Rabu, 29 April 2009

SUMBER DAYA ALAM EKOLOGI

SUMBER DAYA ALAM


 

    Sumber daya alam, seperti hutan, perairan dan tambang, adalah Rahmat Tuhan Semesta Alam yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya, bukan saja untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Oleh karena itu, sumber daya alam ini harus dikelola dengan baik dan tepat agar manfaat dan hasilnya dapat diperoleh secara maksimal dan lestari.

    Kegiatan pembangunan pada umumnya menyangkut pendayagunaan sumber daya alam. Sumber daya ini beserta lingkungannya merupakan kesatuan sistem ekologis atau sistem yang mempunyai manfaat langsung dan tak langsung bagi manusia. Dalam ekosistem sumber daya alam ini manusia merupakan konsumen dan berperan aktif dalam proses produksi dan pengelolaan.

    Pendayagunaan suatu sumber daya alam oleh manusia, dengan eksploitasi, menimbulkan perubahan dalam ekosistem sehingga mempengaruhi pula sumber daya lain beserta lingkungannya yang akibatnya akan dirasakan pula oleh manusia.

    Perubahan dan gangguan terhadap sumber daya alam dan lingkungannya sedikit banyak menimbulkan masalah lingkungan hidup. Masalah lingkungan hidup ini ada yang langsung mempengaruhi kesejahteraan masyarakat, seperti merusak kesehatan (polusi, keracunan), merusak usaha (erosi dan banjir yang merusak tanaman pertanian), menimbulkan keresahan sosial ( pemindahan penduduk karena ada proyek) dan akibat-akibat lain yang merusak kualitas lingkungan hidup. Ada pula yang tak langsung dirasakan, yaitu kerusakan pada ekosistem alam, berupa merosotnya produktivitas dan diversivitas jenis, serta akselerasi proses erosi yang disebabkan oleh eksploitasi.

    Masalah lingkungan hidup yang pengaruhnya langsung itu, karena tampak jelas dan dapat dirasakan oleh masyarakat, tentu saja lebih banyak mendapat perhatian. Tetapi sesungguhnya masalah yang tidak langsung itu, dalam jangka panjang akan lebih mengkhawatirkan, karena ibarat penyakit yang kronis, simptomnya tidak jelas sampai akhirnya sudah terlambat untuk diobati. Oleh karena itu, masalah lingkungan hidup berupa menurunya kualitas lingkungan hidup dan menurunnya produktivitas dan diversivitas sumber daya alam harus mendapatkan perhatian yang sama. Maka kebijaksanaan pendayagunaan sumber daya alam dalam program pembangunan harus bersifat menyeluruh (integral).

    Pengalaman telah membuktikan bahwa usaha-usaha pengelolaan yang dilakukan secara terpisah oleh masing-masing sektor, tanpa landasan pendekatan interdisiplin atau integrasi seringkali menyebabkan bentrokan kepentingan antara satu sektor dengan sektor lain, misalnya antara sektor kehutanan dengan sektor pertanian, atau antara sektor kehutanan dengan sektor peternakan. Dengan berlandaskan pendekatan interdisiplin atau integrasi dalam tata guna tanah dan perencanaan wilayah, bentrokan kepentingan dapat dihindarkan.

    Jelaslah kiranya bahwa untuk mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya diperlukan pemikiran yang luas, metode yang tepat dan organisasi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang kuat. Pertimbangan ekonomis dan ekologis harus berimbang, karena pengelola harus mengusahakan tercapainya kesejahteraan masyarakat dengan mempertahankan sumber daya alam dan lingkungan.

    Untuk mencegah tumbukan kepentingan antara sektor-sektor yang memanfaatkan sumber daya alam perlu dicari pendekatan interdisipliner atau pengintegrasian dalam perencanaan pengelolaan, khususnya integrasi tataguna tanah dan perencanaan wilayah. Kegiatan pengelolaan sumber daya alam itu mencakup inventarisasi, perencanaan, pelaksanaan pengelolaan dan pengawasan.

    Sumber daya alam beserta lingkungannya merupakan suatu ekosistem yang kompleks, oleh karena itu diperlukan metode inventarisasi dan perencanaan serta organisasi pelaksanaan dan pengawasan yang bersifat interdisiplin dan terintegrasi, dengan tujuan untuk menyerasikan usaha-usaha pengelolaan sumber daya alam.

    Sumber daya alam merupakan sumber daya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Berkurangnya ketersediaan sumberdaya tersebut akan berdampak sangat besar bagi kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini. Sumber daya alam tidak hanya mencukupi kebutuhan manusia, tetapi juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa. Pengelolaan sumber daya alam yang baik akan meningkatkan kesejahteraan manusia, sebaliknya pengelolaan yang tidak baik akan berdampak buruk bagi umat manusia. Sumber daya alam merupakan salah satu faktor produksi nasional yang cenderung menurun kualitas dan kuantitasnya dari waktu ke waktu. Dari sisi kuantitas, jumlah sumber daya alam cenderung menurun, hal ini terlibat dari isu-isu semakin menurunnya cadangan sumber daya alam akibat adanya eksploitasi untuk pembangunan. Sedangkan dari sisi kualitas juga mengalami penurunan, hal ini terlihat semakin banyaknya polusi akibat proses produksi maupun konsumsi yang mencemari lingkungan.

    Pembangunan di satu sisi mempunyai kepentingan untuk meningkatkan produksi nasional, yang cenderung menguras sumber daya alam dan cenderung merusak lingkungan dengan mencemari alam melalui polusi akibat adanya proses produksi. Sementara di sisi lain, sumber daya alam mempunyai kepentigan untuk menjaga cadangan sumber daya alam dan kualitas lingkungan.

    Pembangunan dalam suatu negara tidak akan berjalan secara berkesinambungan apabila sumber daya alam mengalami penurunan yang pesat. Untuk menjaga kesinambungan pembangunan dalam suatu negara perlu upaya yang bersifat mengintegrasikan kepentingan produksi nasional di satu sisi dan kepentingan produksi nasional di satu sisi dan kepentingan sumber daya alam di sisi lain, agar terjadi pembangunan yang berkelanjutan.


 

Faktor Budaya Penduduk

    Faktor budaya atau pola hidup manusia akan memberikan permasalahan terhadap tersedianya sumberdaya alam dan kerusakan lingkungan melalui aspek pola konsumsi dan cara pandang terhadap sumber daya alam.

    Dalam perkembangan kebudayaan manusia menunjukkan bahwa kebutuhan manusia cenderung mengalami penambahan seiring dengan perkembangan budaya, kebutuhan manusia tidak sekedar memenuhi kebutuhan hidup sacara hayati atau memenuhi kebutuhan untuk hidup (makan, minum, tempat tinggal atau disebut kebutuhan prime). Selain kebutuhan hidup (kebutuhan primer), manusia juga butuh kebutuhan sekunder (pakaian, kendaraan, pedidikan dll) dan kebutuhan tersier ( kebebasan menentukan pilihan, kebutuhan untuk dihargai dll).

    Dengan kebutuhan tersier ini manusia dapat mengubah pola hidupnya, termasuk pola konsumsinya. Misalnya manusia tidak sekedar makan untuk keperluan secara hayati, melainkan dengan suatu pilihan menurut seleranya yang senantiasa berubah dan meningkat. Meningkatnya pola konsumsi masyarakat seiring dengan perkembangan budaya, sementara itu sumber daya alam yang tersedia terbatas, akan mendorong tingginya harga sumber daya alam dan pengurasan sumberdaya alam demi kebutuhan dan keuntungan. Perubahan pola konsumsi akan meningkatkan polusi yang berakibat pada pencemaran lingkungan, dengan demikian pola konsumsi atau pola kebutuhan yang senantiasa berubah dan meningkat sacara tidak langsung akan menurunkan kualitas hidup manusia itu sendiri.

    Perkembangan peradaban dan budaya manusia, berdampak pada semakin meningkatnya kebutuhan primer, sekunder, tersier, yang harus dipenuhi. Akibatnya rasio sumberdaya alam akan semakin kecil bila dibandingkan dengan kebutuhan manusia, sehingga mengakibatkan kualitas hidup manusia semakin menuun, karena alam semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan manusia yang semakin besar.

    Untuk mengatasi masalah menurunya kualitas hidup manusia dilakukan dengan cara menekan pertumbuhan populasi, mengendalikan tingkat konsumsi pada batas yang tidak berlebihan, terutama pada barang-barang yang merupakan kebutuhan pokok, yang hanya untuk kemewahan dan kehormatan. Kedua upaya tersebut akan berdampak pada mengecilnya populasi manusia dan kebutuhannya (primer, sekunder, tersier).


 

Kaitan antara Penduduk dengan Sumber daya Alam

    Sumber daya alam agar dapat diproduksi harus dikombinasikan dengan modal, tenaga kerja dan teknologi. Setelah sumber daya alam, modal, tenaga kerja dan teknologi (factor produksi) dikombinasikan maka proses produksi akan menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Semakin banyak barang dan jasa yang diproduksi akan semakin tinggi derajat kesejahteraan manusia. Tetepi di sisi lain, peningkatan kegiatan produksi akan menghasilkan polusi yang makin banyak, yang pada saatnya akan menyebabkan pencemaran lingkungan yang berdampak negative pada manusia.

    Bila permintaan barang dan jasa meningkat maka proses produksi juga akan semakin meningkat. Permintaan barang dan jasa akan meningkat bila ada peningkatan daya beli dan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Penduduk dapat meningkatkan daya beli karena mengalami peningkatan pendapatan melalui kesempatan kerja yang ditawarkan oleh adanya peningkatan proses produksi (industrialisasi).


 

Kelangkaan Sumberdaya Alam

    Isu kelangkaan sumber daya alam mulai sering terdengar setelah terjadinya proses industrialisasi. Ada dua pemikiran terhadap isu kelangkaan tersebut, yaitu kelompok pesimis dan kelompok optimis. Dari pemikiran yang bertolak belakang tersebut perlu adanya pengukuran kelangkaan sumberdaya alam, yaitu pengukuran secara fisik dan secara ekonomi.


 

Rusaknya Lingkungan

    Lingkungan merupakan daya dukung alam dalam proses pembuatan sumber daya. Dengan demikian rusaknya lingkungan akan menjadi factor penghambat terhadap proses tersedianya sumberdaya alam yang pada saatnya akan berpengaruh juga terhadap kelangkaan sumber daya alam. Isu tentang kelangkaan sumber daya alam akibat rusaknya lingkungan biasanya lebih banyak terjadi pada sumberdaya alam yang dapat diperbarui seperti sumber daya air, ikan, hutan, dan lain-lain. Semakin rendah persediaan sumber daya alam tersebut disebabkan oleh semakin rendahnya kualitas lingkungan akibat dari meningkatnya pencemaran atau limbah, baik dari industri maupun rumah tangga. Selain itu, memburuknya lingkungan juga sebagai akibat dari kemiskinan yang berkelanjutan dan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan.


 


 


 


 


 

Lingkungan Hidup

Ekosistem dan Lingkungan Hidup

    Lingkungan hidup alam atau ekosistem terdiri atas lingkungan hidup fisik dan lingkungan hidup hayati. Dalam pengertian, lingkungan hidup alami ini juga terdapat manusia sebagai bagian dari lingkungan hidup hayati.

    Pengertian lingkungan hidup menurut Soemarwoto adalah sebagai ruang yang ditempati suatu makhluk hidup secara besama-saa dengan benda hidup dan tak hidup lainnya yang ada didalamnya. Atau dengan kata lain linkgungan hidup adalah system yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan ditinjau dari segi jenis, dapat dibedakan menjadi tiga yakni:

  1. Lingkungan fisik (physical environment), yaitu: segala sesuatu yang ada di sekitar kita yang berwujud benda tak hidup.
  2. Lingkungan biologi (biological environment), yaitu: segala sesuatu yang ada di sekitar kita berwujud makhluk hidup.
  3. Lingkungan social (social environment), yaitu: manusia di sekitar kita.

Manusia merupakan penentu dalam pengelolaan lingkungan, karena faktor-faktor yang lain sangat tergantung pada factor manusianya, dengan kepeduliannya manusia mampu menyelamatkan alam. Berkembangnya manusia pada dominasi dalam ekosistem disertai dengan kemampuannya untuk mengubah lingkungan.

Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan adalah ciri hubungan antara berbagai unsur lingkungan hidup dalam kerangka system hubungan yang berbentuk secara alamiah. Sistem hubungan inilah yang disebut system ekologi, atau lebih dikenal dengan ekosistem.

    Ekosistem sebenarnya merupakan konsep dasar dalam ekologi yang menunjukkan hubungan timbal balik antar makhluk hidup dengan lingkungan tempat mereka hidup. Namun sebagai tatanan, ekosistem tidak lain adalah interaksi yang teratur dan terpola dianntara berbagai unsur lingkungan hidup yang terkait secara alamiah. Keteraturan interaksi inilah yang menciptakan kondisi seimbang pada suatu ekosistem.

Pada dasanya konsep ekosistem meupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi yang terdiri dari komponen biotic atau hayati dan komponen abiotik atau non hayati. apabila ekosistem dilihat dari penyusunannya maka dapat dibedakan menjadi :

  1. Bahan tak hidup (abiotik), yaitu komponen fisik dan kimia serta merupakan medium untuk berlangsungnya kehidupan.
  2. Konsumen, yaitu organisme heterotrofik, misalnya hewan dan manusia yang memakan organisme lain.
  3. Pengurai, perombak atau decomposer, yaitu organisme heterotrofik yang menguraikan bahan organic yang berasal dari organisme mati.

Konsep ekosistem, dengan demikian, tidak menempatkan unsur-unsur lingkungan hidup secara parsial, melainkan secara holistic, yakni menempatkan semua unsurnya dalam hubungan saling mendukung sekaligus saling bergantung. Di seluruh bumi kita, hubungan demikian muncul dalam bentuk gejala alam yang unik yang dikenal dengan daur makanan dan daur biogeokimia.

    Daur makanan atau yang lebih dikenal dengan rantai makanan adalah rangkaian proses makan-memakan oleh makhluk hidup yang satu terhadap yang laian, baik di kalangan spesies yang sama maupun pada spesies yang berbeda. Daur makanan ini merupakan syarat mutlak bagi keseimbangan ekosistem, karena sepanjang daur makanan itulah berlangsung perpindahan aliran materi dan energi. Tanpa aliran energi ini, segala bentuk kehidupan di biosfer akan terhenti. Setiap mata rantai makanan, tidak boleh kehilangan perannya baik sebagai mangsa maupun pemangsa. Setiap organisme pada dasarnya memainkan peran ganda seperti itu sesuai dengan perilaku dan tabiat alamiah masing-masing.

    Dilihat dari proses peredaran unsur-unsur kimia yang tersimpan di dalam air, tanah, atau udara dan yang tersimpan di dalam tubuh tumbuhan, hewan, tau manusia, maka daur makanan merupakan sebagian dari rangkaian perjalanan unsur-unsur kimia tersebut. Sebagian yang lain berlangsung di alam, melalui air, tanah, dan udara. Perjalanan unsur-unsur kimia melalui nakhluk hidup sebagai komponen biologis inilah yang disebut daur biogeokimia.

    Kini menjadi jelas bahwa komposisi kumpulan organisme yang hidup di suatu lingkungan hidup tidaklah tercipta secara kebetulan. Keberadaan mereka merupakan hasil akhir dari interaksi alamiah diantara sesame makhluk hidup dan antara makhluk hidup dengan benda-benda, keadaan, serta energi di sekitar mereka. Interaksi ini berlangsung secara terus menerus dalam suasana harmonis, sehingga ekosistem yang relative seimbang.

    Dalam suatu ekosistem terdapat suatu keseimbangan yang dinamakan homeostatis yaitu kemampuan ekosistem untuk menahan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Keseimbangan itu diatur oleh berbagai faktor yang sangat rumit. Dalam mekanisme keseimbangan ini, termasuk mekanisme yang mengatur penyimpanan bahan-bahan, pelepasan hara makanan, pertumbuhan organisme dan produksi, serta dekomposisi bahan-bahan organik.

    Meskipun suatu ekosistem mempunyai daya tahan yang besar skali terhadap perubahan, tetapi biasanya batas mekanisme homeostatis, dengan mudah dapat diterobos oleh kegiatan manusia. Sebagai misal sebuah sungai yang dikotori oleh pembuangan sampah yang tidak terlalu banyak, sungai dapat menjernihkan dirinya sendiri secara alami. Tetapi bila sampah yang masuk itu terlalu banyak, apalagi bila mengandung zat-zat racun, maka batas homeostatis alami sungai itu akan terlampaui sehingga sungai akan rusak secara permanent.


 

Manusia dan Lingkungan Hidup

    Berbagai kerusakan lingkungan terjadi di bumi kita, dapat disebut diantaranya menipisnya lapisan ozon, pemanasan global, pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran tanah, dan sebagainya. Kerusakan ini muncul akibat aktivitas manusia seperti pembangunan industri, perumahan, jalan, dan berbagai pembangunan fisik lainnya. Dapat dikatakan bahwa kegiatan itu pada satu sisi menguntungkan sebagian orang tetapi pada sisi yang lain merugikan banyak orang terutama mereka yang terkena dampak.

    Makin besarnya jumlah populasi manusia, makin meningkat pula kebutuhannya. Ditinjau dari segi kebutuhan, manusia tidak lagi merasa cukup dipenuhi dengan kebutuhan primer, karena muncul kebutuhan baru seperti kenikmatan, keindahan, kebanggaan dan prestise. Untuk memenuhi kebutuhan yang semakin komplek itu, manusia mengubah orientasi dan cara dalam mendayagunakan alam. Dengan daya nalarnya, manusia mendayagunakan teknologi untuk menundukkan alam, dengan alasan demi peningkatan kesejahteraan umat manusia.

    Seiring dengan proses pembangunan yang mengupayakan pertumbuhan ekonomi untuk mendukung peningkatan kesejahteraan, secara sadar dan tidak dapat menimbulkan dampak yang tidak terduga terhadap lingkungan alam maupun lingkungan social. Akibatnya terjadi pencemaran dan kemerosotan kualitas sumber daya alam serta kesenjangan social dalam peran serta dan perolehan manfaat pembangunan yang tidak merata dirasakan semua pihak. Sumber daya alam yang semestinya diperlakukan sebagai teman sejawat dalam mempertahankan fungsi ekosistem, justru diperlakukan sebagai "musuh". Gejala ini tampak dalam bentuk penaklukan alam berupa penggunaan teknologi dalam skala yang makin besar dan makin tak terkendali. Manusia tidak lagi menjadi pendukung melainkan justru menjadi perusak ekosistem. Ironisnya, kebanyakan orang bersedia memandangnya sebagai bagian dari kegiatan pembangunan. Oleh karena itu muncul paradikma atau arah baru dari pembangunan untuk meningkatkan kualitas hidup bagi seluruh rakyat melalui perubahan-perubahan yang didukung segenap unsur pelaku dan sumber daya yang diperlukan. Dalam hubungan inilah berkembang gagasan tentang pembangunan yang berkelanjutan.


 

Manusia dan Lingkungan Alam

    Hubungan mausia dengan lingkungan alam menimbulkan beberapa faham yang menjadi cirri pandang ilmiah pada masa tertentu. Sesuai dengan perkembangannya, telah terjadi perpedaan faham tentang kedudukan serta peran manusia terhadap lingkungan alamnya. Frederich Ratzel (1844-1904) mengemukakan faham bahwa manusia dengan kehidupannya yang sangat tergantung pada kondisi lingkungan alam. Perubahan ini diilhami oleh teori Darwin (1809-1882) tentang perkembangan makhluk hidup, yang dikenal dengan teori evolusi. Darwin mengemukakan bahwa makhluk hidup dalam perkembangannya mengalai perjuangan hidup dan seleksi alam dan yang terkuat akan bertahan hidup. Dalam proses tersebut factor lingkungan alam sangat menentukan. Proses tersebut tidak terkecuali bagi kehidupan manusia. Di sinilah kelihatan faham dan pandangan determinisme lingkungan alam (physical determinism).

    Tokoh lain yang berfaham determinisme adalah Elsworth Huntington (1876-1947) menyatakan bahwa faktor iklim sangat menentukan perkembangan kebudayaan manusia. Iklim di muka bumi ini bergam, akibatnya kebudayaan manusia juga beragam. Pandangan ini dapat disebut sebgai determinisme iklim (climate determinism).

    Perkembangan selanjutnya, Ellen Churchill Semple (1863-1932) menyatakan bahwa lingkungan alam tidak lagi merupakan faktor yang menentukan, melainkan sebagai factor yang dimanfaatkan manusia sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditempuh manusia. Manusia dengan kemampuan budayanya dapat memilih kegiatan yang sesuai dengan kemungkinan yang diberikan oleh lingkungan alamnya. Peranan dan kedudukan manusian terhadap lingkungan ala mini telah dipandang aktif sesuai dengan kemampuan yang dimikinya.

    Tokoh Paul Vidal de la Blache (1845-1919) menyatakan bahwa faktor yang menentukan bukanlah lingkungan alam melainkan proses produksi yang dipilih manusia yang berasal dari kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh tanah dan iklim di suatu tempat.

    Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi dasar pendorong pemanfaatan sumberdaya bagi kesejahteraan manusia. Hasil penerapan teknologi bagi kepentingan pemenuhan kebutuhan manusia, manusia harus mampu menguasai lingkungan alam bagi kepentingan hidupnya.


 

Manusia Bagian dari Alam

    Manusia dan alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah dapat mengungkapkan rahasia alam semesta ini. Tetapi seberapa jauhkan rahasia alam semesta yang telah terungkap? Mengingat alam semesta demikian luasnya. Oleh karena itu kita perlu mawas diri bila kita mengatakan kita telah menguasai alam semesta ini. Hanya Allah SWT yang berhak disebut sebagai penguasa alam.

    Ilmu pengetahuan dan teknologi manusia telah dapat menjelajah ruang angkasa, manusia telah dapat memenfaatkan tenaga nuklir bagi kesejahteraan manusia. Ada keterbatasan kemampuan manusia. Manusia merupakan sebutir debu di tengah alam semesta yang luas.

    Manusia jelas tidak mampu menguasai alam semesta ini, kemampuan manusia hanyalah memanfaatkan dan mengelola dengan penuh tanggung jawab lingkungan.


 

Perkembangan Populasi Manusia

    Dalam perkembangan bumi, manusia muncul sebagai mahkluk hidup yang paling akhir. Perkembangan atas persebaran manusia di muka bumi selain dipengaruhi oleh lingkungan alam juga dipengaruhi oleh faktor manusianya. Khususnya perkembangan dan pertumbuhan ini dipengaruhi oleh kemampuan budaya manusia itu sendiri.

    Perkembangan perbedaan umat manusia yang berpengaruh terhadap perkembangan penduduk di muka bumi ini dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu :

  1. zaman ketika umat manusia menggunakan teknologi yang sangat sederhana dalam mengatasi masalah kehidupannya sehubungan dengan pengaruh lingkungan alam.
  2. zaman ketika manusia mengembangkan teknologi cocok tanam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan
  3. zaman ketika manusia mulai mengembangkan industri.

    Pada peradaban manusia pertama, ketika manusia hanya meramu kebutuhannya, berupa berburu, menangkap ikan dan mengumpulkan hasil hutan, pertumbuhan penduduk bumi saat ini sangat rendah akibat tingkat kematian yang tinggi, karena kelaparan, wabah penyakit dan peperangan antar kelompok manusia.

Pada peradapan manusia ketika manusia mengembangkan teknologi cocok tanam, pertumbuhan penduduk mulai meningkat. Manusia mulai mampu menyediakan bahan pangan yang menjadi dasar kemakmurannya. Bercocok tanam sederhana dan penggembalaan sangat menopang kesejahteraan serta perkembangan penduduk saat ini.

    Peradaban manusia yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan penduduk, ketika manusia mulai mengembangkan industri. Disamping pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, juga terjadi migrasi ke daerah-daerah yang memberikan sumber kehidupan. Revolusi industri di bidang pertanian, pengolahan, perpabrikan dan lain-lain, membawa dampak yang luas terhadap mobilitas penduduk, baik horizontal maupun vertikal.

Pertumbuhan, perkembangan dan persebaran penduduk dunia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya, telah membawa dampak positif dan negatif terhadap lingkungan hidupnya. Dampak positif dialami manusia sebagai peningkatan kemakmuran serta kesejahteraan pada umumnya dari pengolahan dan pemanfaatan sumberdaya lingkungan, sedangkan dampak negatif berupa perusakan lingkungan, seperti erosi. kekeringan, pencemaran, dan sebagainya. Masalah pencemaran itulah yang wajib mendapat perhatian bersama yang mungkin akan menimpa kehidupan umat manusia bila kita sendiri tidak melakukan usanya menanggulanginya. Kemampuan lingkungan ada batasnya, meskipun kita belum mengetahui secara pasti batas daya dukung lingkungan tehadap perkembangan populasi manusia. Di sinilah fungsi ilmu pengetahuan dan teknologi bagi usahan menghindarkan terjadi ketimpangan ekologi yang fatal terhadap kehidupan manusia.


 

Peranan Manusia dalam Lingkungan

    Di bumi ini jumlah ekosistem yang belum dipengaruhi manusia hanya tinggal sedikit saja, malahan cukup banyak ekosistem yang dibuat oleh manusia. Manusia memang makhluk paling penting dalam biosfer ini. Peranan manusia dalam lingkungan secara ekologi yaitu :

  1. Manusia sebagai makhluk yang dominan secara ekologis.

    Dominan secar ekologis maksudnya manusia dapat berkompetisi secara lebih baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terutama dalam hal makanan bila dibandingkan dengan makhluk lain dalam ekosistem, dan manusia mampu memberikan pengaruh yang besar terhadap lingkungan tempat hidupnya, atau terhadap organisme yang lain.

    1. Manusia sebagai makhluk pembuat alat.

    Bila dibandingkan dengan hewan besar lainnya, manusia tidak dapat bergerak cepat, pancaindera penciuman dan pendengan kurang berkembang, kulit pelindung tidak punya. Kekurangan-kekurangan ini diatasi dengan membuat alat Bantu.

    1. Manusia sebagai makhluk perampok

    Sapi, kerbau, kambing, gajah dan lain-lainnya makanannya hanya tumbuh-tumbuhan (herbivore), harimau, singa, serigala dan lain-lainnya makanannya hanya daging saja (karnivora), sedangkan manusia makan tumbuhan dan hewan, sehingga menghabiskan makanan makhluk lainnya. Oleh karena itu manusia dimasukkan dalam golongan Omnivora.

    1. Manusia sebagai penyebab evolusi

      Anggrek yang tadinya merupakan tanaman hutan tanpa disiram dan dipupuk tetap akan berbungan bila waktu berbunga tiba, tetapi setelah anggrek ditanam di halaman rumah bila tidak disiram dan dipupuk tidak mau berbunga lagi. Hal ini berarti terjadi perubahan dalam kehidupan anggrek.

      1. Manusia sebagai makhluk pengotor

      Hewan buang kotoran dapat hancur secara alami, tumbuhan gugur daunnya akan hancur secara alami, tetapi buangan manusia ada yang dapat hancur secara alami (sisa makanan, tinja) dan ada yang tidak hancur secara alami. Dengan demikian berarti manusia merupakan satu-satunya makhluk yang mengotori ekosistem ini.


       

Daya Dukung Lingkungan

Populasi manusia terus berkembang, bahkan pada suatu saat terjadi pertumbuhan penduduk sangat luar biasa yang disebut ledakan penduduk. Mengingat luas permukaan bumi yang merupakan ekosistem kehidupan manusia itu luasnya tetap, sedangkan pertumbuhan penduduk terus melaju, maka akan terjadi pembenturan antara pertumbuhan populasi manusia dengan daya dukung lingkungan.

    Daya dukung lingkungan adalah ukuran kemempuan suatu lingkungan mendukung sejumlah populasi jenis tertentu untuk dapat hidup dalam lingkungan tersebut. Dalam hal ini lingkungan dapat berupa sebidang tanah, suatu wilayah geografis atau suatu ekosistem tertentu. Populasi jenis tertentu dalam hal ini dapat manusia, hewan maupun tumbuhan.

    Manusia sangat bervariasi dan daya dukung lingkungan juga bervariasi. Daya dukung lingkunga tidak mutlak, melainkan berkembang sesuai dengan factor yang mempengaruhinya. Lingkungan yang berada memiliki daya dukung yang berbeda, sedangkan suatu lingkungan daya dukungnya dapat berkembang sesuai dengan factor serta sumberdaya yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut antara lain iklim, cuaca, kesuburan tanah, erosi, perilaku manusia dan lain-lainnya.

    Dengan memperhatikan kemampuan lingkungan mendukung populasi di atasnya, kita dapat menghitung kemampuan maksimum lingkungan tersebut. Dengan demikian akan dapat diperhitungkan kepadatan populasi yang dapat didukung oleh lingkungan yang berkesangkutan, sehingga populasi tersebut dapat hidup dengan wajar. Apabila terjadi kelebihan populasi akan terjadi ketimpangan ekologi. Apabila terjadi kelebihan populasi atau kepadatannya melebihi kepadatan yang mampu didukung, kita katakan lingkungan tersebut telah sampai kepada batasnya.

    Sehubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai manusia, maka manusia dapat meningkatkan daya dukung lingkungan, sehingga sampai kepada batas kemampuannya. Semua ini menuntut perhatian kita.

    Ketimpangan lingkungan dalam bentuk kekeringan, tanah longsor, erosi, pencemaran, merupakan ungkapan keterbatasan daya dukung lingkungan, sebagai akibat perilaku manusia yang tidak selaras dengan daya dukung lingkungan yang bersangkutan. Perluasan pemukiman, perladangan, kawasan industri bila tidak didukung oleh kemampuan lingkungan, akan menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

    Manusia merupakan makhluk yang dikaruniai kemampuan budaya yang melebihi makhluk lainnya. Dengan kemampuan budaya itu, manusia telah mampu mengubah muka bumi seperti yang kita saksikan saat ini. Padahal manusia merupakan makhluk yang keberadaannya di muka bumi paling akhir. Dengan kemampuan manusia memanfaatkan lingkungan, manusia dapat memenuhi kebutuhannya. Kemampuan manusia bervariasi, maka pemanfaatan sumber daya alam juga bervariasi. Pemanfaatan sumber daya alam tersebut juga dibatasi oleh kemampuan budaya manusia. Kelompok manusia yang tingkat budayanya telah tinggi, melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya, telah dapat merealisasikan sumberdaya alam bagi kesejahteraan hidupnya. Kebalikannya, kelompok manusia yang kemampuan budayanya masih terbatas, sumber daya alam yang ada tidak dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidupnya. Hutan lebat, sungai lebar dan deras, air terjun dan lainnya dipandang sebagai penghalang dan penghambat dari pada dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidupnya.

    Daya dukung lingkungan bersifat relatif dan lingkungan memiliki keterbatasan. Bila pemanfaatan dan populasi yang dapat didukung oleh lingkungan tersebut telah melewati batas kemampuan, akan terjadi berbagai bentuk ketimpangan. Ketimpangan-ketimpangan tersebut menjadi masalah yang akan menimpa kehidupan makhluk di muka bumi, khususnya manusia.

    Muka bumi dengan segala sumberdayanya memiliki kondisi yang sangat bervariasi. Oleh karena itu, daya dukung lingkungan hidup populasi manusia juga sangat berbeda-beda. Suatu lingkungan yang curam sangat kecil kemampuannya untuk menampung populasi manusia. Bila jumlah populasi dengan kepadatannya dipaksakan melebihi daya dukung lingkungan tersebut dapat menyebabkan terjadinya erosi dan tanah longsor.

    Tanah yang kering memliki kemampuan mendukung populasi dan aktivitas manusia sesuai dengan kondisinya. Bila populasi dan kegiatan di atasnya melebihi daya dukungnya, maka akan terjadi ketimpangan lingkungan berupa kekeringan dan erosi. Kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperhitungkan berapa daya dukung maksimum lingkungan dan tanah kering tersebut mendukung populasi secara wajar. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan ungkapan budaya manusia, ternyata telah mampu merekayasa gurun menjadi tanah pertanian yang produktif.

    Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam perekayasaan pertanian berupa pemupukan ( kimiawi dan organik ), pengolahan tanah yang lebih baik ( mekanik ), pemilihan bibit unggul ( hayati ), perbaikan pengairan melalui organisasi dan kelembagaan ( sosial ), semua ini merupakan bukti kemampuan budaya manusia mengembangkan daya dukung lingkungan tanah pertanian.

    Penerapan teknologi bagi manusia selain dampak positif juga negatif. Penerapan tersebut merupakan tekanan terhadap lingkungan. Eksploitasi hutan, sungai, laut dan lainnya yang di luar daya kemampuan lingkungan yang bersangkutan, merupakan tekanan yang mengubah keseimbangan sehingga menimbulkan masalah lingkungan. Penggunaan mesin-mesin berat untuk menebas hutan, sehingga dalam waktu yang singkat hutan tersebut menjadi gundul. Akibatnya, keseimbangan di lingkungan hutan tersebut terancam sehingga menimbulkan erosi dan banjir.


 

Ketimpangan Ekologi dan Lingkungan

    Manusia yang memiliki kemampuan rekayasa, memiliki kecenderungan tertentu dalam mempertahankan kelestarian hidupnya. Tindakan, perilaku dan perbuatan manusia itu secara positif mampu mengembangkan daya dukung lingkungan, tetapi di lain pihak perbuatannya itu berkecenderungan mengganggu keseimbangan. Salah satu kecenderungan tersebut adalah sifat menyederhanakan komposisi komponen-komponen ekosistem dengan membuat ekosistem buatan.

    Bersama dengan pertumbuhan dan pertambahan populasi manusia, tumbuh pula kebutuhannya. Kebutuhan ini tidak hanya terbatas kepada kebutuhan fisik material yang sifatnya sangat mendasar, melainkan juga kebutuhan akan perlindungan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan harus diimbangi oleh alat pemuasnya. Untuk mencari dan mengadakan alat pemuas tadi, manusia sebagai makhluk budaya dapat mengembangkan budayanya dalam memanfaatkan lingkungan alam. Di sinilah manusia mulai campur tangan dalam memanfaatkan ekosistem alamiah menuju ekosistem budaya.

    Dalam memanfaatkan sumberdaya alam dengan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia berkecenderungan menyederhanakan ekosistem alamiah. Tentu saja hal ini didasarkan azas ekonomi yang menguntungkan pihak manusia. Hutan alam yang heterogen diubah menjadi hutan tanaman industri yang homogen. Sungai yang berliku-liku dibuat menjadi lurus. Sungai yang berjeram dipanggal untuk bendungan. Rawa yang kaya akan komunitas biotik ditimbun atau diurug untuk pemukiman, jalan dan prasarana lainnya.

    Ekosistem alamiah yang memiliki keanekaragaman komponen dan komunitas biologisnya, ada pada suatu keseimbangan yang telah berlangsung ratusan sampai ribuan tahun. Oleh tangan manusia, keanekaragaman tersebut disederhanakan, paling tidak ada beberapa komponen atau unsur yang dikeluarkan dari ekosistem tersebut. Bila unsur atau komponen tersebut masih dapat disubstitusikan oleh unsur atau komponen yang lain, ekosistem dengan daya lentingnya dapat memulihkan kembali komposisinya sehingga tetap ada dalam keseimbangan. Bila perubahan akibat tangan manusia tersebut terlalu besar dan mendadak, dapat menyebabkan terjadinya kegoncangan sehingga ketimpangan ekologi. Meluasnya suatu jenis serangga atau ulat atau hewan pengganggu lainnya yang kita sebut sebagai hama, merupakan bukti adanya ketimpangan ekologi sebagai akibat musnahnya atau setidaknya berkurangnya hewan atau tumbuhan pengontrol hama tersebut. Terjadinya kekeringan atau setidaknya kekurangan air di suatu tempat yang sebelum adanya campur tangan manusia tidak pernah terjadi, dapat diakibatkan oleh ketimpangan ekologi di tempat tersebut. Penebangan pohon-pohon tertentu bernilai ekonomis pada suatu tempat, padahal pohon tersebut memiliki fungsi menarik uap air dan menyimpan air yang jatuh, berarti siklus selama ini berlangsung secara ilmiah. Itulah ketimpangan ekologi yang menyebabkan terjadinya kekurangan air.


 

Azas Dasar Ilmu Lingkungan

    Ilmu lingkungan yang sudah berkembang dan menghasilkan teori serta model harus didasari oleh azas yang kuat dan kokoh. Azas adalah penyeragaman secara umum yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk menguraikan gejala dan situasi yang lebih khusus.

    Azas dasar yang berkaitan dengan kehidupan manusia sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah :

  1. Semua energi yang memasuki jasad hidup, populasi atau ekosistem dianggap sebagai energi tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah bentuknya tetapi tidak hilang atau tidak hancur. Azas sering disebut dengan Hukum Kekekalan Energi. Contohnya energi matahari diserap oleh tumbuhan, diubah menjadi energi kimia dan melalui proses fotosintesa membentuk energi yang tersimpan dan telah atau dapat diubah dalam bentuk lain, tetapi tidak hilang dari alam semesta.
  2. Tidak aa sistem pengubahan energi yang betul-betul efisien. Meskipun energi tidak pernah hilang dari alam, tetapi terus diubah ke dalam bentuk yang kurang bermanfaat atau tidak seluruh energi digunakan dalam proses. Contohnya, panas yang keluar dari tubuh organisme dalam suatu kegiatan, sperti lari, terbuang percuma.
  3. Materi, energi, ruang, keanekaragaman dan waktu, semuanya termasuk sumberdaya alam. Tubuh organisme dibangun oleh materi dan hidupnya bergantung pada energi. Ruang atau letak jasad hidup dari sumber makanan sangat menentukan perkembangan populasi jasad hidup tersebut. Perkembangan jasad hidup perlu waktu. Keanekaragaman jasad hidup akan menimbulkan dinamika. Contohnya pada musim kemarau persediaan air di gurun bagi hewan mamalia berkurang. Berhasil atau tidak mereka pindah ke tempat sumber air dari tempat semula bergantung tersedianya energi dan waktu untuk menempuh jarak tersebut. Jenis dan keanekaragaman sumber makanan juga merupakan sumberdaya alam yang berharga. Makin banyak ragamnya makanan yang dimakan oleh hewan akan makin aman hewan tersebut dari kelaparan.
  4. Apabila pengadaan sumberdaya alam sudah mencapai optimum, maka penambahan jumlah justu akan mengurangi jumlah keuntungannya. Setelah mencapai batas maksimum maka penambahan jumlah justru tidak memberi keuntungan, kecuali keanekaragaman dan waktu, pengadaan semua sumberdaya alam akan berpengaruh merusak bila telah melampaui batas maksimum, bahkan menimbulkan kesan keracunan. Azas ini disebut azas penjenuhan. Pemanfaatan sumberdaya alam yang sudah jauh melewati batas maksimum kan menyebabkan penghancuran sumberdaya alam itu sendiri. Pemanfaatan sumberdaya alam mempunyai batas optimum, berarti naik turunnya jumlah individu dalam populasi dipengaruhi oleh pengadaan sumberdaya alam.
  5. Terdapat dua sumberdaya alam, yaitu sumberdaya alam yang pengadaannya merangsang pemanfaatannya dan sumberdaya lam yang tidak merangsang pemanfaatannya. Contohnya pengadaan beras akan meningkatkan konsumsi manusia dalam jangka waktu tertentu, sedangkan peningkatan produksi ubi kayu tidak meningkatkan konsumsi tersebut.
  6. Organisme yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan dapat mengalahkan saingannya. Mahluk hidup mempunyai sifat untuk menyesuaikan diri tau adaptasi terhadap lingkungannya. Sifat tersebut merupakan sifat keturunan yang dimiliki oleh masing-masing organisme. Organisme yang mempunyai tingkat menyesuaikan diri lebih besar akan lebih luwes atau daya elastisitasnya akan lebih tinggi, akan lebih besar kemungkinan kelangsungan hidupnya. Kemampuan suatu organisme dalam bersaing yang besar akan mendesak jenis yang lain bahkan dapat memusnahkan jenis organisme yang kemampuan bersaingnya rendah. Mahluk hidup mempunyai tiga cara adaptasi, yaitu proses fisiologis (kekkebalan tubuh terhadap serangan organisme pengganggu), proses morfologis (perubahan bentuk atau bagian tubuh orgaisme) dan perilaku atau kebiasaan liengkungannya. Contohnya manusia tahan terhadap muntaber walaupun setiap harinya mandi di kali (proses fisiologis), akar padi tanah kering bentuknya berbeda dengan bentuk akar padi di sawah (proses morfologis) dan manusia yang hidup di kota akan mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan kebiasaan manusia yang hidup di desa (proses perilaku).
  7. Keanekaragaman suatu komunitas semakin mantap dalam lingkungan yang keteraturan tatanannya makin tinggi. Lingkungan yang stabil secara fisik merupakan sebuah lingkungan yang terdiri dari banyak spesies. Semua spesies melaksanakan penyesuaian (secara evolusi) menuju ke tingkat keadaan lingkungan yang optimum. Keanekaragaman spesies suatu ekosistem lazimnya ditandai oleh keseimbangan ekologi, stabilitas yang tinggi dan keteraturan tatanan. Keanekaragaman spesies yang tinggi hanya akan terdapat dalam ekosistem yang sudah stabil pada masa yang lama.
  8. Kejenuhan suatu habitat oleh keanekaragaman individu tergantung pada cara individu memisahkan habitatnya tersebut. Setiap spesies mempunyai nicia, keadaan lingkungan yang spesifik, maka msing-masing spesies mempunyai keperluan dan fungsi ytang berbeda di alam sehingga dapat hidup berdampingan satu sama lain tanpa persaingan. Spesies-spesies yang berasal dari satu nenek moyang berkembang biak terus dan membentuk spesies baru. Sejalan dengan perkembangan dalam perjalanan evolusinya, maka akan terbentuk habitat masing-masing dalam lingkungannya. Seandainya suatu tempat terdapat sekelompok spesies dengan kebiasaan serupa, toleransinya terhadap lingkungan bermacam-macam dan luas, maka berarti lingkungan tersebut ditempati oleh spesies yang keanekaragamannya kecil.
  9. Keanekaragaman komunitas manapun sebanding dengan rasio antara biomassa dan produktivitas atau efisiensi penggunaan energi akan meningkat dengan makin kompleknya komunitas.
  10. Dalam perjalanan waktu (evolusi) perbandingan antara biomassa dan produktivitas pada lingkungan yang stabil akan naik. Apabila suatu sistem mengandung aliran energi melalui materi itu sebesar produktivitas maksimum, sedangkan keanekaragaman dan biomassa masih dapat meningkat dalam perjalanan waktu, maka juml;ah energi yang tersimpan dalam sistem biologi itu dapat digun akan untuk mendukung biomassa yang lebih besar melalui kompleksitas organisnya. Peristiwa trersebut merupakan proses maksimalisasi penggunaan energi dalam perjalanan evolusi organisme hidup (ekosistem). Penerapan azas ini senyatanya adalah apabila suatu masyarakat manusia berkembang makin maju, setiap keseluruhan ada penurunan harga energi per unit produk nasional kotor per kapita naik dengan capat, sehingga terdapat peningkatan pengeluaran energi per orang.
  11. Sistem yang sudah mantap (dewasa) akan mengeksploitasi atau menguasai sistem yang belum mantap. Artinya ekosistem, populasi atau tingkat makanan yang sudah dewasa memindahkan energi, biomassa, dan keanekaragaman tingkat organisasi ke arah yang belum dewasa. Contohnya di daerah pasang surut hama tikus, beruk dan serangga hutan (sistem yang stabil dan beranekaragam) menyerang tanaman para transmigran sebagai daerah rawan yang belum mantap dan tidak beragam. Di sini terjadi aliran energi dari daerah pasang surut ke hutan rwa dan petani berusaha keras melawan tantangan alam.
  12. Kesempuranaan adaptasi suatu sifat atau tabiat tergantung kepentingan realtif sesuai keadaan suatu lingkungan. Si dalam sebuah ekosistem yang sudah stabil, habitat yang sudah mantap, sifat responsif terhadap fluktuasi faktor alam yang tidak terduga ternyata tidak diperlukan. Di sini yang berkembang adaptasi dari perilaku dan biokimia lingkungan sosial dan biologi habitat itu. Implikasi yang penting, bahwa strategi evolusi di dunia ini tidak ada yang baik dan mandiri, tetapi tergantung pada keadaan lingkungan fisik. Populasi dalam ekosistem yang belum mantap kurang bereaksi terhadap perubahan lingkungan fisikokimia dibanding yang sudah mantap. Populasi dalam lingkungan yang telah lama kemantapannya tidak perlu berevolusi untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi. Namun, perubahan yang drastis dalam ekosistem akan berakibat fatal, sebab secara genetika populasi tersebut kaku terhadap lingkungannya.
  13. Lingkungan fisik yang stabil memungkinkan keanekaragaman dalam ekosistem mantap dan kemudian menggalakkan stabilitas populasi yang lebih tinggi lagi. Kemantapan atau kestabilan, keanekaragaman populasi dan spesies suatu komunitas adalah hasil jalinan keseimbangan alam yang berlangsung dalam perjalanan masa yang lama sekali. Perombakan secara mendadak dan drastis yang menimpa ekosistem menyebabkan berbagai kerusakan dan terancam kemusnahan.
  14. Derajad pada keteraturan naik turunnya populasi tergantung jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya mempengaruhi populasi itu. Azas ini kebalikan dengan azas di atas, kalau tidak ada keanekaragaman tinggi pada rantai makanan dalam ekosistem yang belum mantap menimbulkan derajad ketidakstabilan populasi menjadi tinggi. Bila terjadi interaksi sejumlah kecil spesies satu sama lain, sehingga terjadi perpanjangan waktu, maka kemungkinan akan terjadi perubahan perilaku.


 

Kebudayaan dan Lingkungan

    Berkelanjutannya pembangunan, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan biofisik semata, melainkan pula oleh faktor sosial-budaya (Soemarwoto, 1991). Oleh karena itu, usaha pembangunan yang telah menyebabkan pencemaran lingkungan dan merosotnya kemampuan sumberdaya alam, perlu diimbangi dengan semakin timbulnya kesadaran manusia sebagai bagian dari ekosistem.

     Dalam upaya membangun, selalu ada kecenderungan keinginan manusia untuk mengubah lingkungan, sementara itu perubahan suatu lingkungan akan mempengaruhi kehidupan manusia, baik itu menguntungkan atau sebaliknya. Dalam kenyataannya, adakalanya perubahan lingkungan melampaui skala perencanaan, dan sebagai akibatnya terjadi suatu efek lingkungan yang sebelumnya tidak diperkirakan. Masyarakat bukan hanya sebagai obyek semata melainkan juga sebagai subyek yang berperan aktif dalam pembangunan, sementara upaya pembanguan juga harus selalu memperhatikan kondisi sosial-ekonomi warga masyarakat.

    Sebagai kon sekuensi dari pendekatan yang menyatakan bahwa segala perubahan yang terjadi berasal dari manusia muncul dua pandangan dalam melihat unsur manusia dalam konteks perubahan lingkungan. Pertama, pendekatan yang bersifat manipulatif yakni pendekatan yang melihat manusia sebagai obyek dalam pengelolaan lingkungan, dan jika perlu dapat bersifat memaksa. Kedua, pendekatan yang berlandaskan pada potensi manusia guna mengembangkan pemecahan dan pengelolaan suatu lingkungan.

    Pendekatan yang menekankan pentingnya unsur manusia dalam pengelolaan suatu lingkungan, memeiliki asar argumentasi, dan sekaligus konsekuensi yang berbeda. Pada pendekatan pertama, terkandung konsep "rekayasa sosial", dalam hal ini suatu pengelolaan lingkungan dipandang sebagai upaya mengelola segala kegiatan manusia agar dapat mencapai batas toleransi lingkungan. Kelemahan dari pendekatan ini bersifat dari atas ke bawah sehingga kurang memeberikan peluang kreativitas kepada warga masyarakat.

    Kreativitas warga masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan lingkungan dimungkinkan dapat dilakukan melalui cara pendekatan yang ke dua. Dalam konteks tersebut, kreativitas dalam pengelolaan dan pengembangan lingkungan yang berasal dari warga masyarakat, lebih dipandang sebagai suatu proses belajar. Dengan kata lain, melalui pendekatan ini berbagai kepentingan yang berasal dari "atas" dan "bawah" dapat dipertemukan melalui suatu proses belajar.

    Pendekatan ke dua ini memungkinkan untuk menggali dan menghidupkan kembali nilai budaya masyarakat yang sejak lam ada dalam sistem pengelolaan lingkungan hidup mereka.


 

Pembangunan Berkelanjutan

    Untuk dapat mencapai pembangunan berkelanjutan haruslah pembangunan yang bersifat anti-lingkungan hidup diganti dengan pembangunan ramah lingkungan, baik lingkungan hidup fisik maupun lingkungan hidup sosial-budaya. Ramah terhadap lingkungan hidup mempunyai makna bahwa kita "tidak menyakiti" lingkungan hidup dan peranan ekologinya dalam proses pembangunan kita.

    Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh menjamah lingkungan hidup. Lingkungan hidup itu diubah dari kondisi yang mendukung kehidupan kita pada tingkat kesejahteraan yang rendah menjadi lingkungan hidup yang mendukung kehidupan kita pada tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Jadi pembangunan bukanlah melestarikan lingkungan hidup pada kondisi yang ada, melainkan mengubahnya menjadi lebih baik bagi kita. Pandangan ini memang bersifat antroposentris, yakni pandangan yang berpusat pada kepentingan manusia. Namun antroposentrisme ini diletakkan dalam konteks ekosistem tempat kita hidup.

    Pembangunan adalah rekadaya untuk meningkatkan kualitas hidup dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya pendukungnya, melalui perubahan tatanan lingkungan hidup serta kehidupan secara keseluruhan. Pembangunan berkelanjutan menurut komisi dunia untuk lingkungan dan pembangunan Worls Commsion Environmental and Development (WCED) adalah pembangunan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

    Konsep pembangunan berkelanjutan menempatkan pembangunan dalam perspektif jangka panjang (a longer trerm perpective). Konsep tersebut menuntut adanya solidaritas antar generasi. Dalam konteks Indonesia, pembangunan berkelanjutan ditujukan untuk mengurangi kemiskinan dan juga mengeliminasi kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan secara implisit juga mengandung anti memaksimalkan keuntungan pembangunan dengan tetap menjaga kualitas sumberdaya alam. Dengan kata lain, pembangunan berkelanjutan mempersyaratkan melarutnya lingkungan dalam pembangunan. Pembangunan berkelanjutan pada dasarnya merupakan sebuah strategi pembangunan yang menjanjikan perbaikan mutu hidup manusia sekaligus melestarikan lingkungan hidup dan keragaman seluruh penghuninya saat ini dan yang akan datang.

    Kita hendaknya tidak lagi mengira bahwa pelestarian sumberdaya dan pembangunan adalah dua hal yang bertentangan, sebaliknya mulai menanamkan keyakinan bahwa antara keduanya terjalin hubungan yang tak terpisahkan.

    Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia masih banyak yang hidup pada tingkat kemiskinan, maka pembangunan ekonomi mutlak diperlukan, guna mencapai kualitas hidup yang sepadan. Bagaimanapun juga pembangunan hauslah menyentuh kepentingan manusia dan didasarkan pada pelestarian sumberdaya alam.

    Pembanguna berkelanjutan / berwawasan lingkungan merupakan upaya sadar dan berencana dalam menggunakan dan mengelola sumberdaya alam secara bijaksana dan berkesinambungan untuk meningkatkan kualitas hidup.


 

Faktor-faktor lingkungan yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan/berwawasan lingkungan

1. Terpeliharanya proses ekologi yang esensial, seperti :

  1. Proses fotosintesis, merupakan proses esensial untuk menjaga kelangsungan hidup di bumi karena menghasilkan oksigen dan ozon.
  2. Pengendalian populasi, menjaga keseimbangan yang dinamis antara tingkat populasi dan daya dukung alam.
  3. Kemampuan memperbarui diri (sesudah mengalami gangguan). Kemampuan memperbarui diri dari sumberdaya alam yang bersifat dapat diperbarui (udara, air, tanah) ada batasnya. Jadi dibutuhkan suatu kebijaksanaan dalam pemanfaatan.

2. Tersedianya sumber daya yang cukup. Pembangunan pada dasarnya adalah usaha untuk meningkatkan manfaat yang didapat dari sumber daya. Kenaikan azaa manfaat ini dapat dilakukan dengan :

a. Menggunakan sumberdaya alam lebih banyak.

b.    Meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya alam, tanpa meningkatkan jumlah sumberdaya alam yang digunakan (misalnya melalui daur ulang). Peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya alam baik yang dapat diperbarui maupun yang tidak dapat diperbarui, sangat penting karena :

  1. Bagi sumberdaya alam yang dapat diperbarui, meningkatnya eksploitasi akan meningkatkan resiko kerusakan sumberdaya alam. Kerusakan ini dapat mengakibatkan sumberdaya alam itu menjadi tidak terperbarui. Sedangkan untuk sumberdaya alam yang tidak terbarui, meningkatnya intensitas eksploitasi akan memercepat penyusutan sumberdaya alam tersebut.
  2. Penggunaan sumberdaya alam dengan kualitas yang semakin besar akan meningkatkan pencemaran. Secara umum, pencemaran akan mengurangi kemampuan lingkungan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dibutuhkan usaha daur ulang yang mempunyai efek mengurangi resiko pencemaran dan penyusutan sumberdaya alam.
  3. Mencari sumberdaya alam alternatif untuk menjamin persediaan sumberdaya alam dalam jangka panjang. Hal ini hanya mungkin bila terdapat keanekaragaman.

c. Lingkungan sosial, budaya dan ekonomi yang cukup. Karena pembangunan dilakukan oleh dan untuk manusia yang hidup di dalam kondisi sosial, budaya dan ekonomi tertentu, maka lingkungan tersebut sangat penting bagi kesinambungan pembangunan yang berkelanjutan.

Lingkungan sosial, budaya dan ekonomi yang sesuai dapat tercipta dengan :

  1. Pendidikan dan latihan bagi penduduk setempat, yang merupakan bagian terpadu dalam setiap proyek pembangunan.
  2. Perencanaan proyek harus mencakup aspek pembangunan proyek sebagai sarana pembangunan daerah tersebut.
  3. Evaluasi proyek seharusnya tidak hanya cukup aspek nasional melainkan juga aspek lokal.


 

Dimensi Konsep Pembangunan Berwawasan Lingkungan/Berkelanjutan

    Konsep pembangunan berwawasan lingkungan/berkelanjutan memiliki dua dimensi, yaitu :

a. Dimensi Tekno-Ekologis

  1. Setiap kegiatan pembangunan haruslah ditempatkan pada lokasi yang sesuai (konsep tata ruang). Kebijakan ini tidak hanya menyangkut peningkatan efisiensi pemanfaatan sumberdaya alam dan jaminan kelajuannya agar tidak melampaui kemampuyan sumberdaya alam tersebut untuk memperbarui diri, tetapi juga menjamin kepastian dan kelaikan bagi investor yang ingin menanamkan modal di daerah tersebut.
  2. Mekanisme pengendalian dan pemanfaatan sumberdaya alam. Pada penggalian sumberdaya alam yang dapat diperbarui harus ada jaminan bahwa kelanjutannya tidak melampaui kemampuan sumberdaya alam yang tak terbarui, pelaksanaan harus dilakukan secermat dan seefisien mungkin.
  3. Pengelolaan limbah yang akan dibuang harus diolah terslebih dahulu agar kuantitasnya tidak melampaui kapasitas similasi dari ekosistem (kemampuan ekosistem untuk menerima limbah samapai pada taraf tidak membahayakan lingkungan kehidupan manusia).

b. Dimensi Sosio-Ekonomis

Prioritas kegiatan/kebijakan dan program pembangunan seyogyanya memenuhi kebutuhan pokok dan meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Pada masa revolusi industri, filsafat ekonomi yang dianut menyatakan bahwa pembangunan pada dasarnya hanya berkaitan dengan biaya produksi, tanpa mengkaitkannya dengan pengaruh lingkungan dan biaya sosial. Pembangunan pada saat itu merupakan pembangunan dengan falsafah faedah jangka pendek. Dalam pembangunan berwawasan lingkungan, komponen biaya terhadap resiko rusaknya lingkungan harus dimasukkan dalam proses pengambilan keputusan. Jadi tidak menunggu sampai terjadinya pencemaran, karena pembangunan. Untuk itu dibutuhkan pemeliharaan lingkungan sosial (dimana pembangunan itu akan dilaksanakan) yang mencukupi :

  1. Pertumbuhan ekonomi, menyangkut nilai tambah sebagai akibat adanya pembangunan.
  2. Pemerataan pendapatan, dengan membuka lapangan kerja yang lebih luas.
  3. Perbaikan alokasi sumberdaya alam, untuk meningkatkan kualitas hidup.

    Sustainebelitas telah menjadi isu penting dalam pembangunan ekonomi dunia karena masyarakat dunia telah menyadari bahwa eksploitasi sumberdaya alam dapat mengakibatkan degradasi lingkungan. Semakin meningkatnya kasus dan masalah lingkungan baik di negara maju amupun negara seang berkembang, memberikan andil utama bagi munculnya gagasan pembangunan berkelanjutan atau berwawasan lingkungan.

    Dalam beberapa hal, eksploitasi sumberdaya yang tidak terkontrol bukan hanya dapat mengakibatkan kelangkaan sumberdaya tetapi juga dapat mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan. Oleh karena pembangunan ekonomi harus mengarah ke pembangunan yang berwawasan lingkungan atau pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).

    Dalam konsep dasar pembangunan berkelanjutan mempunyai dua aspek penting yang menjadi perhatian utama, yaitu lingkungan dan pembangunan. Oleh karena itu, pembangunan berwawasan lingkungan berarti pembangunan yang baik dari titik pandang lingkungan. Berwawasan lingkungan berarti adanya keharmonisan dalam hubungan manusia dan alam atau leih spesifik lagi antara masyarakat dan lingkungan fisiknya. Kedua aspek tersebut harus berjalan secara harmonis dan terpadu, dan memperoleh perhatian yang sama dalam kebijaksanaan pembangunan.

     Konsep dasar pembanguna berkelanjutan bertolak dari ide bahwa sumberdaya alam terbatas persediaannya dalam memenuhi kebutuhan manusia yang cenderung tidak terbatas, sehingga perlu dilestarikan dan dipelihara supaya dapat dimanfaatkan baik untuk generasi saat ini dan generasi yang akan datang. Pembangunan berwawasan ligkungan adalah konsep pembangunan yang ingin menyelaraskan antara aktivitas ekonomi dengan ketersediaan sumber daya alam.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar