, endapan coklat yang terbentuk lebih lama. Alkana dan cincin aromatik tidak bereaksi dengan kalium permanganat encer.


 


 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari hasil percobaan dan analisis yang kami lakukan mengenai hidrokarbon, kami mendapatkan kesimpulan bahwa :

1.    Senyawa hidrokarbon terdiri dari 3 golongan, tergantung pada jenis ikatannya, antara lain :     a. Alkana

     b. Alkena

              c. Alkuna


 


 

2. Pengujian hidrokarbon dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

  1. Pengujian fisis, dengan cara uji kelarutan.
  2. pengujian reaksi :
  • Reaksi dengan brom
  • Reaksi dengan Asam Sulfat pekat
  • Reaksi dengan Kalium Permanganat
  1. Uji viskositas

    Uji ini mempunyai fungsi untuk mengetahui keenceran atau kekentalan suatu larutan. Alat yang digunakan adalah viskometer Ostwald.

  2. Uji densitas

    Alat yang digunakan adalah piknometer. Digunakan untuk mengetahui massa jenis suatu sampel.

3. Senyawa hidrokarbon yang dapat larut dalam air hanyalah golongan alkena dan alkuna, sedangkan golongan alkana tidak dapat larut.

4. Heksana, benzena, maupun isooktana dapat bereakasi dengan brom

5. Senyawa hidrokarbon yang dapat bereaksi dengan asam sulfat adalah heksana,maupun benzena. Sedangkan untuk isooktana tidak bereaksi, karena larutan terbentuk 2 fase.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM IV

ACARA

UJI KADAR PROTEIN

CAKAR AYAM


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab I

Pendahuluan


 

  1. Tujuan percobaan

    Percobaan ini bertujuan untuk:

  • Menganalisis kadar protein dalam cakar ayam dengan menggunakan N total secara gunning
  • Membandingkan kadar protein sampel hasil uji Kjedhal dengan referensi


 

  1. Dasar Teori

Menurut pengertiannya Protein merupakan :

  • Biopolymer polipeptida yang tersusun dari sejumlah asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida.
  • Protein merupakan biopolymer yang multifungsi, yaitu sebagai struktural pada sel maupun jaringan dan organ, sebagai enzim suatu biokatalis, sebagai pengemban atau pembawa senyawa atau zat ketika melalui biomembran sel, dan sebagai zat pengatur.
  • Protein merupakan makromolekul yang paling berlimpah di dalam sel dan menyusun lebih dari setengah berat kering pada hampir semua organisme.

    Molekul protein mengandung Karbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen dan kadang kala Sulfur serta Fosfor. Protein mempunyai fungsi unik bagi tubuh, antara lain menyediakan bahan-bahan yang penting peranannya untuk pertumbuhan dan memelihara jaringan tubuh, mengatur kelangsungan proses di dalam tubuh, dan memberi tenaga jika keperluannya tidak dapat dipenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Struktur protein tidak stabil karena mudah mengalami denaturasi yaitu keadaan dimana protein terurai menjadi struktur primernya, baik reversibel maupun ireversibel. Faktor-faktor yang menyebabkan denaturasi adalah pH, panas, pelarut, kekuatan ion, terlarut, dan radiasi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Protein)

Protein mengandung asam amino. Apabila asam amino protein larut dalam air, gugus karboksilat akan melepaskan ion H+, sedangkan gugus amina akan menerima ion H+, seperti reaksi pada gambar 4.1


 

Gambar 4.1

Oleh adanya kedua gugus tersebut asam amino dalam larutan dapat membentuk ion yang bermuatan positif dan juga bermuatan negatif atau disebut juga ion amfoter (zwitterion). Keadaan ion ini sangat tergantung pada pH larutan. Apabila asam amino dalam air ditambah dengan basa, maka asam amino akan terdapat dalam bentuk (I) karena konsentrasi ion OH- yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ pada gugus –NH3+. Sebaliknya bila ditambahkan asam ke dalam larutan asam amino, maka konsentrasi ion H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion –COO- sehingga terbentuk gugus –COOH sehingga asam amino akan terdapat dalam bentuk (II). Berikut ini merupakan gambar bentuk gugus asam amino.
(Rr. Wirastuti. dkk . 2006)


 


 

                    Gambar 4.2

    Pada dasarnya suatu peptida adalah asil-asam amino, karena gugus –COOH dan –NH2 membentuk ikatan peptida. Peptida didapatkan dari hidrolisis protein yang tidak sempurna. Apabila peptida yang dihasilkan dihidrolisis lebih lanjut akan dihasilkan asam-asam amino.

Peneraan jumlah protein dapat dilakukan dengan menentukan jumlah nitrogen yang dikandung oleh suatu bahan. N total bahan diukur dengan menggunakan metode Kjeldahl. Prinsip dari metode ini adalah oksidasi senyawa organik oleh asam sulfat untuk membentuk CO2 dan H2O serta pelepasan nitrogen dalam bentuk ammonia yaitu penentuan protein berdasarkan jumlah N. Dalam penentuan protein seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari protein saja yang ditentukan. Akan tetapi teknik ini hanya akan menentukan kadar protein kasar yang diasumsikan sebagai jumlah N yang terkandung dalam bahan, tetapi perlu diingat bahwa dalam suatu bahan, kandungan senyawaan N lain selain protein dalam bahan juga terikut dalam analisis ini. Jumlah senyawaan N ini biasanya sangat kecil yang meliputi urea, asam nukleat, ammonia, nitrat, nitrit, asam amino, amida, purin, dan pirimidin. Oleh karena itu penentuan jumlah N total ini tetap dilakukan untuk mewakili jumlah protein yang ada. Kadar protein yang ditentukan dengan cara ini biasa disebut sebagai protein kadar/crude protein . Analisa protein cara kjeldahl pada dasarnya dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, destilasi dan titrasi.

  1. Destruksi

    Dengan menambahkan asam sulfat, nitrogen dilepaskan dari molekul protein dan terkonversi menjadi garam amonium sulfat, dengan reaksi persamaan berikut :

    N dalam protein + H2SO4 (NH4)2SO4


     

  2. Distilasi

    Tahap distilasi ini bertujuan untuk melepaskan nitrogen dari cairan hasil destruksi. Selama nitogen masih terikat sebagai garam ammonium, hanya air yang akan teruapkan selama distilasi. Untuk melepaskan nitrogen dari cairan hasil destruksi , ion NH4+ diubah menjadi NH3. Agar NH4+ berubah menjadi NH3, konsntrasi OH- dalam sistem larutan tersebut harus tinggi. Hal tersebut dapat dicapai dengan menambahkan basa kedalam sistem larutan. Selanjutnya setelah nitrogen terikat sebagi NH3 yang telepas ditangkap larutan asam yang telah diketahui molaritasnya.

  3. Titrasi

    Amoniak yang dilepaskan selama proses distilasi akan bereaksi dengan asam membentuk garam amonium. Dengan menggunakan metode titrasai alkalimetri, dapat ditentukana jumlah asam yang masih tersisa dalm larutan penangkapnya. Setelah kadar N total diketahui dari analisis Gunning, maka untuk menentukan kadar protein diperlukan faktor konversi yang menghubungkan berat protein dengan berat N total dalam bahan seperti persamaan berikut :

    (Berat Protein ) = (Faktor konversi) x (Berat N) ............Persamaan 4.1

    Pada umunya faktor konversi adalah 6,25 namun demikian ada beberapa bahan yang memiliki konversi khusus, misalnya 5,70 untuk gandum dan 6,38 untuk susu. (Wulung, R. Bagus Seno. 2008)


 

  1. Alat dan Bahan
    1. Peralatan

    Alat-alat yang dibutuhkan untuk analisis protein pada masing-masing tahap adalah:

    1. Destruksi
      1.  
      2. Labu kjehdal 500ml
      3. Kompor Listrik
      4. Pipet Volum
      5. Pipet Ukur
      6. Neraca Analitik
      7. Statif
      8. Kaca Arloji
      9. Gelas Beker
    2.  
    3. Destilasi
      1.  
      2. Pemanas Mantel
      3. Pendingin balik
      4. Labu Kjehdahl
      5. Gelas Beker
      6. Adapter
      7. Ember Plastik
      8. Pipa Bengkok
      9. Penyumbat

 


 


 

  1. Titrasi
    1. Buret
    2. Erlenmeyer
    3. Statif


 


 

  1. Bahan

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan adalah:


 

  •  
  • Cakar ayam 1,5gr
  • K2SO4 10 gr
  • CuSO4 0,3 gr
  • H2SO4 pekat 35 ml
  • Aquades 175ml
  • Logam Zn 2 butir
  • Indicator PP
  • Larutan NaOH (45%) 100ml
  • Larutan NaOH (0,1 N) 75ml
  • Indikator metil merah
  • Larutan HCl 75 ml

 


 

    1.4 Cara kerja

    Analisis N total dengan cara Gunning dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:

  • Destruksi
  1. Satu setengah gram bahan yang akan dianalsis dimasukan kedalam labu kjeldahl bersama-saama dengan 10 gr K2SO4, 0,25 gr CuSO4 dan 35ml H2SO4 pekat
  2. Panaskan dengan kompor listrik dalam lemari asam
  3. Lakukan pemanasaan sampai berkabut dalam labu hilang dan cairan menjadi jernih
  4. Dinginkan diudara terbuka


 

    b Distilasi

  • Pada labu Kjeldahl hasil reaksi ditambahkan 2 butir Zn + 175 ml aquades + indikator PP sebanyak 5 tetes
  • Celupkan labu kedalam ember berisi air dan pecahan es sambil digoyang-goyang.
  • Tuangkan larutan NaOH 45% kedalam labu takar sedikit demi sedikit
  • Tambahkan NaOH sampai cairan besifat basa. Hal ini ditandai dengan berubahnya warna cairan menjadi biru keunguan.
  • Labu segera dihubungkan dengan rangkaian alat destilasi. Ujung pendingin dihubungkan dihubungkan dengan gelas beker yang berisi larutan HCl yang telah ditambahi indikator MO.

c. Titrasi

  1. Ambil larutan HCl yang telah bercampur sebanyak 10 ml
  2. Tetesi dengan indikator PP
  3. Titrasi dengan larutan NaOH 0,1 N hingga mencapai titik akhir titrasi dengan berubahnya warna larutan daari merah menjadi bening
  4. Catat volume NaOH yang digunakan


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab II

Hasil Praktikum

2.1 Data Hasil Pengamatan

Data hasil pengamatan dalam praktikum ini ditunjukkan pada tabel 4.1

Tabel 4.1

No 

Tahap 

Zat yang Digunakan 

Keadaan  

Keterangan 

Awal 

Akhir 

1 

Destruksi 

  • H2SO4 35ml
  • K2SO4 10gr
  • CuSO4 0,25gr

Larutan berwarna bening bersuspensi, dan ketika dipanaskan berubah menjadi coklat keruh

Setelah pemanasan larutan berwarna bening 

Terjadi reaksi yang membentuk (NH4)2SO4

+

CO2

+

H2O

2 

Destilasi 

  • Aquades
  • Indikator PP
  • NaOH 40%
  • HCl 0,1N
  • Zn 2 butir
  • Indikator MO

Larutan Berwarna bening, kemudian di-basakan dengan NaOH menjadi berwarna coklat keruh.

Didistilasi hingga menghasilkan uap NH3 yang ditampung pada larutan asam standar.

Larutan pada asam standar berwarna merah muda dan volumenya bertambah

Terjadi reaksi antara asam standar HCl dan NH3yang berasal dari desitilasi sampel yang membentuk

2(NH4)2Cl

+

H2

3 

Titrasi 

  • NaOH 0,1N 10ml
  • Indikator PP

Larutan berwarna merah muda bening  

Setelah titrasi larutan menjadi berwarna bening 

Titik akhir titrasi dengan NaOH sebanyak2ml


 


 

1.2 Perhitungan

a. Menentukan N HCl

        V NaOH(titrasi) = 2ml

            N NaOH = 0,09175 N

            V HCl(titrasi)    = 20ml


 

     V NaOH
x N NaOH = V HCl x N HCl ....Persamaan 4.2

         2 x 0,09175    =     20 x N HCl

             N HCl    =    

                =    0,009175 N


 

b. Menentukan jumlah m grek NH3 setelah distilasi

Diket     :     V HCl awal = 75ml

        N HCl awal = 0,09175 N

        V HCl akshir = 170ml

        N HCl akhir = 0,009175 N

Jumlah m grek NH3=[VHCl awal x NHCl awal] –

             [VHClakhir x NHCl akhir] ......Persamaan 4.3

                =[ 75 x 0,09175] - [ 170x 0,009175 ]

                = 6,88125 - 1,55175

         M grek NH3= 5,3215 m grek

c. Menetukan berat "N" Total

m grek NH3= 5,3215 m grek        

        Ar N     = 14

        Berat "N" Total = m grek NH3 x Ar N ...........Persamaan 4.4

             =    5,3215 x 14

     Berat "N" Total = 74,501 mg

d. Menentukan Wp

    Berat "N" Total = 74,501 mg    

        F = = 6,25

        Wp = Berat "N" Total x F .............Persamaan 4.5

     =    74,501 x 6,25

     Wp = 465,63125


 

e. Menentukan Kadar Protein

    Wp = 465,63125

    W = 1,5 gram = 1500 mg    

P = x 100% ..................Persamaan 4.6

=     x 100%

     P = 31,042 %


 

Jadi kadar protein dalam cakar ayam adalah 31,042 %


 

1.3 Pembahasan


 

1) Proses destruksi

Pada tahap ini, sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi penguraian sampel menjadi unsur-unsurnya yaitu unsur-unsur C, H, O, N, S, dan P. Unsur N dalam protein ini dipakai untuk menentukan kandungan protein dalam suatu bahan. 1,5 gram sampel yaitu cakar ayam ditambah dengan katalisator. Katalisator berfungsi untuk mempercepat proses destruksi dengan menaikkan titik didih asam sulfat saat dilakukan penambahan H2SO4 pekat serta mempercepat kenaikan suhu asam sulfat, sehingga destruksi berjalan lebih ceapat. Katalisator N terdiri dari campuran

K2SO4 + CuSO4 dengan perbandingan 20 : 1. Tiap 1 gram K2SO4 dapat menaikan titih didih 3 0C. Karena titik didih tinggi maka asam sulfat akan membutuhkan waktu yang lama untuk menguap.

Kontak asam sulfat dengan sampel akan lebih lama sehingga proses destruksi akan berjalan lebih efektif. Setelah ditambah katalisator N, sampel dimasukkan dalam labu khyedal kemudian ditambah dengan 35 ml H2SO4 pekat. H2SO4 pekat yang dipergunakan untuk destruksi diperhitungkan dari adanya bahan protein. Asam sulfat yang bersifat oksidator kuat akan mendestruksi sampel menjadi unsur-unsurnya. Penambahan asam sulfat dilakukan dalam lemari asam untuk menghindari S yang berada di dalam protein terurai menjadi SO2 yang sangat berbahaya. Setelah penambahan asam sulfat larutan menjadi keruh.

Labu khyedal yang berisi sampel kemudian ditutup dan dipanaskan. Pemanasan yang terjadi mengakibatkan reaksi berjalan lebih cepat. Sampel didestruksi hingga larutan berwarna jernih yang mengindikasikan bahwa proses destruksi telah selesai. Selama destruksi, akan terjadi reaksi sebagai berikut :

(CHON) + On + H2SO4    CO2 + H2O + (NH4)2SO4

                    (Rr. Wirastuti. dkk . 2006)


 

Proses destruksi dapat dikatakan selesai apabila larutan berwarna jernih. Larutan yang jernih menunjukkan bahwa semua partikel padat bahan telah terdestruksi menjadi bentuk partikel yang larut tanpa ada partikel padat yang tersisa. Larutan jernih yang telah mengandung senyawa (NH4)2SO4 ini kemudian didinginkan supaya suhu sampel sama dengan suhu luar sehingga penambahan perlakuan lain pada proses berikutnya dapat memperoleh hasil yang diinginkan karena reaksi yang sebelumnya sudah usai.

2) Proses Destilasi

Larutan sampel jernih yang telah dingin kemudian ditambah dengan aquadest untuk melarutkan sampel hasil destruksi agar hasil destruksi dapat didestilasi dengan sempurna serta untuk lebih memudahkan proses analisa karena hasil destruksi melekat pada tabung reaksi besar. Kemudian larutan sampel didestilasi dengan alat destilator. Pada dasarnya tujuan destilasi adalah memisahkan zat yang diinginkan, yaitu dengan memecah amonium sulfat menjadi amonia (NH3) dengan menambah 20 ml NaOH-Zn kemudian dipanaskan. Prinsip destilasi adalah memisahkan cairan atau larutan berdasarkan perbedaan titik didih. Fungsi penambahan NaOH adalah untuk memberikan suasana basa karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam. Sedangkan fungsi penambahan Zn adalah untuk mencegah terjadinya ion kompleks.

Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan oleh pemanas dalam labu kjehdal. Selain itu sifat NaOH yang apabila ditambah dengan aquadest menghasilkan panas, meski energinya tidak terlalu besar jika dibandingkan pemanasan dari alat destilator, ikut memberikan masukan energi pada proses destilasi. Panas tinggi yang ada dalam labu kjehdal juga berasal dari reaksi antara NaOH dengan (NH4)2SO4 yang merupakan reaksi yang sangat eksoterm sehingga energinya sangat tinggi. Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh larutan asam standar. Asam standar yang dipakai dalam percobaan ini adalah asam klorida. Asam standar yang dapat dipakai adalah HCl 0,1N dalam jumlah yang berlebihan.

Larutan sampel yang telah terdestruksi dalam labu khyedal, kemudian alat destilasi berupa pipa kecil panjang dimasukkan ke dalamnya hingga hampir mencapai dasar tabung reaksi sehingga diharapkan proses destilasi akan berjalan maksimal (sempurna). Gelas beker yang berisi 75 ml asam klorida + metil oren ditempatkan di bagian kanan alat destilasi. Metil oren merupakan indikator yang hanya bisa bereaksi pada suasana asam. Indikator ini digunakan untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebih. Selain itu alasan pemilihan indikator ini adalah karena memiliki trayek pH 3,1 – 4,4. Pada suasana asam indikator akan berwarna merah muda, Asam klorida (HCl) berfungsi sebagai penangkap NH3 sebagai destilat berupa gas yang bersifat basa. Supaya ammonia dapat ditangkap secara maksimal, maka sebaiknya ujung alat destilasi ini tercelup semua ke dalam larutan asam standar sehingga dapat ditentukan jumlah protein sesuai dengan kadar protein bahan. Selama proses destilasi lama-kelamaan volume larutan HCl akan bertamabah, ini dikarenakan larutan HCl menangkap NH3 dari proses distilasi

Reaksi yang terjadi :

(NH4)SO4 + NaOH        Na2SO4 + 2 NH4OH

2NH4OH        2NH3 + 2H2O

4NH3 + 2HCl 2(NH4)2Cl +H2

                 (Rr. Wirastuti. dkk . 2006)


 

Reaksi destilasi akan berakhir bila ammonia yang telah terdestilasi sudah habis, yang ditandai dengan larutan yang didistilat memercik atu meletup didalam labu khyedal. Setelah destilasi selesai larutan sampel berwarna keruh dan terdapat endapan di dasar tabung ) dan larutan asam dalam erlenmeyer bertambah volumenya. Ammonia yang terbentuk selama destilasi dapat ditangkap sebagai destilat setelah diembunkan (kondensasi) oleh pendingin balik di bagian belakang alat Kjeltec dan dialirkan ke dalam gelas beker yang berisi larutan asam standar.

  1. Tahap titrasi

    Titrasi merupakan tahap akhir dari seluruh metode Kjeldahl pada penentuan kadar protein dalam bahan pangan yang dianalisis. Dengan melakukan titrasi, dapat diketahui banyaknya asam klorida yang bereaksi dengan ammonia.

    Untuk tahap titrasi, destilat dititrasi dengan NaOH yang telah distandarisasi (telah disiapkan) sebelumnya. Normalitas yang diperoleh dari hasil standarisasi adalah 0,1N. Ambil larutan HCl yang mengandung NH3 10ml ditambah indikator PP kemudian dititrasi dengan NaOH, hingga titik ekuivalen yang ditandai dengan berubahnya warna larutan merah bening menjadi bening tak berwarna karena adanya NaOH berlebih yang menyebabkan suasana netral atau asam. Melalui titrasi ini, dapat diketahui kandungan N dalam bentuk NH4 sehingga kandungan N dalam protein pada sampel dapat diketahui melalui perhitungan.

    Dari perhitungan berdasarkan hasil titrasi didapatkan kadar protein dalam cakar ayam sebesar 31,042 %. Kadar protein ini dihitung berdasarkan jumlah N pada NH3 yang terbentuk dari hasil distilasi.

    Kadar protein ini merupakan kadar protein kasar, karena kemungkinan terikut senyawaan N bukan protein, misalnya urea, asam nukleat, nitrat, nitrit, asam amino, amida, purin, dan pirimidin. Selain itu dalam cakar ayam yang dianalisis kemungkinan terkontaminasi zat yang mengandung unsur N lain. (Rr. Wirastuti. dkk . 2006)


     

        Adapun Kadar protein cakar ayam yang sebenarnya sekitar protein 22,98 %. Adapun kandungan lain dari cakar ayam adalah :

  • kadar air 65,90%,
  • lemak 5,60%,
  • kadar abu 3,49%
  • lain-lain 2,03%.

Jenis kandungan protein terbesar yang terdapat pada cakar ayam adalah jenis protein kolagen, mengingat sebagian besar cakar ayam sampel yang dianalisis banyak mengandung kulit.
Kolagen merupakan sejenis protein yang nilai gizinya rendah karena susunan asam amino esensialnya kurang lengkap dan seimbang, contohnya tidak mengandung asam amino triptopan. Di dalam protein, kolagen mengandung asam amino prolein dan hidroksiprolein sekitar 10% serta arginin dan sepertiganya berupa glycin.

(http://www.poultryindonesia.com).


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab III

Penutup


 

3.1 Kesimpulan

  • Penentuan kadar protein dengan uji kjehdal, ditentukan dengan menghitung jumlah unsur " N " yang terkandung dalam bahan.
    • Proses penentuan kadar protein melalui 3 tahap, yaitu:
    • Destruksi
    • Destilasi
    • Titrasi
  • Kadar protein yang terkandung dalam cakar ayam sebesar 31,042%
  • Uji Kadar protein ini merupakan uji kadar protein kasar, karena kemungkinan terikut senyawaan N bukan protein, misalnya urea, asam nukleat, nitrat, nitrit, asam amino, amida, purin, dan pirimidin.


 


 


 


 

    
 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Lampiran

Manfaat Cakar Ayam




    Cakar ayam adalah suatu bagian dari tubuh ayam yang kurang disukai, karena selain tidak berdaging juga bersisik. Sebenarnya, cakar ayam ini bisa didayagunakan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Cakar ayam sebagai hasil sampingan dari pemotongan ayam, nilai/harganya nyaris lebih murah dibanding hasil samping lain seperti kepala, jeroan dan leher. Cakar ayam biasanya hanya digunakan sebagai campuran sup atau sebagian untuk campuran makanan hewan. Tetapi kaki ayam ini sebenarnya bisa didayagunakan dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, bila kita mengetahui khasiat dan potensi yang dikandungnya. Ahmad Yani (1994) menyatakan, cakar ayam diperkirakan merupakan 2-3% dari berat badan seekor ayam. Bagian-bagian cakar ayam yaitu, tulang, kulit, otot dan kolagen. Otot cakar ayampun pada hakekatnya juga merupakan tenunan kolagen.

Kolagen merupakan sejenis protein yang nilai gizinya rendah karena usunan asam amino esensialnya kurang lengkap dan seimbang, contohnya tidak mengandung asam amino triptopan. Di dalam protein, kolagen mengandung asam amino prolein dan hidroksiprolein sekitar 10% serta arginin dan sepertiganya berupa glycin. Pada manusia dan hewan, kolagen merupakan protein pembentuk struktur tulang, tendon, otot dan kulit. Dengan tingginya kadar asam amino protein dan hidroksiprolein pada cakar ayam, sangat penting artinya bagi pertumbuhan makhluk muda (individu baru) yang sedang tumbuh. Demikian pula pada orang dewasa dan lanjut usia yang mengalami retak pinggul dan patah tulang akan cepat sembuh kembali jika mengkonsumsi dosis tertentu asam amino prolein dan hidroksiprolein. Di samping manfaat di atas, cakar ayam bisa diambil kulitnya untuk disamak dan kemudian dapat dibuat berbagai macam barang kerajinan kulit yang cukup berharga (mahal). Tulangnyapun bisa diolah menjadi lem yang bermutu tinggi. Kulit kaki/cakar ayam memiliki komposisi kimia yang tidak jauh berbeda dengan kulit ternak lainnya. 

Kulit kaki ayam memiliki komposisi kimia sebagai berikut : kadar air 65,90%, protein 22,98%, lemak 5,60%, kadar abu 3,49% dan lain-lain 2,03%. Dari komposisi di atas jelas terlihat bahwa kandungan protein kulit cakar ayam tidak terpaut jauh dengan kandungan protein kulit ternak lainnya yang berkisar 25-30%. Kadar protein kulit cakar ayam masih dapat menghasilkan kulit samak yang berkualitas baik karena memiliki kadar protein 22,98%, sedangkan standar protein untuk kulit samak yaitu kurang lebih 23%. Maka sangatlah wajar adanya gagasan untuk mengelola kulit kaki ayam menjadi komoditas yang menarik dan laku di pasaran. Berdasarkan uji kimiawi maupun uji fisis membuktikan pula bahwa kulit kaki ayam layak pakai seperti kulit ternak lainnya. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kaki/cakar ayam yang selama ini hanya merupakan hasil sampingan dari daging ayam, ternyata mempunyai khasiat bagi kesehatan. Selain itu, dengan sedikit berusaha (penyamakan kulit), cakar ayam bisa diubah menjadi barang kerajinan yang mempunyai nilai ekonomis. Ke depan, potensi yang terkandung dalam cakar ayam perlu digali dan dikembangkan terus-menerus.


( www. poultryindonesia.com)


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM V

ACARA

ANALISIS MINYAK NABATI


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab I

Pendahuluan


 


 

Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas     yang sama dengan pelaut tersebut. Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut . Tetapi polaritas bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat encer (10N) sehingga kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar. (Tarigan, DR. Ponis. 1983)

A. Penamaan lemak dan minyak

Lemak dan minyak sering kali diberi nama derivat asam-asam lemaknya, yaitu dengan cara menggantikan akhiran at pada asam lemak dengan akhiran -in , misalnya:

- tristearat dari gliserol diberi nama tristearin

- tripalmitat dari gliserol diberi nama tripalmitin

selain itu , lemak dan minyak juga diberi nama dengan cara yang biasa

dipakai untuk penamaan suatu ester, misalnya:

- triestearat dari gliserol disebut gliseril tristearat

- tripalmitat dari gliserol disebut gliseril tripalmitat


 

B. Pembentukan lemak dan minyak

Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol . Dalam pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut berbeda–beda), yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air .


 

C. Klasifikasi lemak dan minyak

Lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan beberapa penggolongan, yaitu: Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya. Asam lemak jenuh mempunyai rantai zig-zig yang dapat cocok satu sama lain, sehingga gaya tarik vanderwalls tinggi, sehingga biasanya berwujud padat. Sedangkan asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya . Asam lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak. Adapun Struktur Trigliserida jenuh dapat dilihat pada tabel 5.1. Dan struktur trigliserida tak jenuh dapat dilihat pada tabel 5.2

Tabel 5.1


 

                     (http://library.usu.ac.id/modules.php)


 


 


 


 

Tabel 5.2


 

                                                                 (http://library.usu.ac.id/modules.php)


 

D.Sifat-sifat lemak

- Sifat-sifat fisika

1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil-amin dari lecitin

2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatu kamar

3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian minyak.

4. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (coastor oil0, sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter,karbon disulfida dan pelarut halogen.

5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon

6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami ,juga terjadi karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak.

7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan pelarut lemak.

8. Titik lunak dari lemak/minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak/lemak

9. shot melting point adalah temperratur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak/ lemak

10. slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya


 


 


 

- Sifat-sifat kimia

Sifat-sifat kimia yang dimiliki oleh minyak atau lemak adalah :


 

E.Reaksi-reaksi yang terjadi pada lemak dan minyak

1. Esterifikasi

Proses esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari

trigliserida,menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau penukaran ester yang didasarkan pada prinsip transesterifikasi Fiedel-Craft.


 

2. Hidrolisa

Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam- asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisi mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut.


 


 


 


 


 

3. Penyabunan

Reaksi ini dilakukan dengan penambhan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap,lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan.


 

4. Hidrogenasi

Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak . setelah proses hidrogenasi selesai , minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan disaring . Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras , tergantung pada derajat kejenuhan.

5. Oksidasi

Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau minyak . terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada lemak atau minyak.


 

F. Perbedaan Antara Lemak dan Minyak

Perbedaan antara lemak dan minyak antara lain, yaitu:

Pada temoperatur kamar lemak berwujud padat dan minyak berwujud cair Gliserrida pada hewan berupa lemak (lemak hewani) dan gliserida pada tumbuhan berupa miyak (minyak nabati) Komponen minyak terdiri dari gliserrida yang memiliki banyak asam lemak tak jenuh sedangkan komponen lemak memiliki asam lemak jenuh.


 

G.Beberapa cara analisis untuk mengenal sifat lemak dan minyak

1. Ekivalen asam lemak bebas, yaitu kadar asam lemak yang tidak terikat atau tidak tereter dengan glisetol yang dinyatakan dalam milligram ekivalen asam lemak/gram minyak. Kalau nilai ini dikalikan dengan (berat molekul KOH) diperoleh bilangan asam

2. Ekivalen asam lemak total, yaitu kadar asam lemak total (asam lemak bebas dan asam lemak yang terikat gliserol) yang dinyakatakn dalam milligram ekivalen asam lemak/gram minyak. Bilangan sabun diperoleh dengan mengalikan nilai itu dengan berat molekul basa KOH (56). (Wulung, R.Bagus Seno.2008)

1.3 Alat dan Bahan

    a. Alat

 


 

b. Bahan

 


 

    c. Penentuan Kadar Asam Lemak Total


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

Praktikum


 

2.1 Data Hasil Percobaan

    A. Pembuatan Larutan Standar

Hasil pengamatan pada pembuatan asam standar dapat dilihat pada tabel 5.3

Tabel 5.3

No 

Standarisasi 

Zat yang digunakan 

Volume Titran 

Hasil Pengamatan 

I 

HCl 

- HCl (Titran)

- Dinatrium Tetra Boraks

- Indikator MO

14 ml 

Pada saat akhir titik titrasi terjadi perubahan warna menjadi oren muda.

II 

NaOH 

- NaOH (Titran)

- HCl

- Indikator PP

22 ml 

Pada saat akhir titrasi terjadi perubahan warna menjadi bening 


 

    B. Penentuan Asam Lemak Bebas dan Asam Lemak Total Minyak Bilmoli

Hasil pengamatan pada penentuan asam lemak bebas dan asam lemak total minyak bilmoli dapat dilihat pada tabel 5.4

Tabel 5.4

No 

Penentuan Asam lemak 

Zat yang digunakan 

Volume Titran 

Hasil Pengamatan 

I

Blanko

- HCl 0,5 N

- KOH

- Aquades

Vrata = 6,6 ml


 


 

Terjadi perubahan warna pada saat akhir titrasi menjadi berwarna merah muda.


 


 

II

II

Asam Lemak

Bebas

- NaOH

- Minyak Bimoli 5 gr

- Alkohol


 


 

Vrata = 0,4 ml

Minyak bimoli + Alkohol yang dipanaskan didalam labu kjehdal selama 1 jam menjadi bercampur dan terlarut sempurna dan berwarna kuning bening. Setelah itu dititrasi dengan NaOH menjadi berwarna merah muda

III 

Asam Lemak

Total 

- HCl

- Minyak Bimoli 5 gr

- KOH 0,5 N

- Alkohol

- Indikator MO

Vrata = 6 ml 

Minyak bimoli + Alkohol yang dipanaskan didalam labu kjehdal selama 1 jam menjadi bercampur dan terlarut sempurna dan berwarna kuning bening. Kemudian dititrasi dengan HCl dan ditambahi indikator MO menjadi berwarna oren


 

2.2 Perhitungan

A. Standarisasi larutan

V HCl = 14 ml

    M Boraks = 2028 mg

    Bst Boraks = 190,685

    Fp = = 2

n HCl = .................Persamaan 5.1

         n HCl =

        = 0,3798 N

V NaOH = 22 ml

    V HCl =5 ml

    N HCl = 0,3798 N

n NaOH = ...........Persamaan 5.2

         n NaOH =

         = 0,0863 N


 

B. Penentuan Asam Lemak


 

        V NaOH = 0,4 ml

        M Sampel = 5 gr

        N NaOH = 0,0863 N

EALB = ...............Persamaan 5.3

             EALB =

                =

                = 0,00698 mgrek/gr


 


 


 


 


 


 


 

        V total sampel = 0,4 ml

        V HCltitrasi = 6 ml

        N NaOH = 0,0863 N

        gr contoh = 5 gr

        VKOH blanko = 50 ml

        
 

     V HCl = ..............Persamaan 5.4

            = = 30,9 ml        

        V HCl blanko = x VHCltitrasi ...........Persamaan 5.5

            =

            = 33 ml

        E ALT = ....Persamaan 5.6

                    =

                    =

                    = 0,1595 m grek

2.3 Pembahasan


 

    Minyak sampel yang di analisa terlebih dahulu dicampur dengan alkohol netral yang berfungsi sebagai pelarut, karena sifat minyak yang merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,dalam hal ini alkohol. Minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut. Kemudian campuran dipanaskan selama 1,5 jam dengan menggunakan erlenmeyer yang berujuan untuk mempercepat proses reaksi antara pelerut dan sampel minyak yang dilarutkan. Dalam hal ini pemanasan yang digunakan menggunakan alat berupa pendingin balik yang bertujuan agar uap yang berasal dari minyak yang dipanaskan tidak keluar, karena dikhawatirkan apabila uap minyak tersebut keluar maka kemungkinan besar senyawa yang terdapat pada minyak akan ikut menguap sehingga mengakibatkan hasil praktikum akan kurang berhasil.

        Setelah larutan minyak dipanaskan selama 1,5 jam maka akan terlihat bahwa minyak dan pelarut alkohol terlarut sempurna. Selanjutnya larutan tersebut dititrasi dengan menggunakan NaOH 0,1 N yang bertujuan untuk menetukan kadar asam lemak bebasnya. Titrasi ini berdasarkan terjadinya perubahan warna yang merupakan hasil reaksi antara sampel minyak yang bersifat asam dan NaOH sebagai titran yang bersifat basa. Prinsip persamaan reaksi pada penentuan kadar asam lemak adalah reaksi netralissasi dengan persamaan sebagai berikut :


 

Maka pada titik akhir titrasi akan terjadi perubahan warna menjadi merah muda. Asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak sampel yaitu merek Bimoli adalah sebesar 0,00698 mgrek/gr. Padahal disebutkan dari sumber referensi bahwa Bimoli merupakan hasil pengolahan pemurnian multiproses yang terdiri dari enam tahap, yakni penghilangan getah, penjernihan warna minyak, penghilangan asam lemak bebas (FFA), pemurnian aroma, pembentukan fraksi padat, dan pemisahan fraksi padat dari minyak. Tetapi dari hasil analisa , diketahui bahwa minyak bimoli masih mengandung asam lemak bebas.

    Untuk menganalisis kadar asam lemak total maka sisa sampel minyak yang telah dipanaskan tadi ditambahkan KOH yang berfungsi untuk mengubah polaritas bahan. Larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga sampel lebih mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air. Kemudian larutan tersebut di titrasi dengan menggunakan HCl yang berfungsi untuk menetralkan kembali. Titik akhir titrasi dicapai ketika larutan titrat berubah warnanya menjadi merah muda, yang menadakan bahwa larutan telah kembali netral. Volume HCl yang digunakan dalam titrasi ini dapat digunakan untuk menghitung asam lemak total yang terkandung dalam sampel. Tetapi terlebih dahulu harus dikurangi dengan Volume HCl yang digunakan untuk titrasi larutan blanko.


 

Bab III

Penutup


 

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari serangkaian hasil praktikum ini adalah:


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Lampiran

0208- Top brand (BIMOLI)

BIMOLI

Jawara di Bisnis Minyak Goreng

Bimoli masih perkasa merajai pasar minyak goreng bermerek. Kualitas produk dan komunikasi yang cerdas menjadi senjata utamanya. Persaingan bisnis minyak goreng di Tanah Air semakin ramai. Pasarnya yang renyah kini dihuni oleh lebih dari 30 merek. Beberapa pemain baru mulai meramaikan pasar dengan jurus-jurus marketingnya. Lebih-lebih minyak goreng merupakan satu dari sembilan bahan pokok dan dianggap sebagai komoditas. Kendati demikian, sebagai pelopor dalam industri minyak goreng di Indonesia, Bimoli sukses memimpin pasar selama tiga dasawarsa dan menjadi top of mind di benak konsumen. "Sekarang ini, sudah banyak merek berkecimpung di industri minyak goreng bermerek. Pertanda industri ini terus berkembang. Dan Bimoli setia mempertahankan kualitas sebagai market leader," terang Siswanto Fahiem, Marketing Manager PT Bitung Manado Oil International. Siswanto menuturkan, pertahanan Bimoli sebagai market leader dibangun dengan mengedepankan kualitas produk. Selain itu, Bimoli juga melakukan inovasi agar tidak terkesan oldies, tetapi lebih modern dan premium. Sejarah Bimoli sendiri tergolong unik.

Awalnya, merek ini diproduksi di Bitung sebagai minyak goreng kelapa nyiur yang didistribusikan secara terbatas di Sulawesi Utara. Pada tahun 1978, Bimoli dipakai sebagai merek minyak sawit produksi Jakarta dan Surabaya yang dikemas dalam botol dan didistribusikan secara nasional. "Unique selling point Bimoli saat itu adalah produksinya dengan sistem blow-fill- seal tanpa sentuhan. Ini membuat Bimoli menjadi minyak goreng bermerek paling higienis," katanya. Pada tahun 1994, diluncurkanlah Bimoli Spesial sebagai penyempurnaan Bimoli sebelumnya. Selain kualitasnya lebih baik, kemasannya pun lebih menarik dan transparan. Bimoli Spesial ini diproduksi di pabrik PT IBS Surabaya dengan sistem pemurnian multiproses sehingga menghasilkan Omega 9. Pada tahun 2006, PT IBS berganti nama menjadi PT Salim Ivomas Pratama (SIMP).

Tujuan diluncurkannya Bimoli saat itu tak lain adalah agar konsumen lebih praktis dalam membelinya. Tidak perlu membawa wadah sendiri. Terlebih kualitasnya lebih higienis. Karena itu, tak mengherankan bila produk yang ditujukan untuk segmen menengah-atas berusia 25 40 tahun ini—baik Bimoli Klasik maupun Bimoli Spesial—mengusung tagline "Kesempurnaan Minyak Goreng". "Positioning kami adalah menjadi produk minyak goreng dengan kualitas terbaik. Penghargaan Indonesian Customer Satis A menjadi bukti," cetus Siswanto. Faktor yang membuat Bimoli tetap laku di pasar sampai sekarang, lanjutnya, adalah dukungan perusahaan yang sangat peduli pada pengembangan merek dan memiliki rencana jangka panjang untuk masa depan merek (brand future). Dalam hal ini, perusahaan menyokongnya dengan membangun tim riset dan pengembangan yang andal.

Bimoli merupakan hasil pengolahan pemurnian multiproses yang terdiri dari enam tahap, yakni penghilangan getah, penjernihan warna minyak, penghilangan asam lemak bebas (FFA), pemurnian aroma, pembentukan fraksi padat, dan pemisahan fraksi padat dari minyak. Dari sisi produk, merek ini mempunyai beberapa benefit. Menurut Siswanto, Bimoli dengan kandungan 40% Omega 9 dapat menjaga kadar normal kolesterol. Khasiat ini sangat penting untuk mengurangi risiko terserang jantung koroner. Kelebihan ini dikomunikasikan dengan memberi tanda khusus "kandungan Omega 9" dalam kemasan produk yang dipasarkan di outlet outlet. Selain itu, Omega 9 pun relatif tahan panas. Artinya, meski mengalami pemanasan tinggi, minyak Bimoli masih bisa mempertahankan 30% Omega 9. Bimoli juga mengandung Palmitat yang bermanfaat meningkatkan ketahanan minyak pada panas dan beberapa komponen bioaktif. Sedangkan promosi dilakukan dengan jalan standar, baik above the line maupun below the line. Kegiatan below the line berupa program-program demo sekaligus membentuk komunitas arisan ibu-ibu di berbagai daerah. Komunikasi ini didukung oleh jaringan pemasaran dengan sistem multidistribusi sehingga mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia, baik kota maupun desa. "Yang kami komunikasikan adalah kualitas produk sehingga diharapkan Bimoli menjadi best perceived value di mata konsumen," imbuh Siswanto.

Ada beberapa langkah yang menjadi strategi Bimoli dalam upaya membangun merek. Langkah pertama adalah membangun loyalitas konsumen. Upaya ini meliputi customer value yang memberikan nilai lebih yang kompetitif pada pelanggan. Ini juga mendorong outlet-outlet selalu menjual produk-produk Bimoli. Di samping itu, mereka juga terus memantau karakter konsumen yang sensitif pada harga agar tidak mudah pindah ke merek lain dan mengutamakan kepuasan pelanggan. "Karenanya kami selalu menjaga kualitas Bimoli agar konsumen selalu ingat bahwa Bimoli tetap unggul dan sudah terbukti selama 30 tahunan sebagai pionir minyak goreng," katanya.

Fighting Brand Di pasar,

Diakui Siswanto, kenaikan harga minyak goreng sebagai salah satu bahan pokok keluarga cukup sensitif di benak konsumen. Kenaikan harga minyak goreng pada tahun 2007 sangat mencengangkan dan membuat konsumen semakin sensitif 3 harga. "Belajar dari masa lalu, kami berupaya mempertahankan atau bahkan meningkatkan perceived value di tahun 2008 ini," katanya. Sementara itu, naiknya harga minyak ini diperkirakan akan mendorong semakin banyak merek lokal yang bermunculan. "Untuk menghadapi gempuran merek lokal yang mengedepankan price war, kami tidak akan maju dengan Bimoli. Tetapi, kami mempunyai fighting brand, yakni Delima, yang target market-nya berbeda dengan Bimoli," cetusnya. Kompetisi bisnis minyak goreng akan semakin ketat. Pasalnya, konsumsi minyak goreng di Indonesia sangat besar.

Sekitar 80%-nya adalah konsumsi minyak goreng tanpa merek (unbranded oil). Ini menjadi potensi besar bagi para pemain di minyak goreng bermerek. Siswanto mengatakan, maraknya merek di pasar akhir-akhir ini memberi peluang bagi industri untuk terus mengedukasi konsumen akan minyak goreng bermerek. "Jadi, tantangannya sekarang terletak pada bagaimana mendorong migrasi konsumen dari minyak tanpa merek ke minyak bermerek. Ini akan memperbesar volume minyak goreng di masa depan," katanya optimistis. Saat ini, dari puluhan merek minyak goreng yang beredar dipasar, hanya beberapa yang konsisten melakukan kegiatan ATL dan BTL. Pangsa pasar minyak goreng bermerek ini dikuasai oleh empat merek: Bimoli, Filma, Tropical, dan Sania. Namun, dominasi Bimoli rupanya masih sulit untuk dibendung. Berdasarkan survei Frontier tahun 2008, Top Brand Index (TBI) Bimoli adalah ...% dengan Top of Mind (TOM) sebesar 68,6%. Indeks Bimoli jauh lebih tinggi dibandingkan kompetitor terdekatnya, Filma (13%) dan Tropical (9%). Kondisi seperti ini cenderung stabil sejak lima tahun terakhir. Sebagai gambaran, tahun lalu Bimoli mengantungi TBI sebesar 62,8%; sementara Filma dan Tropical masing- masing 16,7% dan 6,7%.     

                    
( Majalah Marketing. 2008)


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM VI

ACARA

ANALISIS KADAR PATI

JAGUNG


 


 


 


 


 

Bab I

Pendahuluan


 

1.1 Tujuan


 

1.2 Dasar Teori


 

    Karbohidrat secara harfiah berarti karbon yang terhidrasi. Nama ini berasal dari hasil percobaan, bila gula didalm tabung reaksi yang terbuka dibakar untuk waktu yang lama memberikan sisa karbon hitam dan tetesan air yang mengembun pada dinding tabung. Karbohirat merupakan kostituen utama kebanyakan tumbuhan, berkisar 60-90% dari berat kering. Molekul karbohidrat terdiri atas atom-atom karbon, hidrogen dan oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2 : 1 seperti pada molekul air. Pada glukosa tampak bahwa jumlah atom hidrogen berbanding jumlah atom oksigen ialah 12 : 6 atau 2 : 1. Berdasarkan gugus yang ada. pada molekul karbohidrat, maka karbohidrat dapat didefinisikan sebagai polihidroksialdehida atau polihidroksiketon serta, senyawa yang menghasilkannya pada proses hidrolisis. Berbagai senyawa yang termasuk kelompok karbohidrat mempunyai molekul yang berbeda-beda ukurannya, yaitu dari senyawa yang sederhana yang mernpunyai berat molekul 90 hingga senyawa yang mempunyai berat molekul 500.000 bahkan lebih. Berbagai senyawa itu dibagi dalam tiga golongan, Tumbuhan memanfaatkan karbohidrat sebagai sumber energi maupun jaringan penunjang yang berfungsi seperti protein pada binatang. (Tarigan, DR. Ponis. 1983)

Karbohidrat dapat dibagi menurut hasil hidrolisis asamnya menjadi :


 

Tabel 6.1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


(http://one.indoskrpsi.com)


 


a) Disakarida, tersusun dari 2 molekul monosakarida.
b) Trisakarida, tersusun dari 3 molekul monosakarida.,
c) Tetrasakarida, tersusun dari 4 molekul monosakarida.
Sifat dari oligosakarida : mudah larut daiam air dan larutannya berasa manis.
Monosakarida dan oligosakarida karena berasa manis kedua golongan ini disebut gula.


 

  1. Polisakarida, yaitu senyawa gula yang menghasilkan banyak molekul monosakarida jika dihidrolisis. Pada umumnya polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih kompleks daripada mono dan oligosakarida Molekul polisakarida terdiri atas banyak molekul monosakarida. Polisakarida yang terdiri atas satu macam monosakarida saja disebut homopolisakarida, sedangkan yang mengandung senyawa lain disebut heteropolisakarida. Umumnya polisakarida berupa senyawa berwarna putih dan tidak berbentuk kristal, tidak mempunyai rasa manis dan tidak mempunyai sifat mereduksi. Berat molekul polisakarida bervariasi dari beberapa ribu hingga lebih dari satu juta. Polisakarida yang dapat larut dalam air akan membentuk larutan koloid. Beberapa polisakarida yang penting di antaranya ialah amilum, glikogen, dekstrin dan selulosa. Amilum Polisakarida ini terdapat banyak di alam, yaitu pada sebagian besar tumbuhan. Amilum atau dalam bahasa sehari-hari disebut pati terdapat pada umbi, daun, batang dan biji-bijian. Polisakarida memenuhi tiga maksud dalam sistem kehidupan sebagai bahan bangunan, makanan dan zat spesifik. Polisakarida bahan bangunan misalnya selulosa dan kitin. Polisakarida makanan yang lazim adalah pati dan glikogen. Sedangkan polisakarida zat spesifik adalah heparin, satu polisakarida yang mencegah koagulasi darah. Dalam praktikum ini kami akan membahas mengenai salah satu jenis polisakarida, yaitu pati.

Pati diperoleh dari berbagai jenis tumbuhan yang mengandung unsur

karbohidrat. Pati adalah karbohidrat yang berbentuk polisakarida dengan rumus umum (C6H12O6) yang berupa polimer satuan glukosa yang saling berkaitan melalui ikatan 1-4 alfa glukosoi. Didalam terdapat amilose dengan rantai lurus, dan amilopektin yang rantainya bercabang. Apabila pati ditetesi larutan iodium akan timbul warna biru yang disebabkan oleh amilose yang menyerpa iodium. Pati ditemukan dalam biji umbi dan tangkai tanaman ( jagung, kentang, beras, gandum dll).

    Pati tidak larut dalam air dingin tetapi larut dalam air panas. Molekul pati akan menyerap air sehingga mengelembung dan pecah membentuk larutan yneg agak keruh seperti lem.

    Bila di hidrolisis, dengan perlakuan asam atau dengan penggunaan enzim menghasilkan dekstrin dari senyawa-senyawa kompleks yang bermacam-macam., maltosa dan hasil akhirnya berupa glukosa. Pada hidrolisis pati, air akan menyerang 1-4 α glukosida pati membentuk dekstrin atau glukosa tegantung pada derajad pemecahan rantai polissakarida. Gambar Struktur
α - D – glukosa hasil hidrolisis dapat dilihat pada gambar 6.1. Reaksi hidrolisis dapat diselesaikan dengan persamaan :

    

    (C6H1005)n + nH2O n C6H12O6


 


 


 

Gambar 6.1

                    (http://one.indoskrpsi.com)

    Dan berlangsung sangat lambat. Untuk itu perlu ditambahkan katalisator yang dapat mempercepat reaksi berupa asam atau enzim. Asam yang dapat digunakan adalah asam klorida, sulfat atau asam nitrat. Jika hidrolisis dilakukan dengan bantuan asam, hasil reaksi harus dinetralkan dahulu dengan bantuan basa untuk menghilangkan sifat asamnya. Oleh sebab itu pemilihan jenis asam perlu dipertimbangkan dari jenis bahan baku yang dihidrolisis dan pemanfaatan hasil.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu hidrolisis patin adalah waktu reaksi, suhu, dan katalisator. Waktu reaksi yang semakin panjang menyebabkan pati yang terhirolisis makin meningkat, tetapi jika hidrosisis berlangsung terlalu lama hasil yang diperoleh menurun dan warnannya semakin gelap. Suhu reaksi sangat mempengaruhi hasil dan pengaruh suhu terhadap konstanta kecepatan reaksi mengukikuti persamaan Arrhenius :

    k = A exp ( E / RT ) ..............Persamaan 6.1

    dengan :

    k = konstanta kecepatan reaksi

    A = faktor frekuensi

    E = tenaga pengaktif

    R = tetapan gas umum, 1,987 cal/gmol K

    T = Suhu absolut, K

    

    Suhu yang semakin meningkat akan meningkatkan zat-zat yang akna bereaksi, hingga tenaga pengakstif yang diperlukan berkurang dan pada sushu yang konstan reaksi akan berjalan lebih cepat. Namun demikian, apabila katalisator yang ditambahkan terlalu banyak, hasil akan terganggu. Oleh karena itu untuk meperoleh haisl hidrolisis yang sebaik-baiknya, kedaan proses yaitu waktu, suhu, jumlah dan konsentrasi katalisator yang dipilih relatif baik (keadaan optimal).

    Sifat lain yang dimiliki pati adalh tidak mereduksi larutan fehling, namun bereaksi dengan asam membentuk ester. Hal itu menunjkkan keberdaan kelompok hidroksil didalamnya. Sifat yang lain adalah pati jika dicampur dengan iodine akan membentuk warna biru. Pemanasan pati dengan air akan memisahkan dua komponen utama pati, yaitu amilosa dan amilopekatin 89-90%. (Wulung. R. Bagus Seno. 2008)

1.3 Alat dan Bahan


 


 

 


 

1.4 Prosedur Kerja


 


  1.  


     


     


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab II

Praktikum


 

2.1 Data Hasil Percobaan

Hasil pengamatan ditunjukkan pada tabel 6.2

Tabel 6.2

No 

Acara 

Alat 

Bahan 

Pengamatan 

Hidrolisis karbohidrat 

  • Kompor listrik
  • Pendingn balik
  • Labu rebus
  • Tepung maizena 4 gr
  • HCl 2 N 200 ml 

Sebelum dipanaskan larutan berwarna putih keruh, dan setalh dipanaskan larutan ,menjadi berwarna coklat keruh dan pada waktu suhu larutan normal, terbentuk endapan hitam pada dasar labu rebus.

II 

Analisia Larutan Glukosa Murni 

  • Buret
  • Statif dan klem
  • Erlenmyer
  • Fehling A 5 ml
  • Fehling B 5 ml
  • Larutan Glukosa Murni
  • Indikator MB
  • Larutan Fehling A + B dipanaskan lalu dititrasi dengan glukosa murni menjadi berwarna bening dan terdapat endapan bata merah.
  • Kemudian ditetesi indikator MB menjadi biru kembali, dan dititrasi dengan glukosa murni menjadi bening kembali dan terbentuk endapan berwarna merah bata.
  • Volume Glukosa murni yang digunakan dalam titrasi adalah 9,1 ml

III 

Analisis Larutan Hasil Hidrolisis 

  • Buret
  • Statif
  • Erlenmeyer
  • Corong
  • Kertas saring
  • Larutan hasil hidrolsisis
  • Fehling A
  • Fehling B
  • Indikator MB
  • Larutan hasil hidrolisis yang sudah disaring kemudian dinetralakan pada ph 7
  • Kemudian digunakan untuk menitrasi Fehling A dan B hingga warna larutan titratnya menjadi berwarna bening.
  • Selanjutnya ditambahkan indikator MB sehingga berwarna biru, kemudian dititrasi lagi hingga larutan titrat menjadi bening dan terbentuk endapan berwarna merah bata.
  • Volume cuplikan hasil hidrolisis yang digunakan untuk titrasi adalah 25,7 ml


 


 


 


 


 


 


 


 

2.2 Perhitungan


 


 


 


 

m1 = m2 = 91 mg


 


 

mp = mb x ..........Persamaan 6.5

     mp = 0,885 x

     = 0,796 gr

     = 79,6 %


 

2.3 Pembahasan


 

a. Hidrolisis Karbohidrat

Pada tahap ini pati dihidrolisis dengaan cara dipanaskan dengan larutan asam HCl yang berfungsi sebagai katalis atau pemecah rantai-rantai polisakaraida menjadi monosakarida. Dalam Hidrolisis pati ini tidak digunakan air sebagai pelarut atau katalis karena pada reaksi hidrolisis dengan air berlangsung sangat lambat, air akan menyerang 1-4 a glukosida pati membentuk dekstrin atau glukosa tegantung pada derajad pemecahan rantai polissakarida. Reaksi hidrolisis dapat diselesaikan dengan persamaan :

    (C6H1005)n + nH2O n C6H12O6

oleh karena itu digunakan asam klorida yang menjadi katalis dalam larutan ini. Katalis merupakan larutan untuk memecah rantai senyawa yang tidak ikut bereaksi dalam larutan tersebut.

    Larutan sampel jagung yang dihidrolisis mulanya berwarna putih keruh, dan berwujud suspensi yang menandakan masih berwujud polisakarida, selanjutnya melalui hidrolisis larutan tersebut berangsur-angsur berubah menjadi berwarna kuning keruh, yang kemudian membentuk koloid yang menandakan larutan polisakarida telah memecah menjadi monosakarida yaitu dalam wujud glukosa. Adapun tahapan pemecahan polisakarida, hingga pembentukan glukosa dari pati yang dihirolisis ditunjukkan pada gambar 6.2


 


 


 

Gambar 6.2

(Tarigan, DR. Ponis. 1983)

Adapun bentuk struktur dari monosakarida yag terbentuk adalah seperti gambar 6.3


 

Gambar 6.3

                    (http://one.indoskrpsi.com)


 


 

Tahap ini merupakan tahap penentuan kadar glukosa murni yang digunakan sebagai pembanding, antara larutan cuplikan yang dianalisa dengan larutan glukosa murni. Pada tahap ini digunakan larutan Fehling A + Fehling B sebagai titrat dan larutan glukosa sebagai titran. Reaksi ini dilangsungkan dalam suasana basa lemah. Larutan fehling digunakan dalam titrasi ini dikarenakan larutan ini sangat peka terhadap monosakarida, dan tidak selektif. Pada reaksi ini terbentuk endapan bata merah, yang menandakan bahwa terjadi reaksi positif dari fehling dan glukosa. Hal yang menyebabkan dihasilkannya endapan merah bata ini karena ini berasal dari Fehling yang memiliki ion Cu++ direduksi menjadi ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan menjadi endapan berwarna merah bata (Cu2O). Penambahan indikator MB dilakukan untuk menguji apakah larutan tersebut sudah benar- benar netral atau asam.

Volume glukosa yang digunakan untuk titrasi adalah 9,1 ml. dari volume hasil titrasi ini digunakan untuk menentukan berat glukosa murni. Setelah perhitungan didapatkan hasil berat glukosa murni yaitu sebesar 91 mg. berat glukosa murni ini akan digunakan sebagai pembanding berat glukosa pada sampel cuplikan.


 

Larutan hasil hidrolisis merupakan larutan hasil pemecahan polisakarida sampel jagung yang sekarang berbentuk monosakarida. Larutan tersebut disaring yang bertujuan untuk menyaring kotoran, sehingga tidak mengganggu hasil analisis.

Larutan tersebut masih bersifat asam akibat penambahan asam klorida sebagai katalis, oleh karena itu perlu dinetralkan dengan larutan NaOH hingga ph larutan menjadi netral yaitu 7.

Larutan yang telah netral tersebut digunakan sebagai titrsn untuk menitrasi larutan Fehling A + Fehling B. Pada titik akhir titrasi larutan titrat mejadi berwarna bening dan timbul endapan berwarna merah bata, yang menandakan glukosa atau monosakarida yang terkandung dalanm sampel titran telah bereaksi sempurna dengan larutan Fehling. Hal ini dikarenakan pati atau polisakarida dari sampel jagung telah memecah menjadi monosakarida, sehingga dapat bereaksi positif dengan fehling, yang ditandai dengan terbentuknya endapan bata merah. Alasan digunankannya fehling setelah hidrolisis pati, karena apabila sampel tersebut masih dalam wujud polisakarida, maka tidak akan dapat bereaksi secara sempurna. Pati bukan gula pereduks yang tidak mempunyai gugus aldehid dan keton bebas, sehingga tidak terjadi oksidasi antara amilum + larutan Fehling, maka tidak terbentuk endapan dan larutan tetap berwarna biru setelah dipanaskan. Fehling mereduksi glukosa hasil hidrolisis menjadi karboksilat. Selanjutnya untuk mengetahui apakah larutan titrat fehling tersebut telah berada dalam suasana netral atau belum, maka digunakan indikator MB. Apabila masih biru, maka larutan tersebut perlu dititrasi kemblai hingga berwarna bening dan terbentuk endapan merah bata kembali. Endapan merah bata ini merupakan garam-garaman hasil reaksi antara Fehling dan monosakarida yang terkandung pada sampel. Volume cuplikan sampel yang digunakan adalah 25,7 ml. Dengan berdasarkan volume haisl titrasi ini, digunakan untuk menentukan kadar pati dari bahan yang di analisa. Berdasarkan perhitungan didapatkan hasil kadar pati dari sampel jagung yang dianalisa yaitu sebesar 79,6 %. Kadar pati yang terkandung pada jagung tergolong cukup besar sehingga wajar apabila sebagian masyarakat di indonesia ataupun di luar neger mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokok, mengingat kandungan patinya hampir sama besarnya dengan kandungan pati pada nasi, maupun gandum.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Bab III

Penutup


 

3.1 Kesimpulan

Dari serangkaian hasil pengamatan yang dilakukan, maka kami mengambil kesimpulan sebgai berikut:


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

    
 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

PRAKTIKUM VII

ACARA

Minyak Atsiri


 


 


 


 


 

BAB I

Pendahuluan


 


 

1.2 Dasar Teori

Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi. Minyak atsiri ini umumnya mempunyai fungsi tertentu dalam tanaman. Umumnya diperoleh dalam bagian bunga, daun, akar, buah, dan kulit batang. Minyak ini memiliki ciri-ciri:

  • Berbau spesifik,
  • Rasa getir,
  • Mudah menguap pada suhu kamar tanapa dekomposisi bahan,
  • Umumnya larut dalam pelarut organik tetapi tidak larut dlam air.

Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai minyak atsiri.

Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda.

Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil.

Minyak atsiri dapat dipisahkan dari jaringan anaman melalui proses destilasi. Pada proses ini jaringan tanaman dipanasi dengan solvent. Minyak atsiri akan menguap dari jaringan bersama solventnya yang terbentuk atau bersama uap solvent yang dilewatkan pada bahan. Campuran uap solvent dan minyak atsiri dikondensasikan pada suatu saluran yang suhunya relatif rendah. Hasil kondensasi berupa campuran solvent dan minyak atsiri yang sangat mudah dipisahkan karena kedua bahan tidak dapat saling dilarutkan. (http://id.wikipedia.org/wiki/MinyakAtsiri)


 

                        

1.3 Alat dan Bahan

Alat

  • Pemanas mantel
  • Shoklet
  • Labu rebus
  • Pedingin balik
  • Pipet volum
  • Gelas arloji
  • Neraca analitik
  • Oven
  • Kurs porselen
  • Kapas
  • Kertas saring


 


 


 

Bahan

  1. Bunga cengkeh yang telah dihaluskan 9 gr
  2. Larutan n-hexana 150 ml


 

1.4 Prosedur Kerja

  • Menimbang sebanyak 9 gram bunga cengkeh kering, dan menghaluskannya. Remas-remas bunga cengkeh tersebut untuk memperluas bidang kontak dengan pelarut yang kemudian membungkus sampel bunga cengkeh tersebut dengan kertas saring.
  • Memasukkan n-hexane sebanyak 1,5 sirkulasi kedalam labu godog, dan kemudian merangkai alat ekstarksi.
  • Menghidupkan aliran air pendingin dan kmeudin menghidupkan pemanas mantel
  • Melakukan proses sirkulasi sebanyak 20 kali sirkulasi
  • Apabila operasi ekstraksi telah selesai, bungkusan bunga cengkeh yang diekstraksi diambil
  • Kembalikan rangkaian alat seperti semula dan dilanjutkan operasi distilasi untuk memisahkan minyak atsiri hasil dan pelarutnya
  • Minyak atsiri bebas pelarut ditimbang beratnya auntuk menentukan minyak atsiri yang diperoleh.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB II

Praktikum


 

2.1 Data Hasil Pengamatan

Adapun hasil pengamatan Ekstraksi minyak atsiri dapat dilihat pada tabel 7.1

Tabel 7.1

No 

Acara 

Alat 

Bahan 

Pengamatan 

Ekstraksi bunga cengkeh sokhlet 

  • Pemanas mantel
  • Shoklet
  • Labu rebus
  • Pedingin balik 
  • Bunga cengkeh yang telah dihaluskan 9 gr
  • Larutan n-hexana 150 ml
  • Kertas saring
  • Kapas
  • Warna larutan n-hexana yang dimasukkan kedalam labu rebus sebelum ekstraksi berwarna bening
  • Pada saat proses ekstraksi berlangsung mula-mula uap air yang jatuh dalam sokhlet yang berisi bunga cengkeh berwarna kuning karena banyak menyerap minyak atsiri dari bunga cengkeh
  • Setelah dilakukan 20 kali sirkulasi, maka pemanasan dihentikan 

II 

Destilasi larutan hasil ekstraksi bunga cengkeh 

  • Pemanas mantel
  • Shoklet
  • Labu rebus
  • Pedingin balik 
  1. Larutan hasil ekstraksi bunga cengkeh
  • Larutan hasil ekstraksi diatas kemudian didestilasi untuk memisahkan antara minyak atsiri dengan pelarut
  • Hasilnya : Ekstrak minyak atsiri dalam jumlah yang amat sedikit, oleh karenanya ditambah n-hexana untuk lebih melarutkannya. 

III 

Penimbangan Ekstak minyak Atsiri

  • Kurs porselen
  • Oven
  • Neraca analitk
  • Penjepit kurs 

Minyak atsiri hasil destilasi 

  • Ekstrak minyak atsiri dipindahkan dalam kurs porsele yang telah dipanaskan dan doketahui berat kosengnya, yaitu 33,86
  • Minyak atsiri hasil destilasi dimasukka kedalam oven yang bersuhu rendah, sesuai dengan suhu n-hexana untuk mudah menguap selama 5 menit kemudian ditimbang dan apabila belum ditemukan berat tetapnya, maka proses ni terus dilakukan, hingga ditemukan berat tetapnya.
  • Berat minyak atsiri + Kurs porselen akhir adalah 35,3078.


 

2.2 Perhitungan

        Berat kurs porselen kosong = 33,867 gr

    Berat Kurs Porselen + Minyak atsiri    = 35,3078

    Berat minyak atsiri = 35,3078 - 33,867 = 1,4391 gr

    Berat sampel bunga cengkih kering = 1,4391


 

    % Kandungan minyak atsiri =    x 100 % ....Persamaan 7.1

         =    

         =    15,99 %

2.3 Pembahasan

    Tahapan proses pembuatan minyak atsiri ini dimulai dari proses pengekstraksian, dimana pada proses ini minyak atsiri dilarutkan dan dipanaskan menggunakan pelarut organik, yaitu n-hexana dengan menggunakan labu rebus, yang diatasnya dipasang shoklet yang berisi sampel, dan diatas shoklet terdapat pendingin balik. Adapun tujuan penggunaan alat ini adalah agar sampel minyak atsiri dapat terekstrkasi secara sempurna. Prinsip ekstraksi ini adalah:

  1. Sampel yang berisi cengkeh dibungkus dengan kertas saring agar ampasnya tidak menggangu ekstraksi, dan kemudian dimasukkan kedalam sokhlet. Alasan penggunaan sokhlet dalam ektraksi ini agar minyak aisiri dalam sampel dapat terekstraksi sempurna, sebab apabila hanya dipansakan dengan pelarut saja, tanpa menggunakan sokhlet yang diatasnya dipasang pendingin balik, maka kemungkinan masih banyak minyak stsiri yang masih terkandung dalam sampel, karena suatu pelarut memiliki titik jenuh dimana apabila pelarut tersebut sudah mencapa titik jenuh tertentu maka tidak dapat melarutka lagi secara maksimal.

    n-heksana yang dipanaskan, dan kemudian menguap melewati pendingin balik dan mengembun di pendingin balik sehingga sokhlet dipenuhi solvet, dan apabila mencapai puncak sokhlet, maka solvent akan turun kembali kedalam labu rebus. N-heksana yang berada dalam sokhlet lebih jerni dibanding n-heksana yang berada dalam labu rebus, sebab n-heksana yang berada dalam labu rebus meruapakn campurnanya dengan minyak atsiri, sedangkan yang berada dalam sokhlet merupakan hasil destilasi menggunakan pendingin balik.

  2. Dibawah sokhlet diisi solvent atau pelarut, yaitu pelarut organik yang bersifat non polar, yang dalam praktikum ini kami menggunakan n-heksana yang bersifat non polar, sebab apabila kami menggunakan pelarut polar seperti air maka dikhawatirkan minyak atsiri tidak bisa larut sempurna, dikarenakan minyak cengkeh merupakan senyawa organik yang bersifat non polar juga. Sebenarnya penggunaan solvent tergantung dari jenis bahan yang digunakan, apabila bahan yang digunakan besifat polar, maka pelarutnya harus bersifat polar juga, contoh pelarut polar adalah : air, alkohol, dsb. Sedangkan apabila bahannya jenis non polar maka harus digunakan solvent atau pelarut non polar juga. Selain itu solvent yang digunakan dalam praktikum ini memiliki titik didih yang lebih rendah dari minyak atsiri, sebab agar mudah dalam pemisahan antara solvent dan minyak atsiri pada proses distilasi nanti, sehingga yang terlebih dahulu terdestilasi adalah solventnya bukan minyak atsirinya.
  3. Diatas sokhlet dipasang pendingin balik yang berfungsi untuk mendinginkan uap larutan solvent yang melewati pipa pendingin, sehingga mengembun dalam pipa sebelum uapnya keluar ke udara dan dapat masuk kedalam sokhlet yang berisi sampel.

Setelah sampel terekstraksi sempurna, maka proses selanjutnya adalah proses pendestilasian, dimana minyak atsiri dipisahkan dari solventnya, sehingga nantinya minyak atsiri sampel yang dianalisis kadarnya merupakan minyak atsiri murni. Adapun cara mendestilasikannya menggunakan pendingin balik, yang dibawahnya terdapat sokhlet sebagai penampung solvent yang mengembun nantinya. Setelah solvent yang berada dalam labu rebus hampir habis, sisa solvent yang mengandung minyak atsiri tersebut dipindahkan ke dalam kurs porselen yang telah ditimbang berat kosongnya, kemudian kurs porselen tersebut diuapkan didalam oven, setelah beberapa saat kurs porsele tersebut dikeluarkan dan ditimbang beratnya. Apabila beratnya belum stabil, maka kurs porselen tersebut perlu diuapkan lagi, hingga apabila ditimbang kurs porselen tersebut memiliki berat yang stabil (tidak berubah-ubah).

Berat kurs porselen kosong adalah 33,867 gr sedangkan berat kurs porselen yang berisi minyak atsiri adalah 35,307 gr. Berarti berat minyak atsiri yang terkandung dalam sampel adalah sebesar 1,4391. Berat ini merupakan 15,99 % dari berat sampel yaitu 9 gr. Sehingga dari percobaan ini diketahui bahwa kandungan minyak atsiri yan terkandung dalam bunga cengkeh sampel adalah 15,99 %.


 

Kandungan Minyak Atsiri Cengkeh

Dalam cengkeh mengandung kira-kira 10-20 % minyak atsiri hal ini tergantung pada:

  • Jenis
  • Umur
  • Tempat tumbuh tanaman cengkeh

Komponen minyak daun cengkeh dapat dibagi menjadi dua kelompok :

  • Kelompok pertama adalah senyawa fenolat dengan eugenol sebagai komponen terbesar.
  • Kelompok kedua adalah senyawa non fenolat yaitu
    • β-kariofeilen,
    • α-kubeben,
    • α-kopaen,
    • humulen,
    • δ-kadien, dan
    • kadina 1,3,5 trien
    • β-kariofeilen

Eugenol yang terkandung dalam cengkeh, yaitu sekitar 70-90 %. Eugenol adalah merupakan cairan tak berwarna atau kuning pucat, bila kena cahaya matahari berubah menjadi coklat hitam yang berbau spesifik, dapat larut dalam alkohol, eter dan kloroform. Mempunyai rumus molekul C10H1202. Bobot molekulnya adalah 164,20 dan titik didih 250 -255°C. Eugenol mempunyai flavor atau yang kuat dengan rasa yang sangat pedas dan panas.

Adapun fungsi dari minyak cengkeh/ eugenol adalah :

  • anastetik yaitu biasanya digunakan dokter gigi untuk menghilangkan rasa sakit pada pasiennya, yaitu untuk menenangkan saraf gigi,
  • menghilangkan bau nafas yang tak sedap.


 

(http://www.unri.ac.id/jurnal/jurnal_natur/vol6(2)/Khairat.pdf.)


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III

Penutup


 

  1. Kesimpulan


 

Dari hasil serangkaian praktikum yang kami lakukan, maka kami mendapat kesimpulan sebagai berikut:

  • Bunga cengkeh sampel mengandung 15,99% minyak atsiri
  • Minyak atsiri yang terdapat pada cengkeh memiliki ciri-ciri:
    • Berwarna kuning bening,
    • berbau spesifik,
    • pedas
    • panas apabila terkena kulit
    • dapat larut dalam pelarut non polar
  • Kandungan terbesar dalam minyak atsiri cengkeh adalah eugenol.
  • Minyak atsiri pada cengkeh dapat dimanfaatkan untuk:


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

DAFTAR PUSTAKA


 


 


 

Fesseden J. Ralp dan Joan.2001. Dasar-Dasar Kimia Organik . Jakarta: Binarupa Aksara.

Hart, Craine, 2003, "Kimia Organik", Erlangga: Jakarta

Wulung, R.B Seno.2008.Petunjuk Praktikum Kimia Organik.Akademi Teknologi Kulit: Yogyakarta

Ir. Darjanto,dkk. 1988. Himpunan Bahan Kuliah Ilmu Kimia Organik. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman

Rr. Wirastuti. dkk . 2006. "Laporan praktikum Evaluasi gizi dalam pengolahan (egdp): Pengaruh pengolahan terhadap kecernaan atau digestibilitas protein". Yogyakarta: UGM

Tarigan, DR. Ponis. 1983. Kimia Organik Bahan Makanan. Bandung: Alumni.

Majalah Marketing. 2008: Jakarta


 


 

DAFTAR ALAMAT WEB


 

http://www.chem-is-try.org (situs web kimia Indonesia)

http://www.syabanisyah.wordpress.com

http://www. poultryindonesia.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Protein

http://id.wikipedia.org/wiki/MinyakAtsiri

http://library.usu.ac.id/modules.php

http://www.unri.ac.id/jurnal/jurnal_natur/vol6(2)/Khairat.pdf.

http://one.indoskrpsi.com


 


 


 


 

3 komentar:

  1. waaah, mba dika..
    makasih banyak yaa...
    laporan nya ngebantu aku banget!
    love u full lah.. hehehe.
    thx u thx u so much! x)

    BalasHapus
  2. Salut u dika,,semuanya tersimpan dengan rapi...andai wkt kuliah saya dulu, laporan praktikumnya di buku gak tersimpan rapi di blog kayak gini...klo mo liat lagi jadi malas bongkar2 lemari...bukunya pun dah lecek2...saluuut!!!thanks ya sudah mengingatkan kembali....informasinya bermanfaat:)

    BalasHapus
  3. Makasi ya Kak.. Saya jadi bisa ngerjain tugas Kimia Organik yg bikin kepala pusing. :)

    BalasHapus